Minggu, 20 Januari 2013

Puisi


Aku Ingin Mencintainya

Allah, aku takut jika jatuh cinta
Aku malu setiap menoleh pada asaku
Tak sepatutnya aku jatuh cinta
Aku takut,
Cintanya membutakan cintaku pada cinta-Mu
Aku tahu
Ini fitroh
Tapi,
Ini satu penyiksaan pada hati yang awam
Allah, aku takut hati ini terpaut pada hatinya
Hingga menutup pintu hati untuk hidayah-Mu

Allah aku ingin mencintainya              
Karena cinta-Mu
Aku ingin menjadi labuhan hatinya
Karena ridho-Mu
Aku ingin menjadi permaisurinya
Karena perjuangan di jalan-Mu

Sebab,
Dengan hanya itu
Hati ini berani untuk jatuh cinta
Menyatukan asa untuk cinta-Mu
Menyatukan hati untuk surga-Mu

Allah
Aku ingin mencintainya
Izinkan...

Sabtu, 19 Januari 2013

Talk Show SWB (Saatnya Wanita Berbicara)


Saatnya Wanita Berbicara
Narasumber     :Dra. Sapta Hariningsih
Penyiar            : Nisa Asy-Syifa
Tema               : Adab Makan
          




Makan merupakan salah satu hal vital dalam kehidupan manusia. Makan bukan hanya sekedar memasukkan makanan kedalam mulut. Makan juga memiliki adab ataupun aturan yang harus di patuhi. Terlebih kita sebagai umat muslim yang memang Allah SWT telah mengutus Rasulullah SAW sebagai suri tauladan yang baik bagi umat manusia. Tidak terlepas pula adab saat makan ini. Ada beberapa adab saat makan yang harus kita perhatikan dan kita amalkan, diantaranya;



1.      Makan dengan tangan kanan
Mencuci tangan kemudian berdoa dan memulai makan dengan tangan kanan. Hal ini seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW bahwa beliau saat makan memang selalu menggunakan tangan kanan. Bukan hanya makan namun begitu juga minum. Meskipun mungkin saat tangan kita kotor karena makan dengan menggunakan tangan langsung dan ingin minum maka boleh menggunakan tangan kiri kemudian tangan kanan ikut menyangga gelas.

2.      Saat makan bersama dahulukan yang lebih tua
Saat makan dengan keluarga atau saat dalam sebuah jamuan utamakan mempersilahkan yang lebih tua terlebih dahulu untuk mengambil makanan. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk penghormatan bagi orang yang lebih tua.

3.      Mengambil makanan yang lebih dekat dengan kita
Saat dalam sebuah jamuan tentu akan banyak sekali makanan yang tersaji. Kita ambil yang terdekat dengan kita kemudian mempersilahkan orang di samping kita untuk mengambil.

4.      Jangan menyisakan makanan
Lebih baik menambah jika memang merasa kurang daripada menyisakan makanan karena mengambil terlalu banyak. Menyisakan makanan yang telah kita ambil merupakan salah satu bentuk ketidak syukuran kita terhadap nikmat yang telah diberiakan oleh Allah SWT.

5.      Berusaha untuk  berbincang saat makan bersama
Menjadikan makan merupakam moment yang sangat dinantikan. Karena saat seperti makan itulah keluarga dapat berkumpul dalam keadaan santai. Berkomunikasi antar anggota keluarga akan tercipta dengan menyenangkan dan menambah keakraban.

6.      Jangan meniup makanan dan minuman yang masih panas
Ada satu riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW melarang umatnya meniup minuman yang masih panas. Sebaiknya di tunggu dulu sampai dingin atau hangat sehingga dapat dimakan dengan nyaman. Jika memang dengan alasan sudah terburu-buru seperti sarapan pagi yang terkadang menjadi kendala, dengan cara mengkipasi makanan atau menempatkan makanan di tempat yang lebar sehingga makanan cepat dingin.

7.      Jangan minum di bejana langsung
Minum sebaiknya di tuang terlebih di dalam gelas. Karena kita tahu bahwa bejana atau tempat minum tersebut di gunakan oelh orang lain.

8.      Jangan minum berbunyi teguk-teguk
Saat minum jangan sampai berbunyi tegukannya. Karena hal itu menyerupai dengan minumnya binatang. Hal ini juga berkaitan dengan point nomer 9 di bawah ini.

9.      Jangan minum dengan sekali habis
Minum sebaiknya tetap memberikan kesempatan untuk bernafas. Minum dengan cara meneguk sebanyak tiga kali tegukan kemudian berhenti sejenak baru kemudian minum lagi dan seterusnya.

10.  Posisi duduk saat makan
Posisi duduk ini bisa bermacam-macam. Jika dengan kursi pastikan posisi kita tidak menyandar atau terlalu membungkuk, tetapi dengan posisi duduk yang sempurna. Jika dengan lesehan bisa mencontoh Rasulullah yakni dengan menmposisikan betis kanan terangkat, namun ini silahkan saja bagi yang ingin memposisikan tubuh saat makan, namun masih dalam taraf kesopanan tentunya.

~oOo~

Terlangsir dalam www.mtafm.com

Rabu, 02 Januari 2013

Cerpen

Takbir Terakhirku
            Masa yang sangat di nanti akhirnya berujung jua. Sebuah ikhrar untuk membangun mahligai rumah tangga telah terucap dari bibir seorang pemuda yang selama ini sangat kuharapkan. Rasa syukur yang tidak dapat lagi ku ungkapan melalui kata maupun air mata yang tidak henti berderai saat hari itu. Ya Allah jadikan keluarga kami keluarga yang Kau ridhoi, keluarga yang senantiasa menjadikan asma-Mu sebagai penghias singasana keluarga.
            Satu bulan sudah aku lalui sebagai permaisuri rumah tangga. Hari-hari yang kulalui selalu penuh dengan pancaran cahaya Illahi. Kehidupan kami memang tidak mewah. Hanya sebuah rumah kontrakan yang menjadi tempat bernaung kami. Suami ku memang hanya seorang guru di SMA Islam Terpadu di kota Solo.  Namun begitu, ini bagiku sudah sangat cukup. Ditambah lagi dengan pekerjaan ku sebagai penyiar di sebuah radio swasta dan bekerja di sebuah penerbitan buku. Sebenarnya suamiku sudah melarang untuk bekerja. Biarkan dia saja yang bekerja.
            “Dek, apa tidak sebaiknya kamu berhenti bekerja dari tempat penerbitan itu. Mas tidak tega jika kamu setiap pulang dari penerbitan harus naik bus.” Kata suamiku ketika sehabis makan malam.
Sambil tersenyum aku raih tangannya.
            “Mas, kan aku juga pulangnya masih siang sudah pulang. Paling banter juga jam 2. Sayang sekali mas kalau Hasna harus keluar, buku ke lima hasna sudah mau terbit.”
            “Baiklah, tapi ingat jangan terlalu memforsir diri.”
            “Iya wahai suamiku sayang.”
            Sebuah cubitan sayang mendarat ke pipi kiriku. Allah, sungguh aku seperti kehilangan kata lagi untuk mengucap syukur karena yang telah kau berikan. Sosok pemimpin hidup yang sangat aku cintai karena perjuangan di jalan-Mu.
            Di penerbitan aku ditempatkan sebagai editor buku. Namun aku juga mencoba untuk membuat buku dan aku masukin ke dalam produksi. Alhamdulillah buku ke lima berupa novel Islami siap untuk diterbitkan di tahun ini. Royalti yang aku dapat masuk ke dalam rekeningku sendiri. Suamiku sengaja menyuruh untuk membuat rekening sendiri karena itu adalah jerih payahku. Untuk kebutuhanku saja. Tapi ini sengaja aku simpan untuk menyambut seorang cahaya mata keluarga yang sudah aku rindukan kehadirannya.
***

            Hari ini aku ada jadwal siaran di radio. Setelah menikah aku memang hanya mengambil jadwal satu saja dalam satu minggu. Itu aku lakukan agar waktu ku dapat membagi waktu antara rumah dan tempat penerbitan. Kebetulan rumah juga tidak jauh dari studio radio. Jadi hanya dengan mengendarai sepeda untuk sampai ke studio radio. Berbeda dengan ketika ke tempat penerbitan. Harus diantar suamiku sebelum dirinya berangkat menuju ke sekolah. Sedangkan ketika pulang harus naik Damri.
            Sepulang dari siaran tiba-tiba aku merasakan mual luar biasa. Segera aku berlari ke kamar mandi dan mutah-mutah. Seisi perut seakan ingin keluar semua. Suamiku yang baru saja pulang setelah meletakkan jaketnya langsung menyusul ke kamar mandi dan memijit tengkukku. Mutah-mutahku semakin menjadi-jadi. Tubuhku sudah lemas karena terlalu banyak cairan yang keluar. Dengan wajah penuh kekhawatiran suamiku menuntun menuju kamar. Segelas air hangat yang dibawakan suamiku rupanya semakin ditolak oleh perutku. Suamiku mengambil ember untuk mewadahi mutahanku. Hampir setengah jam perutku semakin mual luar biasa. Sedangkan tubuh semakin lemas.
            “Adek terlalu kecapekan, sudah mas Fakih bilang, jangan  terlalu memforsir diri.” Sembari memijit tengkukku dengan minyak gosok.
            Aku tidak menjawab. Tubuhku sudah benar-benar lemas. Tiba-tiba rasa sesak di dada sebelah kiri mulai kurasakan. Aku memang memiliki gejala kelainan jantung. Katup bagian kiri jantungku mengalami penyempitan. Sebenarnya penyakit itu sudah aku ketahui ketika aku awal kuliah. Namun sampai kini baik oranng tua hingga suamiku sendiri tidak mengetahui akan hal tersebut. Aku tidak ingin orang-orang merasa kasihan pada diriku. Cukuplah aku untuk dicintai bukan untuk di kasihi lantaran penyakit yang bersemanyam pada ragaku.
            Melihat mukaku yang semakin pucat mas Fakih akhirnya memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit. Selama pemeriksaan mas Fakih berada di luar. Setelah pemeriksaan selesai barulah perawat mempersilahkannya masuk ruangan.
            “Selamat ya Bapak Fakih dan Ibu Hasna. Permata keluarga sebentar lagi akan hadir di tengah kebahagiaan kalian”
            “Allahu Akbar...Subhanallah...Walhamdulillah...”
            Serta merta kalimat tasbih keluar dari mulut kami. Mas Fakih memelukku dengan linangan air mata yang membuat aku tidak dapat membendung deraian air yang sudah berkumpul di pelupuk mata sejak tadi.
            “Tetapi...”
            “Kenapa dokter?” kata suamiku.
            “Karena Ibu Hasna menderita gejala penyempitan katup kiri pada jantungnya, Ibu Hasna harus mendapatkan perawatan secara intensif selama masa kehamilan.”
            “Penyempitan katup kiri jantung? Dek, kenapa selama ini kamu tidak pernah cerita pada mas, kenapa mas baru tahu sekarang, kenapa adek merahasiakannya, dan posisi mas Fakih sekarang seperti suami yang tidak pernah mau tahu akan keadaan isterinya.”
            Aku hanya bisa diam dan terus terisak. Berondongan kata-kata itu rupanya bagaikan hantaman untuk hatiku. Perjalanan menuju rumah tidak sepatah kata pun terucap dari mulut kami masing-masing. Seusai menurunkan aku dan menuntun ke kamar, mas Fakih bilang mau keluar untuk mencari makan malam. Aku baru ingat. Aku tadi belum memasak karena mual yang aku rasakan tadi. Tak berapa lama, mas Fakih datang dengan membawa semangkuk bubur kacang hijau yang masih hangat.
            “Makan dulu dek, perut adek kosong sejak tadi siang belum terisi apapun. Kasihan calon pejuang kita yang  ada di dalam perut dek Hasna.”
            Aku bagaikan anak kecil yang sedang dimanja. Sesuap demi sesuap bubur kacang hijau masuk ke dalam perutku. Wedang jahe gepuk sebagai pengiring bubur kacang hijau rupanya telah memberikan kenyamanan di dalam tubuhku. Selesai sholat isya, aku rebahkan tubuhku ke ranjang. Pengaruh obat yang aku minum tadi rupanya telah membius mataku. Mas Fakih belum pulang dari masjid. Namun kantuk sudah tidak dapat aku tahan lagi. Pelan-pelan aku mulai hanyut dalam kenyamanan alam tidur.
            Sayup-sayup suara lantunan Qur’an surah Ali‘Imran mengumpulkan sedikit demi sedikit kesadaran ku dari alam tidur. Kulihat mas Fakih sedang berada di samping tempat tidur dan tangan kirinya sambil memegang tanganku. Aku sengaja pura-pura masih tidur dengan memejamkan kembali mataku. Surah Ali’Imran selesai terlantun. Tiba-tiba suara lirih berbisik di telingga kananku.
            “Jadilah pendampingku dunia akhirat dek, lahirkan pejuang-pejuang tangguh dan kuat seperti Rasulullah dan sahabat-sahabatnya.”

Disanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata. “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Qs.Ali’Imran ayat 38).

            Kali ini mas Fakih benar-benar melarangku untuk bekerja di penerbitan. Aku hanya dii ijinkan untuk siaran di radio itupun hanya seminggu satu kali. Semakin bertambah usia kehamilanku kondisiku juga semakin lemah. Tidak jarang aku drop dan harus bolak-balik ke rumah sakit untuk check Up. Perhatian mas Fakih terhadap kesehatanku juga semakin lebih. Mesin cuci dibeli dengan alasan agar aku tidak terlalu capek mencuci. Nasihatku agar uangnya di tabung saja untuk persiapan kelahiran si kecil yang membutuhkan biaya tidak sedikit rupanya tidak begitu di risaukan. Katanya mesin cuci juga penting untuk nanti ketika si kecil sudah lahir pasti setiap hari harus mencuci kain popok yang tidak sedikit. Selain itu untuk biaya kelahiran sudah dianggarkan. Akhirnya deposito yang ada di dalam tabunganku aku serahkan ke mas Fakih. Awalnya ia menolak menerima karena semua biaya sudah ada dan menjadi tanggung jawabnya. Namun karena aku bersikeras untuk menyerahkannya akhirnya mas Fakih mau menerima.
            Proses persalinanku tinggal menghitung hari. Tepat pada hari sabtu ini dokter memperkirakan mujahid kecilku lahir. Karena dari pemeriksaan USG aku akan melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki. Mas Fakih juga sudah mengambil cuti mengajar selama beberapa hari untuk menemani proses persalinanku.
            Empat hari menjelang hari sabtu. Mas Fakih masih mengajar. Selesai aku mengantarnya sampai depan rumah dan mengiringinya dengan senyuman serta kecupan yang tidak pernah terlupa,  segera aku ke ruang makan untuk membereskan piring sehabis untuk sarapan. Piring sudah menumpuk di westafel dapur. Ternyata air kran mati. Aku mencoba mengecek ke bagian pengaturan air, karena menggunakan air PDAM biasanya ada gangguan pada alat pengaturnya. Penutupnya terbuat dari semen. Agak kesulitan aku mengangkatnya. Apalagi dengan kondisiku seperti ini. Dengan nafas agak tersengal-sengal akhirnya aku mampu mengangkat penutup dari semen tersebut. Ternyata benar, ada sedikit gangguan pada alat pemutar. Air kembali bisa mengalir. Segera aku kembali ke dapur bersama piring-piring kotor yang telah siap menunggu. Entah karena kurangnya kehati-hatian pada diriku atau memang sudah suatu yang tertulis, rupanya aku tidak menyadari ada ceceran minyak di atas keramik dapur. Aku terpeleset. Saat bangun kembali aku merasakan ada sesuatu yang mengalir di kaki ku. Darah..!
***
            Tiba-tiba kaki ku terasa lemas. Seakan tidak mampu lagi menopang beban tubuh. Dengan sisa terseok-seok menuju kamar mengambil hp yang tergeletak di meja kamar tidur. Mas Fakih. Telfon tidak diangkat. Mungkin sedang mengajar. Mau teriak minta tolong tidak akan ada yang mendengar. Aku tinggal di perumahan yang rata-rata penghuninya pekerja atau karyawan. Rifa. Aku ingat sahabatku yang semasa kuliah dan saat ini sudah bekerja di istansi pemerintah. Kebetulan rumahhnya juga tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku.
            Begitu mendapat telfon dariku dan mendengar keadaanku saat ini, ia bergegas menuju rumahku. Tidak berselang waktu Rifa yang mengendarai matic nya telah sampai.
            “Masya Allah, Hasnaaa...kamu tidak apa-apa!” teriak Rifa yang melihatku telah bersimbah darah. Tubuhku sudah lemas. Aku merasa tidak kuat lagi. Teriakan Rifa pun seperti sudah sayup-sayup. Kemudian gelap.
***
            Saat aku sadar kulihat sekelilingku putih. Aku juga sudah berganti pakaian. Mas Fakih sedang membaca Al-Qur’an di samping ranjang. Melihat aku sudah sadar, mas Fakih tersenyum.
            “Rifa yang mengabari mas tadi. Maafkan mas ya, tadi mas Fakih sengaja meng-silent HP, karena sedang ada ujian untuk anak-anak. Sekali lagi mas Fakih minta maaf ya sayang.”
            “Hasna tidak apa-apa mas. Alhamdulillah ada Rifa yang menolong Hasna. Oh ya, kemana dia sekarang. Hasna ingin mengucapkan terima kasih.”
            “Tadi titip permintaan maaf kepadamu karena tidak bisa menunggumu sampai sadar karena harus menjemput putrinya di PAUD. Insya Allah nanti Abah dan Umi nya dek Hasna datang dan juga orang tuanya mas.”
            “Oh ya, kapan kira-kira nanti datangnya mas?”
            “Insya Allah bakda sholat magrib.”
            “Hasna sudah tidak sabar ingin melihat Abah dan Umi kita serta mas Fakih juga mengendong mujahid kecil kita Mas, Hasna juga tidak sabar melihat mujahid kecil kita dengan perlahan tumbuh beranjak dewasa dengan puluhan prestasi yang ia ukir dan Hasna ingin calon mujahid kita ini adalah penghafal Al-Qur’an.”
            “Insya Allah sayang, Insya Allah, kita harus menjadi oranng tua yang menjadi tauladan untuk putra putri kita.”
            “Mas bolehkah Hasna minta satu permintaan?”
            “Katakan wahai istriku”
            “Hasna ingin nanti ketika sholat magrib dan sholat isya berjamaah dengan mas. Jadi mas Fakih sholat di sini saja ya. Saya tetap di ranjang tidak apa-apa.”
            “Iya sayang.” Ujar mas Fakih sambil tersenyum. Senyum yang mungkin terakhir untukku.
            Bakda sholat magrib keluargaku dan keluarga mas Fakih datang. Semua tampak gembira mereka akan menerima keluarga baru. Tapi kenapa aku merasakan kesedihan yang luar biasa ya Allah. Selesai sholat isya aku meminta mas Fakih untuk membaca Al-Quran bersama denganku.

“Istri-Istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapanpun itu dengan cara yang sesukamu. Dan utamakanlah yang baik untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah kelak engkau akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” (QS.Al-Baqarah ayat 223).

            Sekitar pukul 9 malam aku merasakan sakit yang semakin lama semakin sakit diperutku. Nafasku mulai tidak beraturan. Aku di rujuk ke ruang persalinan. kulihat mas Fakih tampak meneteskan air mata. Dia meminta ijin dokter untuk tetap mendampingiku. Sambil ku pegang erat tangan mas Fakih aku kerahkan seluruh daya agar yang terbaik untuk putra pertamaku. Calon mujahid kebanggaan agama. Semakin banyak darah yang ku keluarkan. Tekanan darah menjadi tinggi. Sakit di dadaku sebelah kiri rupanya seperti sudah mati rasa. Aku seperti sudah tidak bisa lagi merasakan sakit yang mana. Jantungku seperti sudah tidak kuat memompa darah.
            “Allahu Akbar...La haula wallaquwata illabillah!”
            “Darahnya sudah banyak yang keluar, kondisi ibu sudah tidak memungkinkan, sangat lemah dokter.” Ujar seorang dokter kepada dokter yang lain.
            “Ibu Hasna, Ibu mengejan sekali lagi dengan kuat.”
            “Kamu bisa sayang...” bisikan mas Fakih terdengar bergetar di telingaku karena menahan isak tangis.
            Aku seperti mendapatkan tenaga yang secara ajaib merasuk ke dalam tubuh. Dengan sekuat tenaga aku mengejan. Tangis seorang bayi memecah tengah malam di kota Solo. Tangisnya begitu keras, seolah ingin mengabarkan kepada seisi semesta bahwa telah lahir seoarng anak manusia yang siap untuk mengawal agama Allah. Nafasku sudah semakin pendek. Terlalu banyak darah yang keluar rupanya telah membuatku gagal jantung. Jantungku sudah tidak mampu lagi memompa darah. Perlahan peganganku pada tangan mas Fakih mulai melemah. Dan akhirnya terlepas. Lafadz La Illaha Illah mekar di sudut bibir yang sudah mulai membiru. Tangis pecah di antara balutan keheningan malam. Senyum kebahagiaan bagi hamba-hamba yang senantiasa berserah diri terhadap Rabb-nya.

“Dan orang-orang yang berkata,”Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kami pasangan kami dan keluarga kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqon Ayat 74)

~oOo~
Surakarta
Sabtu, 30 Muharrom 1434 Hijjriah / 15 Desember 2012
Pukul 4:22 dini hari
Tertanda : Zukhrufannisa Asy-Syifa