Takbir Terakhirku
Masa yang sangat di nanti akhirnya
berujung jua. Sebuah ikhrar untuk membangun mahligai rumah tangga telah terucap
dari bibir seorang pemuda yang selama ini sangat kuharapkan. Rasa syukur yang
tidak dapat lagi ku ungkapan melalui kata maupun air mata yang tidak henti
berderai saat hari itu. Ya Allah jadikan keluarga kami keluarga yang Kau
ridhoi, keluarga yang senantiasa menjadikan asma-Mu sebagai penghias singasana
keluarga.
Satu bulan sudah aku lalui sebagai
permaisuri rumah tangga. Hari-hari yang kulalui selalu penuh dengan pancaran
cahaya Illahi. Kehidupan kami memang tidak mewah. Hanya sebuah rumah kontrakan
yang menjadi tempat bernaung kami. Suami ku memang hanya seorang guru di SMA
Islam Terpadu di kota Solo. Namun
begitu, ini bagiku sudah sangat cukup. Ditambah lagi dengan pekerjaan ku
sebagai penyiar di sebuah radio swasta dan bekerja di sebuah penerbitan buku.
Sebenarnya suamiku sudah melarang untuk bekerja. Biarkan dia saja yang bekerja.
“Dek, apa tidak sebaiknya kamu
berhenti bekerja dari tempat penerbitan itu. Mas tidak tega jika kamu setiap
pulang dari penerbitan harus naik bus.” Kata suamiku ketika sehabis makan
malam.
Sambil tersenyum aku raih tangannya.
“Mas, kan aku juga pulangnya masih
siang sudah pulang. Paling banter juga jam 2. Sayang sekali mas kalau Hasna
harus keluar, buku ke lima hasna sudah mau terbit.”
“Baiklah, tapi ingat jangan terlalu
memforsir diri.”
“Iya wahai suamiku sayang.”
Sebuah cubitan sayang mendarat ke
pipi kiriku. Allah, sungguh aku seperti kehilangan kata lagi untuk mengucap
syukur karena yang telah kau berikan. Sosok pemimpin hidup yang sangat aku
cintai karena perjuangan di jalan-Mu.
Di penerbitan aku ditempatkan
sebagai editor buku. Namun aku juga mencoba untuk membuat buku dan aku masukin
ke dalam produksi. Alhamdulillah buku ke lima berupa novel Islami siap untuk
diterbitkan di tahun ini. Royalti yang aku dapat masuk ke dalam rekeningku
sendiri. Suamiku sengaja menyuruh untuk membuat rekening sendiri karena itu
adalah jerih payahku. Untuk kebutuhanku saja. Tapi ini sengaja aku simpan untuk
menyambut seorang cahaya mata keluarga yang sudah aku rindukan kehadirannya.
***
Hari ini aku ada jadwal siaran di
radio. Setelah menikah aku memang hanya mengambil jadwal satu saja dalam satu
minggu. Itu aku lakukan agar waktu ku dapat membagi waktu antara rumah dan
tempat penerbitan. Kebetulan rumah juga tidak jauh dari studio radio. Jadi
hanya dengan mengendarai sepeda untuk sampai ke studio radio. Berbeda dengan
ketika ke tempat penerbitan. Harus diantar suamiku sebelum dirinya berangkat
menuju ke sekolah. Sedangkan ketika pulang harus naik Damri.
Sepulang dari siaran tiba-tiba aku
merasakan mual luar biasa. Segera aku berlari ke kamar mandi dan mutah-mutah.
Seisi perut seakan ingin keluar semua. Suamiku yang baru saja pulang setelah
meletakkan jaketnya langsung menyusul ke kamar mandi dan memijit tengkukku.
Mutah-mutahku semakin menjadi-jadi. Tubuhku sudah lemas karena terlalu banyak
cairan yang keluar. Dengan wajah penuh kekhawatiran suamiku menuntun menuju kamar.
Segelas air hangat yang dibawakan suamiku rupanya semakin ditolak oleh perutku.
Suamiku mengambil ember untuk mewadahi mutahanku. Hampir setengah jam perutku
semakin mual luar biasa. Sedangkan tubuh semakin lemas.
“Adek terlalu kecapekan, sudah mas
Fakih bilang, jangan terlalu memforsir
diri.” Sembari memijit tengkukku dengan minyak gosok.
Aku tidak menjawab. Tubuhku sudah
benar-benar lemas. Tiba-tiba rasa sesak di dada sebelah kiri mulai kurasakan.
Aku memang memiliki gejala kelainan jantung. Katup bagian kiri jantungku
mengalami penyempitan. Sebenarnya penyakit itu sudah aku ketahui ketika aku
awal kuliah. Namun sampai kini baik oranng tua hingga suamiku sendiri tidak
mengetahui akan hal tersebut. Aku tidak ingin orang-orang merasa kasihan pada
diriku. Cukuplah aku untuk dicintai bukan untuk di kasihi lantaran penyakit
yang bersemanyam pada ragaku.
Melihat mukaku yang semakin pucat
mas Fakih akhirnya memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit. Selama
pemeriksaan mas Fakih berada di luar. Setelah pemeriksaan selesai barulah
perawat mempersilahkannya masuk ruangan.
“Selamat ya Bapak Fakih dan Ibu Hasna.
Permata keluarga sebentar lagi akan hadir di tengah kebahagiaan kalian”
“Allahu
Akbar...Subhanallah...Walhamdulillah...”
Serta merta kalimat tasbih keluar
dari mulut kami. Mas Fakih memelukku dengan linangan air mata yang membuat aku
tidak dapat membendung deraian air yang sudah berkumpul di pelupuk mata sejak
tadi.
“Tetapi...”
“Kenapa dokter?” kata suamiku.
“Karena Ibu Hasna menderita gejala penyempitan
katup kiri pada jantungnya, Ibu Hasna harus mendapatkan perawatan secara
intensif selama masa kehamilan.”
“Penyempitan katup kiri jantung?
Dek, kenapa selama ini kamu tidak pernah cerita pada mas, kenapa mas baru tahu
sekarang, kenapa adek merahasiakannya, dan posisi mas Fakih sekarang seperti
suami yang tidak pernah mau tahu akan keadaan isterinya.”
Aku hanya bisa diam dan terus
terisak. Berondongan kata-kata itu rupanya bagaikan hantaman untuk hatiku.
Perjalanan menuju rumah tidak sepatah kata pun terucap dari mulut kami
masing-masing. Seusai menurunkan aku dan menuntun ke kamar, mas Fakih bilang
mau keluar untuk mencari makan malam. Aku baru ingat. Aku tadi belum memasak
karena mual yang aku rasakan tadi. Tak berapa lama, mas Fakih datang dengan
membawa semangkuk bubur kacang hijau yang masih hangat.
“Makan dulu dek, perut adek kosong
sejak tadi siang belum terisi apapun. Kasihan calon pejuang kita yang ada di dalam perut dek Hasna.”
Aku bagaikan anak kecil yang sedang
dimanja. Sesuap demi sesuap bubur kacang hijau masuk ke dalam perutku. Wedang
jahe gepuk sebagai pengiring bubur kacang hijau rupanya telah memberikan
kenyamanan di dalam tubuhku. Selesai sholat isya, aku rebahkan tubuhku ke
ranjang. Pengaruh obat yang aku minum tadi rupanya telah membius mataku. Mas
Fakih belum pulang dari masjid. Namun kantuk sudah tidak dapat aku tahan lagi.
Pelan-pelan aku mulai hanyut dalam kenyamanan alam tidur.
Sayup-sayup suara lantunan Qur’an
surah Ali‘Imran mengumpulkan sedikit demi sedikit kesadaran ku dari alam tidur.
Kulihat mas Fakih sedang berada di samping tempat tidur dan tangan kirinya
sambil memegang tanganku. Aku sengaja pura-pura masih tidur dengan memejamkan
kembali mataku. Surah Ali’Imran selesai terlantun. Tiba-tiba suara lirih
berbisik di telingga kananku.
“Jadilah pendampingku dunia akhirat
dek, lahirkan pejuang-pejuang tangguh dan kuat seperti Rasulullah dan
sahabat-sahabatnya.”
Disanalah Zakaria berdoa kepada
Tuhannya. Dia berkata. “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu,
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Qs.Ali’Imran ayat 38).
Kali ini mas Fakih benar-benar
melarangku untuk bekerja di penerbitan. Aku hanya dii ijinkan untuk siaran di
radio itupun hanya seminggu satu kali. Semakin bertambah usia kehamilanku
kondisiku juga semakin lemah. Tidak jarang aku drop dan harus bolak-balik ke
rumah sakit untuk check Up. Perhatian mas Fakih terhadap kesehatanku juga
semakin lebih. Mesin cuci dibeli dengan alasan agar aku tidak terlalu capek
mencuci. Nasihatku agar uangnya di tabung saja untuk persiapan kelahiran si
kecil yang membutuhkan biaya tidak sedikit rupanya tidak begitu di risaukan.
Katanya mesin cuci juga penting untuk nanti ketika si kecil sudah lahir pasti
setiap hari harus mencuci kain popok yang tidak sedikit. Selain itu untuk biaya
kelahiran sudah dianggarkan. Akhirnya deposito yang ada di dalam tabunganku aku
serahkan ke mas Fakih. Awalnya ia menolak menerima karena semua biaya sudah ada
dan menjadi tanggung jawabnya. Namun karena aku bersikeras untuk menyerahkannya
akhirnya mas Fakih mau menerima.
Proses persalinanku tinggal
menghitung hari. Tepat pada hari sabtu ini dokter memperkirakan mujahid kecilku
lahir. Karena dari pemeriksaan USG aku akan melahirkan bayi berjenis kelamin
laki-laki. Mas Fakih juga sudah mengambil cuti mengajar selama beberapa hari
untuk menemani proses persalinanku.
Empat hari menjelang hari sabtu. Mas
Fakih masih mengajar. Selesai aku mengantarnya sampai depan rumah dan
mengiringinya dengan senyuman serta kecupan yang tidak pernah terlupa, segera aku ke ruang makan untuk membereskan
piring sehabis untuk sarapan. Piring sudah menumpuk di westafel dapur. Ternyata
air kran mati. Aku mencoba mengecek ke bagian pengaturan air, karena menggunakan
air PDAM biasanya ada gangguan pada alat pengaturnya. Penutupnya terbuat dari
semen. Agak kesulitan aku mengangkatnya. Apalagi dengan kondisiku seperti ini.
Dengan nafas agak tersengal-sengal akhirnya aku mampu mengangkat penutup dari
semen tersebut. Ternyata benar, ada sedikit gangguan pada alat pemutar. Air
kembali bisa mengalir. Segera aku kembali ke dapur bersama piring-piring kotor
yang telah siap menunggu. Entah karena kurangnya kehati-hatian pada diriku atau
memang sudah suatu yang tertulis, rupanya aku tidak menyadari ada ceceran minyak
di atas keramik dapur. Aku terpeleset. Saat bangun kembali aku merasakan ada
sesuatu yang mengalir di kaki ku. Darah..!
***
Tiba-tiba kaki ku terasa lemas.
Seakan tidak mampu lagi menopang beban tubuh. Dengan sisa terseok-seok menuju
kamar mengambil hp yang tergeletak di meja kamar tidur. Mas Fakih. Telfon tidak
diangkat. Mungkin sedang mengajar. Mau teriak minta tolong tidak akan ada yang
mendengar. Aku tinggal di perumahan yang rata-rata penghuninya pekerja atau
karyawan. Rifa. Aku ingat sahabatku yang semasa kuliah dan saat ini sudah
bekerja di istansi pemerintah. Kebetulan rumahhnya juga tidak terlalu jauh dari
tempat tinggalku.
Begitu mendapat telfon dariku dan
mendengar keadaanku saat ini, ia bergegas menuju rumahku. Tidak berselang waktu
Rifa yang mengendarai matic nya telah sampai.
“Masya Allah, Hasnaaa...kamu tidak
apa-apa!” teriak Rifa yang melihatku telah bersimbah darah. Tubuhku sudah
lemas. Aku merasa tidak kuat lagi. Teriakan Rifa pun seperti sudah sayup-sayup.
Kemudian gelap.
***
Saat aku sadar kulihat sekelilingku
putih. Aku juga sudah berganti pakaian. Mas Fakih sedang membaca Al-Qur’an di
samping ranjang. Melihat aku sudah sadar, mas Fakih tersenyum.
“Rifa yang mengabari mas tadi.
Maafkan mas ya, tadi mas Fakih sengaja meng-silent HP, karena sedang ada ujian
untuk anak-anak. Sekali lagi mas Fakih minta maaf ya sayang.”
“Hasna tidak apa-apa mas.
Alhamdulillah ada Rifa yang menolong Hasna. Oh ya, kemana dia sekarang. Hasna
ingin mengucapkan terima kasih.”
“Tadi titip permintaan maaf kepadamu
karena tidak bisa menunggumu sampai sadar karena harus menjemput putrinya di
PAUD. Insya Allah nanti Abah dan Umi nya dek Hasna datang dan juga orang tuanya
mas.”
“Oh ya, kapan kira-kira nanti
datangnya mas?”
“Insya Allah bakda sholat magrib.”
“Hasna sudah tidak sabar ingin
melihat Abah dan Umi kita serta mas Fakih juga mengendong mujahid kecil kita Mas,
Hasna juga tidak sabar melihat mujahid kecil kita dengan perlahan tumbuh
beranjak dewasa dengan puluhan prestasi yang ia ukir dan Hasna ingin calon
mujahid kita ini adalah penghafal Al-Qur’an.”
“Insya Allah sayang, Insya Allah,
kita harus menjadi oranng tua yang menjadi tauladan untuk putra putri kita.”
“Mas bolehkah Hasna minta satu
permintaan?”
“Katakan wahai istriku”
“Hasna ingin nanti ketika sholat
magrib dan sholat isya berjamaah dengan mas. Jadi mas Fakih sholat di sini saja
ya. Saya tetap di ranjang tidak apa-apa.”
“Iya sayang.” Ujar mas Fakih sambil
tersenyum. Senyum yang mungkin terakhir untukku.
Bakda sholat magrib keluargaku dan
keluarga mas Fakih datang. Semua tampak gembira mereka akan menerima keluarga
baru. Tapi kenapa aku merasakan kesedihan yang luar biasa ya Allah. Selesai
sholat isya aku meminta mas Fakih untuk membaca Al-Quran bersama denganku.
“Istri-Istrimu adalah ladang bagimu,
maka datangilah ladangmu itu kapanpun itu dengan cara yang sesukamu. Dan
utamakanlah yang baik untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah
kelak engkau akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang
beriman.” (QS.Al-Baqarah ayat 223).
Sekitar pukul 9 malam aku merasakan
sakit yang semakin lama semakin sakit diperutku. Nafasku mulai tidak beraturan.
Aku di rujuk ke ruang persalinan. kulihat mas Fakih tampak meneteskan air mata.
Dia meminta ijin dokter untuk tetap mendampingiku. Sambil ku pegang erat tangan
mas Fakih aku kerahkan seluruh daya agar yang terbaik untuk putra pertamaku.
Calon mujahid kebanggaan agama. Semakin banyak darah yang ku keluarkan. Tekanan
darah menjadi tinggi. Sakit di dadaku sebelah kiri rupanya seperti sudah mati rasa.
Aku seperti sudah tidak bisa lagi merasakan sakit yang mana. Jantungku seperti
sudah tidak kuat memompa darah.
“Allahu Akbar...La haula wallaquwata
illabillah!”
“Darahnya sudah banyak yang keluar,
kondisi ibu sudah tidak memungkinkan, sangat lemah dokter.” Ujar seorang dokter
kepada dokter yang lain.
“Ibu Hasna, Ibu mengejan sekali lagi
dengan kuat.”
“Kamu bisa sayang...” bisikan mas
Fakih terdengar bergetar di telingaku karena menahan isak tangis.
Aku seperti mendapatkan tenaga yang
secara ajaib merasuk ke dalam tubuh. Dengan sekuat tenaga aku mengejan. Tangis
seorang bayi memecah tengah malam di kota Solo. Tangisnya begitu keras, seolah
ingin mengabarkan kepada seisi semesta bahwa telah lahir seoarng anak manusia
yang siap untuk mengawal agama Allah. Nafasku sudah semakin pendek. Terlalu
banyak darah yang keluar rupanya telah membuatku gagal jantung. Jantungku sudah
tidak mampu lagi memompa darah. Perlahan peganganku pada tangan mas Fakih mulai
melemah. Dan akhirnya terlepas. Lafadz La Illaha Illah mekar di sudut
bibir yang sudah mulai membiru. Tangis pecah di antara balutan keheningan
malam. Senyum kebahagiaan bagi hamba-hamba yang senantiasa berserah diri
terhadap Rabb-nya.
“Dan orang-orang yang berkata,”Ya
Tuhan Kami, anugerahkanlah kami pasangan kami dan keluarga kami dan keturunan
kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang
yang bertakwa.” (QS.Al-Furqon Ayat 74)
~oOo~
Surakarta
Sabtu,
30 Muharrom 1434 Hijjriah / 15 Desember 2012
Pukul
4:22 dini hari
Tertanda : Zukhrufannisa Asy-Syifa