Selasa, 25 Februari 2014

Wahai Adik, Apa Cita-Citamu ?




Pertanyaan itu  yang pernah singgah dalam ingatan sekitar 17 tahun yang silam. Ketika masih berumur sekitar 3-4 tahunnan.
“Ingin menjadi bidan!”
“Kenapa?” tanya Kakak
“Biar setiap hari dandan  cantik seperti Bu Sulih (Bidan paling terkenal di desa).”
Ketika sudah duduk di bangku SD beralih cita-cita.
“Mas, nanti kalau aku sudah gede mau jadi dokter tumbuhan dan dokter hewan.”
Karena waktu itu Bapak memiliki usaha ternah bebek petelur dan setiap hari ikut masuk kandang untuk mengambil telur-telur bebek. Dokter tumbuhan? Memangnya ada?. Hehe... Karena terobsesi dengan dokter tumbuhan alhasil mati semua lidah buaya yang tumbuh liar di pekarangan rumah karena kusuntiki dengan air. Bermodal sebuah suntikan yang didapat dari tempat pembuangan sampah di dekat masjid yang saat itu baru saja ada aksi donor darah. Jarum suntik diisi penuh dengan air, lalu di suntikan pada lidah buaya. Lidah buaya yang disuntik dengan air akan menggelembung. Maka pikir saya, wah ini nanti lidah buayanya bisa gemuk-gemuk. Lalu sehari penuh hanya menyuntiki daun lidah buaya. Namun, apa yang terjadi di keesokan harinya? Semua lidah buaya daunnya kisut. Lambat laut mati semua.
Suatu hari sedang bantu-bantu kakak yang menyapu di teras rumah. Kemudian membakar daun-daun kering. Sambil menjaga api agar tidak menjalar, saya mencari buah melinjo yang jatuh kemudian dibakar. Rasanya nikmat dan gurih. Nah, ketika itu pula naluriah kepo ala anak-anak mulai muncul pada diri saya. Ketika daun kering yang terbakar kenapa bisa bergerak sendiri. Gerakan apa yang menyebabkan hal tersebut. Waktu kecil kakak senantiasa membelikan buku-buku bacaan yang bergizi seperti tokoh James Watt, Marie Currie, Newton, Thomas Alfa Edison, Alexander Graham Bell, Galileo Galilei, Ibnu Sina, Ibnu Rusd, dan masih banyak sederet buku tentang tokoh dunia yang selalu dibawakan kakak setelah pulang dari Solo. Dari situ pula mulai timbul pikiran dalam benak, mungkin tidak ya suatu hari nanti saya bisa jadi ilmuwan seperti mereka, dengan memanfaatkan energi gerak yang dihasilkann oleh api sehingga mampu menggerakkan daun harusnya ada penemuan hebat yang akan saya temukan biar bisa dapat penghargaan nobel. Hehe... (Pikiran liar anak kelas 1 SD).
Saat duduk di bangku SMP, hal yang sampai sekarang masih saya ingat ketika itu. Suatu siang seorang guru geografi memberikan pertanyaan pada murit-murit.
“Apa cita-cita kalian nanti, jawab dengan urut, mulai dari belakang.”
Tiba pada giliran saya, dengan percaya diri yang tinggi dan suara lantang saya menjawab.
“Anggota DPR pak.”
Sepontan seisi kelas menyoraki.
“Huuu, mau korupsi yaaa...”
Maka dengan polos saya menjawab.
“Kalau nanti saya jadi anggota DPR, saya mau jadi anggota DPR yang baik, yang cerdas dan tidak korupsi.”
Bapak gurupun hanya tersenyum.
Ketika SMA hanya saya satu-satunya murit perempuan yang pernah menjadi pemimpin upacara. Awalnya memang ditentang oleh para kakak kelas yang laki-laki. Tapi karena di kelas saya tidak ada anak laki-laki yang berani menjadi pemimpin upacara maka saya pun dengan sigap, siap menjadi pemimpin upacara. (Pertama kali pula di sekolah saya pemimpin upacara memakai rok, awalnya diminta untuk memakai celana, namun saya menolak dan bersikeras untuk tetap memakai rok).
“Kamu itu ya, akhwat idealis!”
Itu yang pernah di lontarkan oleh salah satu ikhwan (penyebutannya sudah ikhwan akhwat, karena waktu SMA saya dulu di Muhammadiyah, jadi sudah menggunakan bahasa ala aktivis).
Ketika itu terjadi perbedaan pendapat saat memutuskan. Dari pihak akhwat, saya yang menjadi jubir. Dari dua belah pihak yakni ikhwan dan akhwat bersikukuh tidak ada yang mau mengalah. Hingga berhari-hari barulah ada pihak yang mau mengalah juga akhirnya. Maka ketika itu saya ingin menajdi seorang politikus, itulah cita-cita yang harus terwujud, (Ketika itu).
Kini, saat telah duduk di kursi perguruan tinggi, cita-cita yang dulu yakin harus di raih malah sedikit demi sedikit luntur, termakan oleh pikiran terjalnya jalan untuk meraih cita itu. Saat saya temukan buku diary sewaktu SMA saya pernah menuliskan di halaman depan buku tersebut. Cita-cita : Anak Berbakti – Muslimah sejati – Istri penyejuk hati, Insyaa Allah.
Ah, tiga kalimat itu yang kini masih terbingkai manis dalam goresan pena untuk dinyatakan dan bukan hanya sekedar pernyataan.
“Lalu apa cita-citamu kini wahai adikku yang paling manis?” Tanya kakak kini.
“Sebelum adikmu ini diminta oleh seorang pemuda sholih, adik harus mengabdikan diri sebagai seorang yang bekerja di media dakwah. Seorang presenter. Boleh mas?”
“Jagalah sholatmu, jadikan Allah sebagai pelindungmu, mas hanya bisa meridhoimu.”

Kabupaten Tentram ‘Karanganyar’
Ahad, 16 Februari 2014
Nisa Asy-Syifa

Selasa, 18 Februari 2014

Psikoanalisis Sigmund Freud

Psikologi sastra tidak bermaksud memecahkan masalah psikologis. Namun secara definitif, tujuan psikologi sastra ialah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya. Psikologi lahir untuk mempelajari kejiwaan manusia, yakni manusia yang ada di bumi inilah yang menjadi objek penelitian psikologi, sastra lahir dari masyarakat, pengarang hidup dalam tengah-tengah masyarakat dan pengarang juga menciptakan karya sastranya termasuk tokoh yang ada didalamnya. Tokoh yang diciptakan secara tidak sadar oleh pengarang memiliki muatan kejiwaan yang timbul dari proyeksi pelaku yang ada dalam masyarakat, karya sastra berupa novel lebih panjang dan terperinci dalam penggambaran tokohnya, oleh karena itu kejiwaan yang ada dalam novel lebih kental pula.
Pendapat yang sama mengenai kejiwaan tokoh dalam karya sastra, dikemukakan oleh Ratna (dalam Albertine 2010:54) ialah berpendapat bahwa pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam karya.

Teori Psikoanalisis Sigmund Freud
Menurut Albertine (2010:11), psikoanalisis adalah disiplin ilmu yang dimulai sekitar tahun 1900-an oleh Sigmund Freud. Teori psikoanalisis ini berhubungan dengan fung
Psikoanalisis merupakan sejenis psikologi tentang ketidaksadaran; perhatian-perhatiannya terarah pada bidang motivasi, emosi, konflik, sistem neurotic, mimpi-mimpi, dan sifat-sifat karakter. Menurut Freud (dalam Suryabrata, 2002:3), psikoanalisis adalah sebuah metode perawatan medis bagi orang-orang yang menderita gangguan syaraf. Psikoanalisis merupakan suatu jenis terapi yang bertujuan untuk mengobati seseorang yang mengalami penyimpangan mental dan syaraf.
Dalam struktur kepribadian Freud, ada tiga unsur sistem penting, yakni id, ego, dan superego. Menurut Bertens (2006:32) istilah lain dari tiga faktor tersebut dalam psikoanalisis dikenal sebagai tiga “instansi” yang menandai hidup psikis. Dari ketiga sistem atau ketiga instansi ini satu sama lain saling berkaitan sehingga membentuk suatu kekuatan atau totalitas. Maka dari itu untuk mempermudah pembahasan mengenai kepribadian pada kerangka psikoanalisa, kita jabarkan sistem kepribadian ini.

1. Id
Menurut Bertens (2006:32-33), id merupakan lapisan psikis yang paling mendasar sekaligus id menjadi bahan dasar bagi pembentukan hidup psikis lebih lanjut. Artinya id merupakan sisitem kepribadian asli paling dasar yakni yang dibawa sejak lahir. Dari id ini kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan, seperti insting, impuls, dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious, mewakili subyektivitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya.
Energi psikis dalam id itu dapat meningkat oleh karena perangsang, dan apabila energi itu meningkat maka menimbulkan tegangan dan ini menimbulkan pengalaman tidak enak (tidak menyenangkan). Dari situlah id harus mereduksikan energi untuk menghilangkan rasa tidak enak dan mengejar keenakan.
Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relative inaktif atau tingkat enerji yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan enerji yang mendambakan kepuasan. Jadi ketika ada stimulasi yang memicu enerji untuk bekerja-timbul tegangan energi-id beroperasi dengan prinsip kenikmatan; berusaha mengurangi atau menghilangkan tegangan itu; mengembalikan diri ke tingkat energi rendah.
Penerjemahan dari kebutuhan menjadi keinginan ini disebut dengan proses primer. Proses primer ialah reaksi membayangkan atau mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan-dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau putting ibunya.
Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar-salah , tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang member kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan inilah yang kemudian membuat id memunculkan ego.

2. Ego
Ego adalah aspek psikologis daripada kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan atau realita (Freud dalam Suryabrata 2010:126). Ego berbeda dengan id. Menurut Koeswara (1991:33-34), ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengaruh individu kepada objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan.
Menurut (Freud dalam Bertens 2006:33), ego terbentuk dengan diferensiasi dari id karena kontaknya dengan dunia luar, khususnya orang di sekitar bayi kecil seperti orang tua, pengasuh, dan kakak adik.
Ego timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia realita atau kenyataan.
Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal.
Menurut Bertens (2006:33), tugas ego adalah untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan lingkungan sekitar, lagi untuk memecahkan konflik-konflik dengan realitas dan konflik-konflik antara keinginan-keinginan yang tidak cocok satu sama lain.
Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembang-mencapai-kesempurnaan dari superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan id, karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri akan memperoleh energi dari id.
Untuk itu sekali lagi memahami apa yang dimaksudkan dengan proses sekunder, perlu untuk melihat sampai dimana proses primer membawa seorang individu dalam pemuasan keinginan sehingga dapat diwujudkan dalam sebuah kenyataan. Proses sekunder terdiri dari usaha menemukan atau menghasilkan kenyataan dengan jalan suatu rencana tindakan yang telah dikembangkan melalui pikiran dan oral (pengenalan).

3. Superego
Menurut Bertens (2006:33-34), superego dibentuk melalui internalisasi (internalization), artinya larangan-larangan atau perintah-perintah yang berasal dari luar (para pengasuh, khususnya orang tua) diolah sedemikian rupa sehingga akhirnya terpancar dari dalam. Dengan kata lain, superego adalah buah hasil proses internalisasi, sejauh larangan-larangan dan perintah-perintah yang tadinya merupakan sesuatu yang “asing” bagi si subyek, akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari subyek sendiri, seperti “Engkau tidak boleh…atau engkau harus…” menjadi “Aku tidak boleh…atau aku harus…”
Menurut Freud (dalam Suryabrata, 2010:127) Super Ego adalah aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya yang dimasukkan dengan berbagai perintah dan larangan. Super Ego lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan. Oleh karena itu, Super Ego dapat pula dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya yang pokok ialah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat.
Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistic sebagai lawan dari prinsip kepuasan id dan prinsip realitik dari ego (alwisol,2004:21).
Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam fikiran. Superego dalam hal mengontrol id, bukan hanya menunda pemuasan tapi merintangi pemenuhannya.
Fungsi utama dari superego yang dihadirkan antara lain adalah:
1. Sebagai pengendali dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls tersebut disalurkan dengan cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat.
2. Untuk mengarahkan ego pada tujuan-yang sesuai dengan moral ketimbang dengan kenyataan.
3. Mendorong individu kepada kesempurnaan. Superego senantiasa memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang berbeda kealam sadar. Superego bersama dengan id, berada dialam bawah sadar (Hall dan Lindzey, 1993:67-68).
Jadi superego cenderung untuk menentang, baik ego maupun id, dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal. Ketiga aspek tersebut meski memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam prakteknya, namun ketiganya selalu berinteraksi secara dinamis.

Proses Distribusi dan Pemakaian Energi Psikis
Proses distribusi dan penggunaan energi psikis ini pada hakekatnya merupakan bagian dari Dinamika kepribadian teori Freud. Dinamika kepribadian Freud, secara langsung membutuhkan energi psikis untuk memenuhi kebutuhan struktur kepribadian, yakni Das Es (the Id), Das Ich (the Ego), dan Das Ueber Ich (the Super ego). Seperti halnya Freud (dalam Alwisol, 2004 23), berpendapat bahwa manusia sebagai sistem yang kompleks memaikai energi untuk berbagai tujuan seperti bernafas, bergerak, mengamati, dan mengingat. Kegiatan psikologik juga membutuhkan energi, yang disebutnya energi psikik (psychic energy). Energi yang ditransfrom dari energi fisik melalui Id beserta insting-instingnya, dan ini bagi Freud sesuai dengan kaidah Fisika, bahwa energi tidak dapat lepas pada diri manusia namun energi itu dapat berpindah-pindah dan berubah bentuk.
Dinamika kepribadian ditentukan oleh cara energi psikis yang didistribusikan serta digunakan oleh id, ego dan superego. Oleh karena jumlah energi itu terbatas, maka akan terjadi semacam persaingan diantara ketiga sistem itu dalam menggunakan energi tersebut. Salah satu sistem mengontrol energi itu dengan mengorbankan dua sistem lain. kalau salah satu sistem ini menjadi lebih kuat, kedua sistem lain dengan sendirinya menjadi lebih lemah, kecuali energi baru ditambahkan pada seluruh sistem.
Pada mulanya, id memiliki semua energi yang digunakan untuk merefleksikan gerakan dan memenuhi hasrat melalui proses primer. Energi id sangat mudah berubah karena id tidak mampu mengadakan diskriminasi atau perbedaan secara cermat diantara objek-objek. Objek-objek yang berbeda diperlakukan seolah-olah sama, yakni tidak ada perbedaan antara lambang mental dan acuan fisiknya.
Contohnya adalah terdapat pada bayi yang sedang haus, dia akan mengambil apa saja yang dapat dipegangnya dan memasukkannya ke mulutnya. Karena ego tidak mempunyai sumber energi sendiri, maka ia harus meminjamnya dari id. Pengalihan energi dari id ke proses-proses yang membentuk ego terlaksana lewat suatu mekanisme yang disebut “identifikasi”.
Prosesnya adalah ketika id sudah tak bisa membedakan mana lambang mental dan acuan fisiknya, maka sang pribadi terpaksa membedakan antara dunia batin dengan dunia luar. Ia harus mempelajari perbedaan antara ingatan atau gagasan tentang suatu objek yang tidak ada dengan kesan indera atau persepsi tentang objek yang benar-benar ada.
Pencocokkan antara suatu perwujudan mental dengan kenyataan fisik antara ada dalam batin dan dunia luar inilah yang dimaksud identifikasi.
Ego berusaha membuat lambang secara tepat mempresentasikan kenyataan yang dilambangkanya. Dengan kata lain,identefikasi memungkinkan proses sekunder mengeser proses primer. Karena proses sekunder lebih berhasil dalam mereduksi tenganggan-teganggan,maka semakin banyak kateksis atau pendorong ego terbentuk. Lambat laun semakin efisien ego memonopoli persediaan psikis.
Begitu ego telah menguasai cukup energi, ia dapat menggunakanya untuk maksud-maksud lain selain memuaskan insting-insting melalui proses sekunder.
Sebagian energi dipergunakan untuk meningkatkan perkembangan aneka proses psikologis seperti mempresepsikan, mengingat, membuat penilaian, mendiskriminasikan, dan befikir.
Sebagian lagi harus digunakan untuk mengekang Id agar tidak bertindak secara impulsive dan irasional.daya kekang ini bisa juga disebut anti kateksis atau daya anti dorong. Apabila id menjadi terlalu mengancam, maka ego akan membentuk pertahanan-pertahanan terhadapnya. Namun bisa saja pertahanan-pertahanan yang dilakukan oleh ego menjadi lebih lemah karena energinya tidak cukup untuk menahan besarnya dorongan yang dilakukan oleh id, sehingga memunculkan bentuk ketakutan atau kecemasan dari id sekitarnya penekanan atau pertahanan yang dilakukan ego untuk mengekang dorongan id menjadi gagal. Kecemasan seperti ini biasanya disebut dengan kecemasan neurotic.
Pertahanan ini bisa juga digunakan menanggulangi tekanan-tekanan super ego tehadap ego. Untuk menjaga kelangsungan dari pertahanan-pertahanan ini juga dibutuhkan energi yang cukup.
Enegi ego juga dapat dapat dipindahkan untuk membentuk kateksis-kateksis objek yang baru sehingga terbentuklah jaringan minat, sikap dan preferensi turunan dalam ego. Seperti contoh haus tadi, haus dapat meliputi kateksis-kateksis seperti minat mengumpulkan aneka resep minuman, mengunjungi restoran atau rumah makan yang menyediakan aneka minuman sepesial dan lainya.
Akhirnya, ego sebagai eksekutif organisasi kepribadian menggunakan energi untuk menciptakan integrasi diantara ketiga sistem. Tujuan dari fungsi itegrasi dari ego ini adalah untuk menciptakan keselarasan batin dalam kepribadian sehingga transaksi-transaksi ego dengan lingkungan dapat berjalan dengan lancar dan efektif.
Sekali energi yang disediakan oleh insting-insting disalaurkan ke Ego dan Super Ego lewat mekanisme identifikasi, maka interaksi daya-daya mendorong dan menahan atau kateksis dan anti kateksis bisa berlangsung. Ego harus mengendalikan baik id maupun Super Ego agar dia mampu mengarahkan kepribadian secara bijak, namun dia juga harus memiliki persediaan sisa energi untuk bisa berhubungan dengan dunia luar.
Disamping ego harus mengekang id, ego juga harus membuat pertahanan atas dorongan atau tekanan yang dilakukan oleh Super Ego. Bisa saja tekanan-tekanan dari Super Ego nantinya juga bisa menjadi lebih besar dari tekanan yang dilakukan oleh Ego, atau bisa juga energi Ego untuk mengekang Super Ego menjadi lemah karena Ego juga harus mengekang Id sehingga memunculkan bentuk kecemasan secara moral atau kata hati atau norma-norma yang ada yang dihasilkan dari dunia luar jika pertahanan yang dilakukan Ego untuk mengekang dorongan Super Ego dan dikendalikannya, serta diarahkan oleh Super Ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral ketimbang kenyataan dan sekaligus mengendalikan Id agar energinya disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat.
Ketakutan atas lemahnya pertahanan Ego dalam mengekang Super Ego bisa juga ditimbulkan dari kenyataan yang ada biasanya berasal dari lingkungan dan langsung diterima oleh si pelaku dan berasal dari dunia luar, dan kecemasan yang secara nyata ini biasanya disebut sebagai kecemasan realitas.
Apabila Super Ego menguasai sebagian besar energi, maka fungsi kepribadian akan di dominasi oleh pertimbangan-pertimbangan moral daripada pertimbangan-pertimbangan realitas. Perpindahan-perpindahan energi ini menyebabkan kepribadian dalam diri seseorang terus menerus bergerak secara dinamis.
Daerah tidak sadar yang besar ini berisi dorongan-dorongan, nafsu, ide-ide, dan perasaan-perasaan yang ditekan, merupakan suatu dunia jiwa yang besar. Bagian tidak sadar ini berisi ketakutan-ketakutan vital dan tidak nampak oleh mata, tetapi melaksanakan control penting atas pikiran-pikiran dan perbuatan-perbuatan sadar seseorang. Dari segi ketidak sadaran ini, maka psikologi yang membatasi diri hanya mempellajari kesadaran saja, sama sekali tidak sesuai untuk memahami motif-motif yang mendasari tingkah laku manusia.
Di dunia luar ini terdapat berbagai macam objek yang dapat member kepuasan insting atau kebutuhan manusia. Jika manusia tidak mampu mereaksi atau menanggulangi macam-macam rasa sakit atau perusakan dari dunia luar, maka orang menjadi takut. Seterusnya jika orang tidak berdaya atau kewalahan menghadapi stimulus-stimulus yang berlebihan yang tidak berhasil dikendalikan oleh Ego, maka ego menjadi terbelenggu oleh kecemasan. Jadi rasa cemas adalah rasa was-was, rasa ketakutan, rasa bimbang, kalau apa yang dihadapi itu akan menimbulkan bahaya, susah tidak senang, gagal dan sebagainya. Takut adalah rasa tidak berani menghadapi kenyataan.
si dan perkembangan mental manusia, serta ilmu ini merupakan bagian dari psikologi yang memberikan kontibusi besar dan dibuat untuk psikologi manusia selama ini.

Senin, 17 Februari 2014

Meski Gowes Tetap Prima


Dulu sempat sakit saat baru satu dua hari gowes dari UNS ke Semanggi yang berjarak sekitar 6 kilo. Ditambah dengan jalan yang dilalui kadang tanjakan yang cukup menguras tenaga.  Mungkin karena belum terbiasa. Tapi setelah hampir 3 tahunan di jalani, jika seminggu saja tidak gowes rasanya ada yang kurang. Eeemmm..ternyata ada tips nya nih agar gowes kita tetap prima dan tidak cepat capek apalagi saat melewati tanjakan.
1. Ketika kita melihat tanjakan, kuncinya jangan ”emosi”, tanamkan rasa optimis pada diri bahwa kita dapat melaluinya. Hadapi dengan santai namun pasti, terkadang karena kepingin cepat melalui tanjakan tersebut, kita kayuh sepeda dari jauh sebelum tiba tanjakan, padahal itu sangat menguras tenaga kita apalagi pemula.          
2. Ketika tiba di tanjakan, atur gigi sepeda pada gigi yang ringan, tapi tidak langsung menggunakan gigi yang paling ringan, ini dilakukan dengan proses bertahap, sesuaikan dengan kemampuan                                                                                                                                                                                           dan medan tanjakan yang dihadapi. Ketika lagi mengayuh di tanjakan misalnya kita sudah tidak kuat lagi pada posisi gigi 5, maka kita tingkatkan lagi pada gigi 6, begitu juga jika kita sudah tidak kuat lagi dengan 6, maka kita tingkatkan lagi ke gigi 7, begitu seterusnya.
3. Condongkan badan ke depan dengan posisi duduk urahkan di sadel paling depan. Ini bertujuan agar ban depan sepeda kita tidak mengangkat ke atas dan mengakibatkan jatuh.
4. Kayuhlah sepeda dengan metode kumparan, putarannya menggunakan energi yang sama rata pada setiap putaran kaki. Jadi tidak menghentakan kaki sekaligus pada saat pedal di tekan. Santai tapi pasti.
5. Atur napas, tarik napas dari hidung dan keluarkan dati mulut.
6. Ketika kita memang sudah tidak kuat lagi melewati tanjakan, istilahnya sudah nyerah, maka berhentilah dan istirahat. Jangan dipaksakan karena otot kaki kita mempunyai keterbatasan. Lama-lama juga jika terus berlatih pasti suatu saat kita akan mampu melewati tanjakan yang asalnya kita tidak mampu. Kuncinya sering berlatih.
7. Jika kita mengalami cedera otot saat bersepeda, misalnya kaki keseleo atau kram, cobalah pakai suncream.
8. Teruslah rutin untuk bersepeda, terutama banyak latihan di medan-medan tanjakan. Semakin kita mudah melewati tanjakan, maka medan-medan datar yang kita lewati akan semakin mudah.
9. Jaga pola hidup sehat, agar stamina kita dalam bersepeda tetap prima.
10. Pakailah Jaket
Itu tadi 10 tips agar tidak mudah capek saat gowes tertutama ketika melewati tanjakan. Yuk budayakan sehat. Sehat untuk tubuh, sehat untuk lingkungan, dan sehat untuk jiwa (karena mengajarkan pada diri untuk bersikap sederhana dan percaya bahwa untuk sampai pada tujuan yang direncanakan butuh perjuangan yang keras pula).

Minggu, 16 Februari 2014

Estetika Kosmologi Part: 1

Istilah kosmologi berasal dari bahasa Yunani kosmos yang dipakai oleh Pythagoras (580-500 SM) untuk melukiskan keteraturan dan harmoni pergerakan benda-benda langit. Istilah ini dipakai lagi dalam pembagian filsafat Christian Wolff (1679-1754).
Kosmologi adalah pengetahuan tentang alam semesta. Dalam penggunaan modern oleh para ilmuwan, kosmologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang berupaya memahami struktur ruang-waktu dan komposisi alam semesta skala besar dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan alam. Ini berarti kosmologi memanfaatkan pengamatan rinci untuk memperoleh data dan memanfaatkan teori-teori fisika untuk menafsirkan data tersebut, serta mempergunakan penalaran matematika atau penalaran logika lainnya yang terkandung dalam teori-teori tersebut untuk Kosmologi bukan astronomi yang membagi-bagi seluruh alam semesta menjadi galaksi, bintang, planet, bulan, lalu menelaahnya satu demi satu. Kosmologi memadukan semua cabang dan ranting pohon ilmu pengetahuan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai alam semesta. Kosmologi menelaah ruang dan waktu, menyelidiki asal-usul semua materi pengisi alam, mempelajari peristiwa kosmis penting, termasuk asal mula kehidupan dan kemungkinan perkembangan kecerdasan.memperoleh pengetahuan lengkap mengenai alam semesta fisik.
Dari Kosmos Magis ke Mitologi
Kosmologi modern didukung oleh piranti pengamatan astronomis dan sarana penghitung yang amat canggih, sehingga bahkan wilayah-wilayah alam semesta yang luar biasa jauh pun dapat dimasukkan ke dalam jangkauan pengetahuannya. Namun sebetulnya, selama ribuan tahun sebelumnya, manusia berjuang membuat model alam semestanya dengan hanya bertumpu pada mata telanjang dan perhitungan sederhana.
Model alam semesta paling dini dalam sejarah kosmologi adalah kosmos magis yang dipenuhi oleh emosi gaib. Kosmos ini melahirkan kisah-kisah menakutkan yang sering kita jumpai dalam dongeng masa kecil. Tidak jelas kapan era ini berawal, tetapi yang jelas masa ini berakhir ketika manusia mulai membangun dan menghuni kota-kota sekitar 10.000 tahun lalu.
Pada era ini, kekuatan magis yang bergentayangan dari pohon ke pohon, meloncat dari satu gumpalan awan ke gumpalan lainnya, yang mendebur dari lautan ke daratan, atau di mana pun mereka bersemayam, menjelma ke dalam tubuh dewa dan dewi penguasa kosmos. Inilah era mitologi. Mitologi menjadi kosmologi prailmu, karena mitologi adalah upaya tertua manusia untuk mulai menjelaskan kosmos dengan cara yang sistematik.
Mitologi tertua mengenai alam semesta yang dapat ditelusuri sejauh ini, berasal dari Sumeria (sekarang Irak), Babilonia, Yunani Cina, Suku Maya dan India. Isi mitologi amat beragam, tetapi umumnya dapat ditarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa semua model itu bersifat antroposentrik, yaitu menjadikan manusia sebagai pusat segala kegiatan di dalam alam semesta. Para dewa dan dewi yang sedemikian kuasanya pun hanya disibukkan oleh urusan manusia dari waktu ke waktu.
Awal untuk sebuah Kosmologi Modern
Mitologi merupakan upaya menjelaskan gejala yang tampil di alam dengan cara mencari penyebabnya di luar alam, yaitu kehendak para dewa dan dewi. Era mitologi mulai berakhir ketika manusia tidak lagi mencari penyebab gejala di luar alam, melainkan dari dalam alam sendiri. Para filsuf Yunani mulai memikirkan air, atau udara, atau api, sebagai penyebab segala sesuatu di dalam. Inilah tahap filsafat alam yang dimulai kira-kira abad ke-6 SM.
Sekalipun demikian, gagasan kosmos antroposentrik tetap melekat dalam pemikiran Yunani kuno dan terwujudkan dalam gagasan kosmos geosentrik. Bermacam-macam model alam semesta muncul dan tenggelam sejak itu, tetapi ada satu kosmos geosentrik yang diyakini kebenarannya selama lebih dari 14 abad. Kosmos itu adalah kosmos geosentrik Ptolomaues yang diajukan tahun 140. Ptolomaues yakin bahwa bukan saja Bumi itu adalah pusat tata surya, tetapi pusat gerak seluruh alam semesta. Dengan bantuan aturan-aturan geometri yang rumit, ia mencoba menjelaskan gerak benda-benda langit yang tampak sepanjang tahun. Kosmos geosentrik ini terasa nyaman untuk manusia, karena bukan saja berarti bahwa ia tetap menjadi pusat kegiatan kosmos, tetapi juga bahwa ia adalah mahluk yang pantas mendapat perhatian khusus.
Penggeseran posisi manusia dari tempat yang dipertahankan selama hampir sepanjang sejarah pemikiran manusia itu berlangsung melalui konsep heliosentris yang diajukan Copernicus. Copernicus mengatakan bahwa gerak benda-benda langit sepanjang tahun yang seakan-akan mengelilingi Bumi sesungguhnya adalah gerak semu akibat peredaran Bumi mengelilingi Matahari. Semua planet dan bulan-bulannya mengedari Matahari dalam suatu tata surya; di luar planet yang terjauh terdapat selubung bintang-bintang yang semuanya berpusat di Matahari. Seluruh semesta berpusat di Matahari.
Gagasan radikal Copernicus yang menggeser posisi manusia ini tidak mudah untuk diterima; namun ketika diterima dan dilengkapi dengan hukum gerak planet dari Kepler, tafsiran matematis atas alam oleh Galileo, serta pemahaman mengenai gaya gravitasi oleh Newton, pemikiran Copernicus menjadi sebuah revolusi pemikiran besar yang melandasi perombakan hubungan manusia dengan alam. Keseluruhannya membentuk suatu paduan pemahaman mengenai hukum-hukum mekanika yang bekerja di seluruh alam semesta. Alam semesta pun terpahami melalui hukum-hukum mekanika yang berlaku sama di wilayah mana pun di dalamnya. Konsepsi alam yang terbelah antara wilayah duniawi yang fana dan wilayah langit eterial yang kekal serta tak terjangkau oleh hukum-hukum alam, runtuh bersama hukum-hukum yang dapat dipelajari itu.
Dari Kosmos Statik ke Kosmos Dinamik
Newton memperkenalkan konsep gaya ke dalam alam-semestanya; gaya itu adalah gaya gravitasi yang bertindak sebagai pengatur gerak dalam alam semesta. Sekalipun bersifat menarik, di dalam kosmos menurut konsepsi Newton ini terjadi keseimbangan yang luar biasa sehingga alam semesta tetap statik dan tidak bergerak mengerut oleh gravitasi. Penyebabnya adalah alam semesta ini tidak mempunyai pusat dan terentang takhingga sehingga gaya-gaya yang lahir dari setiap obyek di dalamnya saling meniadakan.
Kosmos Newton dengan gravitasi universalnya yang berlaku di mana-mana ini bertahan lebih dari dua setengah abad. Perubahan mendasar di dalam gagasan mengenai alam semesta muncul bersama teori kenisbian khusus dan umum yang dilahirkan Einstein pada permulaan abad ke-20. Teori ini melandasi hampir seluruh upaya pemahaman mengenai alam semesta skala besar di tempat-tempat teori Newton tidak bekerja lagi dengan cemat atau bahkan mengalami kegagalan.
Einstein memperkenalkan kosmologi statik, yaitu sebuah alam semesta yang tidak bergerak ke manapun. Berbeda dengan kosmos Newton, Kosmos Einstein ini berhingga namun tak berbatas dan mengandung di dalamnya sebuah gaya misterius yang ia beri lambang lambda (8). Mengapa ia memperkenalkan gaya ini?
Di atas kertas, kosmos Einstein sebetulnya bergerak memuai. Namun Einstein menolak temuannya sendiri itu karena tidak seorang pun pada masa itu pernah memperkenalkan gagasan kosmos yang dinamik. Untuk menghentikan gerak itulah ia menambahkan 8 (sesuatu yang kemudian ia sesali sebagai ‘kesalahan bodoh terbesar’ yang pernah ia lakukan).
Selama perkembangan model-model alam semesta itu pula, para astronom menemukan bahwa kosmos dipenuhi oleh berbagai ragam bentuk galaksi. Pengamatan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh Edwin Hubble dan Vesto Slipher menunjukkan bahwa garis-garis pada spekra galaksi-galaksi itu ternyata cenderung bergeser ke panjang gelombang yang lebih merah daripada seharusnya. Gejala inilah yang kemudian ditafsirkan sebagai petunjuk bahwa alam semesta ruang dinamik yang bergerak dari waktu ke waktu, galaksi-galaksi saling menjauh. Pada tahun 1929, Hubble menghitung bahwa kian jauh galaksi kian tinggi laju menjauh galaksi tersebut.
Tafsiran ini melahirkan perdebatan yang cukup panjang. Bayangkan bahwa sebuah galaksi berjarak sekitar 10 milyar tahun cahaya akan menjauh dengan laju 200.000 km/detik atau 0,6 kali laju cahaya. Laju setinggi itu untuk benda semasif galaksi amat sukar untuk dijelaskan melalui model-model alam semesta yang ada.
Persoalan ini menjadi jelas ketika seorang paderi dan kosmolog Belgia LemaitrL (1931) mengajukan model kosmos yang mengembang. Menurut LemaitrL gerak galaksi adalah bukti bahwa alam semesta memuai. Pemuaian itu demikian rupa sehingga ruang-waktu terus membesar tetapi tanpa menyebabkan galaksi-galaksi sendiri ikut membesar; hanya jarak di antaranya kian membesar.
Pertanyaannya, darimana asal gerak memuai tersebut? Mengapa alam semesta membesar terus menerus?
Model Alam Semesta Ledakan Dahsyat
Jika alam semesta sekarang sedang terus menerus memuai, tentu ada suatu waktu di masa lampau ketika ukurannya jauh lebih kecil daripada sekarang. LemaitrL sendiri mengajukan modelnya yang menyatakan bahwa pada awal alam semesta, ada sebuah peristiwa mirip ledakan ‘atom’ amat dahsyat yang mengawali alam semesta. Ledakan itulah yang menyebabkan ruang-waktu memuai dan kini terejawantahkan dalam gerak saling menjauh galaksi.
Pada tahun 1940-an George Gamow dan rekan-rekannya melahirkan konsep Ledakan Dahsyat Panas (The Hot Big Bang Model). Konsep ini merupakan kelanjutan dari konsep LemaitrL. Gamow menyatakan bahwa masa dini kosmos ditandai dengan suhu dan rapatan yang amat tinggi, namun kemudian suhu dan rapatan itu menurun seiring dengan gerak muaian alam semesta. Bagaimanapun, sisa radiasi yang amat panas itu tidak lenyap begitu saja. Gamow memprakirakan bahwa sisa radiasi masa muda alam semesta itu dapat dideteksi pada kosmos masa kini dalam bentuk radiasi bersuhu amat rendah pada riak gelombang mikro.
Pemuaian dan pendinginan kosmos menyebabkan zarah subatom mulai terbentuk, untuk kemudian membentuk atom-atom. Atom-atom inilah yang menjadi cikal bakal seluruh penghuni kosmos, termasuk manusia.
Gagasan Gamow pada saat diajukan belum mempunyai dukungan empiris. Sementara itu muncul Teori Keadaan Tetap yang membantah Model Ledakan Dahsyat. Bondi, pengaju teori itu, menyatakan bahwa alam semesta tidak mempunyai awal dan akhir. Kosmos selalu ada dan akan selalu ada; di dalamnya senantiasa terbentuk materi baru untuk mengganti materi lama yang musnah. Dengan demikian alam semesta senantiasa tetap, tidak berubah dalam skala besar sekalipun mengalami perubahan pada skala kecilnya. Untuk ilmu pengetahuan, konsep yang diajukan Bondi ini amat menarik karena tidak menghadapkan para ilmuwan pada pertanyaan mengenai asal mula alam semesta yang tidak terjelaskan.
Pada tahun 1965 Arno Penzias dan Robert Wilson dari Laboratorium Telefon Bell secara tidak sengaja mendeteksi sinyal aneh dari langit. Sinyal ini, yang ditangkap pada riak gelombang mikro dan mempunyai suhu 3 K, ternyata bukan berasal dari sebuah obyek langit, namun dari seluruh bagian kosmos. Sinyal itu ternyata tersebar secara merata dan dapat dideteksi ke arah manapun antena radio pendeteksi di arahkan. Radiasi ini lalu disebut sebagai radiasi latar belakang kosmos beriak gelombang mikro.
Telaah oleh Robert Dicke dan rekan-rekannya dari Universitas Princeton menunjukkan bahwa radiasi itu tidak lain adalah radiasi sisa masa muda kosmos seperti yang diharapkan Gamow. Radiasi yang menyebar secara serbasama dan isotropik itu sejauh ini menjadi landasan untuk ketepatan model Ledakan Dahsyat memaparkan masa muda alam semesta. Maka kosmologi masa kini pun bertumpu pada model Ledakan Dahsyat sebagai paradigma utamanya.
Ketertalaan yang Amat Menakjubkan
Pemaparan singkat di atas memperlihatkan upaya para kosmolog untuk menjadikan gejala yang tampak dalam alam semesta sebagai acuan pembentukan model-model yang akan memberikan gambaran mengenai alam semesta secara keseluruhan.
Di belakang pemaparan itu sendiri sebetulnya tersimpan sebuah pertanyaan mendasar yang bermaksud mendapatkan jawaban: ‘mengapa alam semesta seperti ini? Sebuah pertanyaan tradisional kosmologi yang terus terbawa dalam nafas modernnya.
Pertanyaan yang semula muncul karena rasa ingin tahu kian menjadi dorongan pencarian makna ketika para ilmuwan menyadari betapa sebetulnya alam semesta ini mempunyai kebolehjadian yang amat kecil untuk menjadi ada; apalagi jika kemudian kita menyadari betapa sangat rumit dan halusnya syarat yang diperlukan untuk mendapatkan alam semesta yang berpengamat sadar (seperti manusia). Kenyataannya, alam semesta seperti ini dan kita ada di dalamnya.
Berbagai gaya berjalin dalam ketertalaan yang amat halus, sehingga sedikit perubahan pada salah satu saja faktor yang berperan dalam pengevolusian alam semesta, betapa pun tak terbayangkan kecilnya, akan meruntuhkan keseluruhannya; membayangkan bahwa akan ada kehidupan dalam alam semesta yang berbeda itupun menjadi hampir-hampir tidak mungkin. Melalui penelaahan terhadap evolusi kehidupan dan seluruh struktur pendukungnya, banyak kosmolog menyimpulkan bahwa kehidupan hanya menjadi mungkin karena di dalam alam semesta berlangsung penggabungan yang sangat seksama antara berbagai interaksi fisika (seperti gaya gravitasi, elektromagneik dan gaya nuklir kuat serta gaya nuklir lemah) dan tetapan-tetapan dasar alam (misalnya laju cahaya, muatan elektron, massa proton).
Mengapa alam semesta seperti ini? Mengapa tetapan-tetapan dasar alam sedemikian harganya sehingga interaksi fisika yang terkait dengannya berhasil membangun suatu struktur yang menghadirkan, mendukung, mengevolusikan kehidupan, dan mempertahankan kelangsungannya sejauh ini? Mengapa alam semesta memuai dengan laju yang amat tepat, begitu rupa, sehingga jika sedikit saja lebih cepat akan menyebabkan seluruh materi di dalamnya cerai berai dan galaksi, bintang, planet, serta tentu saja kita, tidak pernah ada di dalamnya; tetapi mengapa juga tidak sedikit saja lebih lambat sehingga seluruh alam semesta akan runtuh sebelum galaksi-galaksi, bintang-bintang, planet-planet, apalagi kita, dapat terbentuk?
Bukan hanya ketertalaan yang ‘sangat tidak boleh jadi’ semata yang menarik perhatian. Terlebih dahulu para ahli fisika dan kosmolog menemukan ‘kebetulan’ pada berbagai maujud (entitas) fisika yang membangkitkan keingintahuan. Suatu kebetulankah bahwa umur alam semesta (suatu maujud yang mencirikan struktur skala besar alam semesta) dan nisbah (rasio) antara gaya gravitasi dan gaya elektrik dalam atom (yang mencirikan struktur mikroskopik alam semesta) dapat dinyatakan oleh bilangan yang sama, 1040; padahal keduanya berasal dari wilayah yang menerapkan hukum-hukum fisika berbeda yang sejauh ini diketahui tidak saling berhubungan; suatu kebetulankah bahwa jumlah zarah masif dalam alam semesta adalah pangkat dua dari bilangan itu?
Suatu kebetulankah bahwa semua bintang, terlepas dari keragaman jenisnya, mengandung kira-kira 1060 nukleon? Suatu kebetulankah bahwa ruji planet senantiasa merupakan kelipatan akar ukuran cakrawala alam semesta? Suatu kebetulankah bahwa massa rata-rata untuk ukuran tubuh manusia yang-mungkin merupakan akar nisbah massa planet terhadap massa proton?
Persoalan menyangkut asal usul harga tetapan dasar dan interaksi fisika yang telah memungkinkan hadirnya alam semesta tertala yang penuh dengan ‘kebetulan’ ini, sampai sekarang belum terjawab. Sejauh ini harga-harga itu harus diterima sebagai terberi, demikian adanya, dan tidak dapat diketahui dari teori manapun yang selama ini berhasil dikembangkan.
Mengapa alam semesta seperti ini? Mengapa kita mengamatinya demikian?
Inilah pertanyaan luar biasa menarik yang terus menantang kosmologi untuk berupaya keras mencari jawabannya.
Terlepas dari pertanyaan yang amat mendasar itu, mungkin tetap saja kita bertanya, apa gunanya belajar kosmologi? Apa gunanya belajar astronomi?
Dalam hal menjawab pertanyaan praktis ini, mungkin kita dapat menoleh sebentar pada Matahari dan meninjau mekanisme pembangkitan energi di dalamnya. Matahari sudah bersinar untuk waktu yang amat lama, 4,5 milyar tahun, dan masih akan terus bersinar selama kira-kira 5,5 milyar tahun lagi. Energi dahsyat yang memungkinkan umur yang demikian panjang itu adalah energi nuklir. Pemahaman terhadap pembangkitan energi di bintang-bintang telah menyumbang banyak terhadap pengetahuan mengenai mekanisme pembangkitan energi nuklir, yang selain dapat saja berguna, tetapi sekaligus demikian dahsyat.
Astronomi memang sangat jauh. Astrofisika demikian rumit dan seperti tidak berbicara tentang Bumi. Kosmologi demikian luas dan seperti tidak menapak di Bumi yang gegap gempita. Namun dari astrofisika-lah lahir pemahaman mengenai Helium yang menyebabkan bencana balon gas Hindenburg (1930-an) tidak terulang lagi. Dari pengamatan terhadap gerak planet-lah berbagai satelit yang kini membantu kita mengetahui lebih dulu kondisi cuaca, sehingga dapat melakukan antisipasi atas gejala yang mungkin muncul, dapat sampai ke orbitnya mengedari Bumi.
Kemudian, jika kita menoleh pada Venus, kita pun melihat sebuah planet yang pada dini hari terlihat amat mempesona sebagai Bintang Timur, atau cemerlang menakjubkan pada senja hari sebagai Bintang Kejora di kaki langit barat. Namun pemahaman lebih rinci mengenai kondisi planet yang seringkali disebut sebagai kembaran Bumi ini segera saja memperlihatkan bahwa pemanasan dahsyat akibat efek rumah kaca telah membuat planet ini ibarat neraka bersuhu 4500 C; sebuah efek rumah kaca yang dapat saja, bahkan sudah mulai, berlangsung di Bumi akibat ulah manusia yang bergiat dengan industri yang tidak ramah lingkungan.

disadur dari http://arusbawah20.wordpress.com/2010/07/24/kosmologi-mengenali-alam-semesta/