Selasa, 25 Februari 2014

Wahai Adik, Apa Cita-Citamu ?




Pertanyaan itu  yang pernah singgah dalam ingatan sekitar 17 tahun yang silam. Ketika masih berumur sekitar 3-4 tahunnan.
“Ingin menjadi bidan!”
“Kenapa?” tanya Kakak
“Biar setiap hari dandan  cantik seperti Bu Sulih (Bidan paling terkenal di desa).”
Ketika sudah duduk di bangku SD beralih cita-cita.
“Mas, nanti kalau aku sudah gede mau jadi dokter tumbuhan dan dokter hewan.”
Karena waktu itu Bapak memiliki usaha ternah bebek petelur dan setiap hari ikut masuk kandang untuk mengambil telur-telur bebek. Dokter tumbuhan? Memangnya ada?. Hehe... Karena terobsesi dengan dokter tumbuhan alhasil mati semua lidah buaya yang tumbuh liar di pekarangan rumah karena kusuntiki dengan air. Bermodal sebuah suntikan yang didapat dari tempat pembuangan sampah di dekat masjid yang saat itu baru saja ada aksi donor darah. Jarum suntik diisi penuh dengan air, lalu di suntikan pada lidah buaya. Lidah buaya yang disuntik dengan air akan menggelembung. Maka pikir saya, wah ini nanti lidah buayanya bisa gemuk-gemuk. Lalu sehari penuh hanya menyuntiki daun lidah buaya. Namun, apa yang terjadi di keesokan harinya? Semua lidah buaya daunnya kisut. Lambat laut mati semua.
Suatu hari sedang bantu-bantu kakak yang menyapu di teras rumah. Kemudian membakar daun-daun kering. Sambil menjaga api agar tidak menjalar, saya mencari buah melinjo yang jatuh kemudian dibakar. Rasanya nikmat dan gurih. Nah, ketika itu pula naluriah kepo ala anak-anak mulai muncul pada diri saya. Ketika daun kering yang terbakar kenapa bisa bergerak sendiri. Gerakan apa yang menyebabkan hal tersebut. Waktu kecil kakak senantiasa membelikan buku-buku bacaan yang bergizi seperti tokoh James Watt, Marie Currie, Newton, Thomas Alfa Edison, Alexander Graham Bell, Galileo Galilei, Ibnu Sina, Ibnu Rusd, dan masih banyak sederet buku tentang tokoh dunia yang selalu dibawakan kakak setelah pulang dari Solo. Dari situ pula mulai timbul pikiran dalam benak, mungkin tidak ya suatu hari nanti saya bisa jadi ilmuwan seperti mereka, dengan memanfaatkan energi gerak yang dihasilkann oleh api sehingga mampu menggerakkan daun harusnya ada penemuan hebat yang akan saya temukan biar bisa dapat penghargaan nobel. Hehe... (Pikiran liar anak kelas 1 SD).
Saat duduk di bangku SMP, hal yang sampai sekarang masih saya ingat ketika itu. Suatu siang seorang guru geografi memberikan pertanyaan pada murit-murit.
“Apa cita-cita kalian nanti, jawab dengan urut, mulai dari belakang.”
Tiba pada giliran saya, dengan percaya diri yang tinggi dan suara lantang saya menjawab.
“Anggota DPR pak.”
Sepontan seisi kelas menyoraki.
“Huuu, mau korupsi yaaa...”
Maka dengan polos saya menjawab.
“Kalau nanti saya jadi anggota DPR, saya mau jadi anggota DPR yang baik, yang cerdas dan tidak korupsi.”
Bapak gurupun hanya tersenyum.
Ketika SMA hanya saya satu-satunya murit perempuan yang pernah menjadi pemimpin upacara. Awalnya memang ditentang oleh para kakak kelas yang laki-laki. Tapi karena di kelas saya tidak ada anak laki-laki yang berani menjadi pemimpin upacara maka saya pun dengan sigap, siap menjadi pemimpin upacara. (Pertama kali pula di sekolah saya pemimpin upacara memakai rok, awalnya diminta untuk memakai celana, namun saya menolak dan bersikeras untuk tetap memakai rok).
“Kamu itu ya, akhwat idealis!”
Itu yang pernah di lontarkan oleh salah satu ikhwan (penyebutannya sudah ikhwan akhwat, karena waktu SMA saya dulu di Muhammadiyah, jadi sudah menggunakan bahasa ala aktivis).
Ketika itu terjadi perbedaan pendapat saat memutuskan. Dari pihak akhwat, saya yang menjadi jubir. Dari dua belah pihak yakni ikhwan dan akhwat bersikukuh tidak ada yang mau mengalah. Hingga berhari-hari barulah ada pihak yang mau mengalah juga akhirnya. Maka ketika itu saya ingin menajdi seorang politikus, itulah cita-cita yang harus terwujud, (Ketika itu).
Kini, saat telah duduk di kursi perguruan tinggi, cita-cita yang dulu yakin harus di raih malah sedikit demi sedikit luntur, termakan oleh pikiran terjalnya jalan untuk meraih cita itu. Saat saya temukan buku diary sewaktu SMA saya pernah menuliskan di halaman depan buku tersebut. Cita-cita : Anak Berbakti – Muslimah sejati – Istri penyejuk hati, Insyaa Allah.
Ah, tiga kalimat itu yang kini masih terbingkai manis dalam goresan pena untuk dinyatakan dan bukan hanya sekedar pernyataan.
“Lalu apa cita-citamu kini wahai adikku yang paling manis?” Tanya kakak kini.
“Sebelum adikmu ini diminta oleh seorang pemuda sholih, adik harus mengabdikan diri sebagai seorang yang bekerja di media dakwah. Seorang presenter. Boleh mas?”
“Jagalah sholatmu, jadikan Allah sebagai pelindungmu, mas hanya bisa meridhoimu.”

Kabupaten Tentram ‘Karanganyar’
Ahad, 16 Februari 2014
Nisa Asy-Syifa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar