Pertanyaan
itu yang pernah singgah dalam ingatan
sekitar 17 tahun yang silam. Ketika masih berumur sekitar 3-4 tahunnan.
“Ingin
menjadi bidan!”
“Kenapa?”
tanya Kakak
“Biar
setiap hari dandan cantik seperti Bu Sulih
(Bidan paling terkenal di desa).”
Ketika
sudah duduk di bangku SD beralih cita-cita.
“Mas,
nanti kalau aku sudah gede mau jadi dokter tumbuhan dan dokter hewan.”
Karena
waktu itu Bapak memiliki usaha ternah bebek petelur dan setiap hari ikut masuk
kandang untuk mengambil telur-telur bebek. Dokter tumbuhan? Memangnya ada?.
Hehe... Karena terobsesi dengan dokter tumbuhan alhasil mati semua lidah buaya
yang tumbuh liar di pekarangan rumah karena kusuntiki dengan air. Bermodal
sebuah suntikan yang didapat dari tempat pembuangan sampah di dekat masjid yang
saat itu baru saja ada aksi donor darah. Jarum suntik diisi penuh dengan air,
lalu di suntikan pada lidah buaya. Lidah buaya yang disuntik dengan air akan
menggelembung. Maka pikir saya, wah ini nanti lidah buayanya bisa gemuk-gemuk.
Lalu sehari penuh hanya menyuntiki daun lidah buaya. Namun, apa yang terjadi di
keesokan harinya? Semua lidah buaya daunnya kisut. Lambat laut mati semua.
Suatu
hari sedang bantu-bantu kakak yang menyapu di teras rumah. Kemudian membakar
daun-daun kering. Sambil menjaga api agar tidak menjalar, saya mencari buah
melinjo yang jatuh kemudian dibakar. Rasanya nikmat dan gurih. Nah, ketika itu
pula naluriah kepo ala anak-anak mulai muncul pada diri saya. Ketika daun
kering yang terbakar kenapa bisa bergerak sendiri. Gerakan apa yang menyebabkan
hal tersebut. Waktu kecil kakak senantiasa membelikan buku-buku bacaan yang
bergizi seperti tokoh James Watt, Marie Currie, Newton, Thomas Alfa Edison,
Alexander Graham Bell, Galileo Galilei, Ibnu Sina, Ibnu Rusd, dan masih banyak
sederet buku tentang tokoh dunia yang selalu dibawakan kakak setelah pulang
dari Solo. Dari situ pula mulai timbul pikiran dalam benak, mungkin tidak ya
suatu hari nanti saya bisa jadi ilmuwan seperti mereka, dengan memanfaatkan
energi gerak yang dihasilkann oleh api sehingga mampu menggerakkan daun
harusnya ada penemuan hebat yang akan saya temukan biar bisa dapat penghargaan
nobel. Hehe... (Pikiran liar anak kelas 1 SD).
Saat
duduk di bangku SMP, hal yang sampai sekarang masih saya ingat ketika itu.
Suatu siang seorang guru geografi memberikan pertanyaan pada murit-murit.
“Apa
cita-cita kalian nanti, jawab dengan urut, mulai dari belakang.”
Tiba
pada giliran saya, dengan percaya diri yang tinggi dan suara lantang saya
menjawab.
“Anggota
DPR pak.”
Sepontan
seisi kelas menyoraki.
“Huuu,
mau korupsi yaaa...”
Maka
dengan polos saya menjawab.
“Kalau
nanti saya jadi anggota DPR, saya mau jadi anggota DPR yang baik, yang cerdas
dan tidak korupsi.”
Bapak
gurupun hanya tersenyum.
Ketika
SMA hanya saya satu-satunya murit perempuan yang pernah menjadi pemimpin
upacara. Awalnya memang ditentang oleh para kakak kelas yang laki-laki. Tapi
karena di kelas saya tidak ada anak laki-laki yang berani menjadi pemimpin
upacara maka saya pun dengan sigap, siap menjadi pemimpin upacara. (Pertama
kali pula di sekolah saya pemimpin upacara memakai rok, awalnya diminta untuk
memakai celana, namun saya menolak dan bersikeras untuk tetap memakai rok).
“Kamu
itu ya, akhwat idealis!”
Itu
yang pernah di lontarkan oleh salah satu ikhwan (penyebutannya sudah ikhwan
akhwat, karena waktu SMA saya dulu di Muhammadiyah, jadi sudah menggunakan
bahasa ala aktivis).
Ketika
itu terjadi perbedaan pendapat saat memutuskan. Dari pihak akhwat, saya yang
menjadi jubir. Dari dua belah pihak yakni ikhwan dan akhwat bersikukuh tidak
ada yang mau mengalah. Hingga berhari-hari barulah ada pihak yang mau mengalah
juga akhirnya. Maka ketika itu saya ingin menajdi seorang politikus, itulah
cita-cita yang harus terwujud, (Ketika itu).
Kini,
saat telah duduk di kursi perguruan tinggi, cita-cita yang dulu yakin harus di
raih malah sedikit demi sedikit luntur, termakan oleh pikiran terjalnya jalan
untuk meraih cita itu. Saat saya temukan buku diary sewaktu SMA saya pernah
menuliskan di halaman depan buku tersebut. Cita-cita : Anak Berbakti – Muslimah
sejati – Istri penyejuk hati, Insyaa Allah.
Ah,
tiga kalimat itu yang kini masih terbingkai manis dalam goresan pena untuk
dinyatakan dan bukan hanya sekedar pernyataan.
“Lalu
apa cita-citamu kini wahai adikku yang paling manis?” Tanya kakak kini.
“Sebelum
adikmu ini diminta oleh seorang pemuda sholih, adik harus mengabdikan diri
sebagai seorang yang bekerja di media dakwah. Seorang presenter. Boleh mas?”
“Jagalah
sholatmu, jadikan Allah sebagai pelindungmu, mas hanya bisa meridhoimu.”
Kabupaten
Tentram ‘Karanganyar’
Ahad,
16 Februari 2014
Nisa
Asy-Syifa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar