Selasa, 04 Maret 2014

"Ibu, tiada wanita yang paling kukagumi di dunia ini selain engkau."

Pernah suatu hari saya bertanya pada Ibu.
"Ibu, ibu kecewa tidak dengan anak-anak ibu yang sudah di rawat dengan susah payah, di sekolahkan dengan biaya yang tidak sedikit, tapi sekarang, anak-anak ibu sudah berumah tangga semua, sedang kehidupan ibu kini juga tidak berubah. Masih seperti yang dulu, hidup dengan cara yang sederhana, rumah tetap dari bilik bambu yang usang. Tidak seperti tetangga kita yang anaknya hanya disekolahkan sampai SMP tapi mampu membelikan sawah, membuatkan rumah, dan membelikan sapi untuk orang tuannya. Ibu pasti ingin seperti mereka kan bu, punya rumah yang layak, punya sawah yang luas, punya ternak yang banyak. Maafkan kami ya bu."
Dengan penuh kelembutan sang ibu berkata.
"Wahai putriku yang cerdas, demi Allah yang ditangan Nya semua makhluk tunduk, sungguh tiada yang lebih membahagiakan seorang ibu selain memiliki putra putri yang sholih dan sholihah, yang berprestasi, yang mampu menghibur hati ibu karena telah menjadi amanah yang baik. Biarpun hingga akhir hayat ibu tetap berkehidupan seperti ini, kesyukuran yang tak terhingga akan selalu ibu panjatkan pada Allah. Ibu bukan seorang pedagang yang memikirkan untung rugi hidup didunia saat menerima amanah dari Allah. Bukan rumah, bukan sawah apalagi hanya binatang ternak, bukan itu yang ibu harapakan saat putra putri ibu telah dewasa. Ketika putra putri ibu sudah berumah tangga masing-masing itu adalah hal yang paling membahagiakan di banding itu semua. Ibu juga tidah merasa kepayahan saat harus merawat dan bekerja untuk kalian. Karena ibu yakin, Allah yang pantas menghargai itu semua, bukan makhlukNya. Yang Ibu harapakan adalah doa kalian saat ibu nanti telah tiada. Agar ibu bangga di hadapan Allah bahwa ibu telah mampu menjaga amanah dari Nya." Ujar Ibu.
"Ibu, tiada wanita yang paling kukagumi di dunia ini selain engkau."
"Demikian pun ibu anakku, tiada yang paling membahagiakan hati ibu selain mendapat amanah yang baik sepertimu dan kini telah beranjak dewasa dan siap menjadi seorang pendamping."
"Ah, Ibu," merona malu.

Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa
Ya Allah, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar