Jumat, 03 Mei 2013

Tunduk




“Kau harus keluar dari pondok ini.”
“Kenapa kyai, apakah aku tidak layak menjadi santrimu?.”
“Bukan tapi kau harus menerima tantangan dariku. Baiklah, kalau begitu kamu harus berguru kepada kiai samudro, beliau  pengajar di pesantren di daerah Demak. Cari dan bergurulah kepada beliau”
“Sendiko dawuh kyai.”
Keesokan hari santri tersebut segera mencari kediaman kyai Samudro yang ditunjukkan oleh gurunya tersebut. Tibalah di tempat kyai Samudro. Semua biasa saja. Rumah yang terbuat dari bilik bambu yang sangat sederhana namun suasana nyaman terbangun. Setelah mengutarakan maksud tugas pertama yang diberikan pada santri adalah membersihkan selokan rumah-rumah warga.
“Kyai, saya diutus Kyai Shaleh kesini untuk belajar ilmu agama bukan untuk menjadi pekerja yang melayani masyarakat.”
“Jika kamu ingin berguru kepadaku syaratnya adalah mematuhi apa yang aku perintahkann tanpa banyak bertanya kepadaku dan ingat jika ada orang yang menertawakanmu kau tidak boleh marah.”
Sang santri pun dengan agak malas berangkat. Dengan dibekali sebuah cangkul dan sebotol air putih ia pergi menuju ke sebuah desa yang saluran airnya tersumbat. Dan ternyata, saluran air tersebut bukan hanya tersumbat lagi, melainkan telah menjadi tempat penampungan sampah. Bahkan kotoran manusia pun banyak dijumpai di selokan tersebut. Saat sedang membersihkan selokan tersebut tiba-tiba melintaslah seorang warga.
“Hai, anak muda, kau ini santri, kenapa mau membersihkan selokan. Asal kamu tahu, ini selokan bukan hanya lagi selokan, tapi memang telah berubah menjadi penampungan sampah bahkan tinja warga. Kau sinting kalau membersihkan tempat ini.”
Santri merasa geram telah diejek seperti itu. memang benar, seorang santri bukan selayaknya berada di tempat ini, apalagi hanya membersihkan tinja-tinja manusia seperti ini. Tapi ia ingat akan pesan Kyai Samudro bahwa tidak boleh marah jika ada orang yang mengejeknya.
Tugas pertama berhasil ia laksanakan, selokan itu telah bersih. Air yang tadinya tergenang kini telah mampu mengalir kembali.
“Tugas yang kedua untukmu adalah menggali sebuah sumur untuk warga sini.”
“Apa!, menggali sumur kyai? Di tempat yang tandus seperti ini? Tidak saya tidak mau kyai. Apalagi hanya saja yang mengerjakan tanpa ada yang membantu.”
“Ingat persyaratan yang kuajukan kepadamu, bahwa kau tidak boleh membantah apa yang kuperintahkan jika kamu ingin berguru kepadaku.”
Santri tidak dapat membantah apa yang diperintahkan oleh sang kyai. Segera ia mencari tempat yang kira-kira ada airnya. Setelah dirasa ada tempat yang akan keluar airnya, segera ia menggali tanah tandus tersebut. Hampir 3 meter ia menggali tanah tersebut. Namun belum ada tanda-tanda air yang menetespun. Hari berikutnya ia mulai menggali kembali hingga hari ke 4 belum ada tanda-tanda air akan keluar. Saat ia sedang istirahat melintaslah dua orang warga.
“Hei, lihatlah apa yang  dilakukan oleh santri tersebut, ia menggali tanah. Apakah ia akan membuat sumur. Apakah ia sudah sinting menggali sumur di tanah yang tandus seperti ini.”
“Ia benar-benar santri yang sinting, dia pikir dia lebih pengalaman dari kita yang sudah sejak lahir di sini dan kita tahu bahwa di tanah ini tidak akan ada air yang keluar meski digali sedalam apaapun.” Sahut temannya.
“Benar, aku segera kita pergi saja, daripada di sini melihat orang yang bekerja sia-sia.”
Kepalan tangan sang santri sudah siap untuk menghujam ke muka orang tersebut. Segeralah ia ingat pesan sang Kyai. Maka di pudarkan kembali kepalan tersebut.
Sudah hampir 10 meter ia menggali tanah padas itu. Belum ada pula tanda-tanda air muncul. Hingga ia mengatakan bahwa ia mulai menyerah kepada Kyai Samudro. Namun sang kyai hanya tersenyum sembari menepuk pundanya seraya berkata,
“Jangan menyerah anak muda, Allah akan senantiasa memberiak pertolongannya.”
Minggu ke 5 dari saat ia mulai menggali, tiba-tiba cangkul yang ia ayunkan teratu sebuah batu yang sangat keras hingga memerciikan api. Dengan menyiramkan air minum yang ia bawa agar mudah dilepaskan batu itu dari tanah. Batu tersebut akhirnya dapat keluar dari cengkraman tanah. Maha suci Allah. Dari batu yang sangat keras itu muncul lah setetes demi setetes air. Ia mulai memperbesar lobang air tesebut. Dan mengalirlah dengan derasnya air dari lobang itu.
Rupanya keberhasilan sang santri tersebut dalam membuat sumur mulai ramai dibicarakan oleh orang-orang desa. Berduyun-duyunlah orang-orang untuk memastikan apakah benar sumur tersebut keluar airnya. Dalam hitungan jam orang-orang telah antri untuk dapat mengambil air tersebut dengan memakai timba. Dua orang yang dulu pernah mengejeknya juga turut berada di antara orang-orang yang berkerumun.
“Sebentar para warga, kita harus memastikan terlebih dahulu apakah benar air yang keluar dari sumur ini layak untuk kita minum, bisa jadi air yang keluar ini mengandung racun yang berbahaya.” Ujar orang tersebut.
“Benar bapak ibu, kita harus membuktikan terlebih dahulu dan memastikan bahwa air ini tidak beracun, karena kita tahu bahwa selama simbah-simbah kita hidup ditanah tandus ini, hanya dapat menikmati air dari desa sebelah yang jaraknya harus kita tempuh dengan berjalan kaki sepanjang 30 kilo. Sekarang ada seorang pemuda yang tiba-tiba menggali sumur dan keluar airnya, apakah bapak ibu tidak curiga.” Temannya menambahi.
“Baiklah kalau begitu, hai anak muda kau harus meminum air ini sekarang, untuk membuktikan bahwa air ini aman untuk warga gunakan.”
Kemudian minumlah santri tersebut. Ia minum hingga beberapa tegukan. Setelah itu tidak ada tanda-tanda keracunan yang ia alami. Bahkan yang ada wajahnya tampak terlihat segar setelah ia minum. Seluruh warga akhirnya berebut untuk mengambil air.
Tugas pertama dan kedua telah berhasil ia laksanakan.
“Kamu telah melaksanakan tugasmu dengan bagus hai anak muda, sekarang tugas untukmu berikutnya adalah membuat terowongan di bukit yang ada di barat kampung hingga tembus.”
“Apa Kyai? Membuat terowongan di bukit itu. Bukit itu sangat besar Kyai, mana mungkin aku mampu membuat terowongan hingga tembus?”
“Hai anak muda, apakah kau lupa dengan syarat yang kuajukan?”
“Tidak Kyai, aku tidak lupa dengan syarat yang kuajukan. Tapi untuk kali ini aku tidak akan patuh dengan perintahmu. Pekerjaan itu sangat berat. Apalagi aku mengerjakan sendirian. Raga ini sudah letih, jiwa ini juga sudah letih dengan ejekan dari warga sini yang tidak tahu terima kasih.”
“Baiklah anak muda, segera mandilah, pakailah kain kafan yang telah kusediakan agar kutakbirkan kau empat kali takbir. Aku tidak mau semakin di beratkan oleh tangung jawab yang diberikan kepadaku dihadapan Nya karena tidak bisa membina murid sepertimu.”
“Baiklah kalau begitu Kyai, aku akan berangkat untuk membuat terowongan di bukit tersebut.”
Rupanya membuat terowongan di bukit tersebut tidak semudah yang dibayangkannya. Bahkan lebih berat daripada saat membuat sumur. Tak jarang batu-batu yang diatas runtuh dan menimpa kepalanya hingga berdarah. Belum lagi ditambah dengan ejekan dari orang-orang yang melintas.
“Santri itu semakin bertambah gila nya. Ia akan membuat terowongan di bukit tersebut. Apakah dia sudah mengukur betapa luas bukit itu untuk ia lubangi hingga tembus. Ha..ha..ha..dasar santri sinting!”
Yang semakin membuat sakit hati ialah ketika saat pagi hari ia akan memulai menggali terowongan kembali, ia dapati kotoran hewan bahkan kotoran manusia yang menumpuk di terowongan yang belum jadi tersebut. Sehingga pengap lah udara yang ada di dalamnya.
Hampir setahun ia menggali terowongan tersebut. Terbentuklah sebuah lobang yang mengangga berada tepat ditengah-tengah bukit tersebut. Sebuah pemandangan yang menakjubkan ia dapati ketika ia berhasil membuka tanah terakhir yang menutupi. Hamparan sawah dan ladang yang membentang luas. Tapi ada yang aneh dari sawah ladang tersebut, tidak ada satu tanaman yang hijau segar, yang ada hanya rumput ilalang. Jika ada tanaman umbi-umbian itupun hanya yang mampu bertahan hidup tanpa memerlukan air yang banyak. Apakah gerangan yang terjadi sehingga sawah ladang yang begitu luas ini terbengkalai.
“Kyai, terowongan yang menembus bukit itu telah selesai kukerjakan. Sekarang bisakah saya langsung belajar ilmu agama kepada Kyai?”
“Tidak, kamu belum bisa belajar ilmu kepadaku wahai anak muda. Kembalilah ke kediaman Kyai Shaleh terlebih dahulu. Kembalilah kesini saat awal tahun tiba.”
“Kyai, apa yang Kyai katakan. Aku sudah mengerjakan segala perintahmu dengan sebaik-baiknya bahkan aku harus menahan segala lelah dan caci maki. Kenapa perilaku kyai tak ubahnya seperti warga sini yang tidak tahu terima kasih!” Kata sang santri sambil menahan rasa marahnya.
“Apakah kamu ingin segera mengetahuinya wahai anak muda, kau ingin menuntut ilmu dariku sekarang juga.”
“Iya.”
“Baiklah, tapi ingat, setelah ini kau tidak akan berguru lagi kepadaku karena kau telah gagal dalam ujian untuk menjadi murid ku.”
“Iya kyai. Aku sudah lelah dengan permainan ini semua.”
Kyai Samudro tersenyum.
“Akan aku jelaskan kepadamu satu persatu. Pertama aku perintahkan kau untuk membersihkan selokan warga. Masyarakat disini banyak yang terserang penyakit kaki gajah. Penyebab utama sebenarnya adalah kebiasaan dari warga yang membuang tinja sembarangan sehingga menyebabkan cacing penyebab penyakit mudah tersebar. Setelah kau membersihkan selokan itu, lihatlah, orang-orang mulai menyadari akan hal tersebut. Sebelumnya tidak ada yang mengubris meski sudah banyak tenaga medis yang memberikan sosialisasi namun tidak ada tindakan nyata. Yang kedua adalah kuperintahkan kau untuk membuat sumur hingga mengeluarkan air. Bisa kau lihat sendiri berapa manfaat yang kau berikan dari hasil keringatmu menggali sumur tersebut. Sekarang tidak ada lagi hewan ternak yang mati karena kehausan. Tiada lagi bayi yang menangis hingga kejang karena di tinggal oleh sang ibu untuk menggambil air yang jaraknya 30 kilo. Dan tidak  ada lagi pertengkaran karena berebut air. Yang ketiga kuperintahkan kau untuk membuat terowongan yang menembus bukit itu. pasti sudah kau lihat sendiri hamparan sawah ladang mengering yang ada di balik bukit itu. Itu adalah milik masyarakat sini. Di biarkan mengering karena tak ada saluran air yang mampu mengairi sawah tersebut. Saat musim hujan tiba air hanya lewat begitu saja tanpa menyisakan genangan sedikitpun. Namun sekarang, sumur yang kau buat, kemudian selokan yang kini telah mampu dialiri air dapat di salurkan melalui terowongan yang ada di bukit tersebut. Puluhan jiwa dapat menggengam harapan untuk hidup layak tanpa harus menunggu musim hujan tiba.
Anak muda, dahulu nabi Musa tidak pernah tahu kenapa Allah memerintahkan untuk memukulkan tongkatnya ke tanah hingga akhirnya terbelahlah lautan merah. Nabi Nuh tidak tahu kenapa Allah memerintahkan membuat kapal diatas bukit yang tandus dan saat musim kemarau hingga kaumnya yang durhaka ditenggelamkannya ditengah banjir bandang. Nabi Luth tidak tahu kenapa di suruh keluar dari daerahnya sendiri hingga Allah menurunkan hujan batu di tengah kaumnya yang melakukan perbuatan durhaka. Pun baginda Rasulullah tidak tahu kenapa Allah memerintahkan Nabi beserta pengikutnya untuk keluar dari kota Mekah yang merupakan tanah kelahiranya sendiri untuk hijjrah ke kota Madinah. Allah memiliki rahasia  di balik itu semua, dan baru disadari oleh manusia setelah kita benar-benar mampu melaksanakan segala firman Allah tanpa sedikitpun membantahnya atau mengingkarinya. Cobaan berupa caci maki bahkan penghinaan fisik adalah bumbu setiap hamba Allah didalam menjalani seorang hamba demi mendapat kenikmatan dari Nya. Sekarang pulanglah. Kembalillah menuntut ilmu agama kepada kyai Shaleh. Kau belum lulus ujian kesabarab untuk menjadi muridku. Belajarlah kembali kepada kyai Shaleh. Salam dari ku untuk kyai Shaleh.”
Santri itu menunduk. Tak sepatah katapun terucap. Hanya dua titik air yang siap menggenang keluar dari kelopak mata yang berkaca-kaca.
***
Catatan: Sendiko dawuh : laksanakn perintah