“Kenapa kyai, apakah aku
tidak layak menjadi santrimu?.”
“Bukan tapi kau harus
menerima tantangan dariku. Baiklah, kalau begitu kamu harus berguru kepada kiai
samudro, beliau pengajar di pesantren di
daerah Demak. Cari dan bergurulah kepada beliau”
“Sendiko dawuh kyai.”
Keesokan hari santri tersebut
segera mencari kediaman kyai Samudro yang ditunjukkan oleh gurunya tersebut.
Tibalah di tempat kyai Samudro. Semua biasa saja. Rumah yang terbuat dari bilik
bambu yang sangat sederhana namun suasana nyaman terbangun. Setelah
mengutarakan maksud tugas pertama yang diberikan pada santri adalah
membersihkan selokan rumah-rumah warga.
“Kyai, saya diutus Kyai
Shaleh kesini untuk belajar ilmu agama bukan untuk menjadi pekerja yang
melayani masyarakat.”
“Jika kamu ingin berguru
kepadaku syaratnya adalah mematuhi apa yang aku perintahkann tanpa banyak
bertanya kepadaku dan ingat jika ada orang yang menertawakanmu kau tidak boleh
marah.”
Sang santri pun dengan agak
malas berangkat. Dengan dibekali sebuah cangkul dan sebotol air putih ia pergi
menuju ke sebuah desa yang saluran airnya tersumbat. Dan ternyata, saluran air
tersebut bukan hanya tersumbat lagi, melainkan telah menjadi tempat penampungan
sampah. Bahkan kotoran manusia pun banyak dijumpai di selokan tersebut. Saat
sedang membersihkan selokan tersebut tiba-tiba melintaslah seorang warga.
“Hai, anak muda, kau ini
santri, kenapa mau membersihkan selokan. Asal kamu tahu, ini selokan bukan
hanya lagi selokan, tapi memang telah berubah menjadi penampungan sampah bahkan
tinja warga. Kau sinting kalau membersihkan tempat ini.”
Santri merasa geram telah
diejek seperti itu. memang benar, seorang santri bukan selayaknya berada di
tempat ini, apalagi hanya membersihkan tinja-tinja manusia seperti ini. Tapi ia
ingat akan pesan Kyai Samudro bahwa tidak boleh marah jika ada orang yang
mengejeknya.
Tugas pertama berhasil ia
laksanakan, selokan itu telah bersih. Air yang tadinya tergenang kini telah
mampu mengalir kembali.
“Tugas yang kedua untukmu
adalah menggali sebuah sumur untuk warga sini.”
“Apa!, menggali sumur kyai?
Di tempat yang tandus seperti ini? Tidak saya tidak mau kyai. Apalagi hanya
saja yang mengerjakan tanpa ada yang membantu.”
“Ingat persyaratan yang
kuajukan kepadamu, bahwa kau tidak boleh membantah apa yang kuperintahkan jika
kamu ingin berguru kepadaku.”
Santri tidak dapat membantah
apa yang diperintahkan oleh sang kyai. Segera ia mencari tempat yang kira-kira
ada airnya. Setelah dirasa ada tempat yang akan keluar airnya, segera ia
menggali tanah tandus tersebut. Hampir 3 meter ia menggali tanah tersebut.
Namun belum ada tanda-tanda air yang menetespun. Hari berikutnya ia mulai
menggali kembali hingga hari ke 4 belum ada tanda-tanda air akan keluar. Saat
ia sedang istirahat melintaslah dua orang warga.
“Hei, lihatlah apa yang dilakukan oleh santri tersebut, ia menggali
tanah. Apakah ia akan membuat sumur. Apakah ia sudah sinting menggali sumur di
tanah yang tandus seperti ini.”
“Ia benar-benar santri yang
sinting, dia pikir dia lebih pengalaman dari kita yang sudah sejak lahir di
sini dan kita tahu bahwa di tanah ini tidak akan ada air yang keluar meski
digali sedalam apaapun.” Sahut temannya.
“Benar, aku segera kita pergi
saja, daripada di sini melihat orang yang bekerja sia-sia.”
Kepalan tangan sang santri
sudah siap untuk menghujam ke muka orang tersebut. Segeralah ia ingat pesan
sang Kyai. Maka di pudarkan kembali kepalan tersebut.
Sudah hampir 10 meter ia
menggali tanah padas itu. Belum ada pula tanda-tanda air muncul. Hingga ia
mengatakan bahwa ia mulai menyerah kepada Kyai Samudro. Namun sang kyai hanya
tersenyum sembari menepuk pundanya seraya berkata,
“Jangan menyerah anak muda,
Allah akan senantiasa memberiak pertolongannya.”
Minggu ke 5 dari saat ia
mulai menggali, tiba-tiba cangkul yang ia ayunkan teratu sebuah batu yang
sangat keras hingga memerciikan api. Dengan menyiramkan air minum yang ia bawa
agar mudah dilepaskan batu itu dari tanah. Batu tersebut akhirnya dapat keluar
dari cengkraman tanah. Maha suci Allah. Dari batu yang sangat keras itu muncul
lah setetes demi setetes air. Ia mulai memperbesar lobang air tesebut. Dan
mengalirlah dengan derasnya air dari lobang itu.
Rupanya keberhasilan sang
santri tersebut dalam membuat sumur mulai ramai dibicarakan oleh orang-orang
desa. Berduyun-duyunlah orang-orang untuk memastikan apakah benar sumur
tersebut keluar airnya. Dalam hitungan jam orang-orang telah antri untuk dapat
mengambil air tersebut dengan memakai timba. Dua orang yang dulu pernah
mengejeknya juga turut berada di antara orang-orang yang berkerumun.
“Sebentar para warga, kita
harus memastikan terlebih dahulu apakah benar air yang keluar dari sumur ini
layak untuk kita minum, bisa jadi air yang keluar ini mengandung racun yang
berbahaya.” Ujar orang tersebut.
“Benar bapak ibu, kita harus
membuktikan terlebih dahulu dan memastikan bahwa air ini tidak beracun, karena
kita tahu bahwa selama simbah-simbah kita hidup ditanah tandus ini, hanya dapat
menikmati air dari desa sebelah yang jaraknya harus kita tempuh dengan berjalan
kaki sepanjang 30 kilo. Sekarang ada seorang pemuda yang tiba-tiba menggali
sumur dan keluar airnya, apakah bapak ibu tidak curiga.” Temannya menambahi.
“Baiklah kalau begitu, hai
anak muda kau harus meminum air ini sekarang, untuk membuktikan bahwa air ini
aman untuk warga gunakan.”
Kemudian minumlah santri
tersebut. Ia minum hingga beberapa tegukan. Setelah itu tidak ada tanda-tanda
keracunan yang ia alami. Bahkan yang ada wajahnya tampak terlihat segar setelah
ia minum. Seluruh warga akhirnya berebut untuk mengambil air.
Tugas pertama dan kedua telah
berhasil ia laksanakan.
“Kamu telah melaksanakan
tugasmu dengan bagus hai anak muda, sekarang tugas untukmu berikutnya adalah
membuat terowongan di bukit yang ada di barat kampung hingga tembus.”
“Apa Kyai? Membuat terowongan
di bukit itu. Bukit itu sangat besar Kyai, mana mungkin aku mampu membuat
terowongan hingga tembus?”
“Hai anak muda, apakah kau
lupa dengan syarat yang kuajukan?”
“Tidak Kyai, aku tidak lupa
dengan syarat yang kuajukan. Tapi untuk kali ini aku tidak akan patuh dengan
perintahmu. Pekerjaan itu sangat berat. Apalagi aku mengerjakan sendirian. Raga
ini sudah letih, jiwa ini juga sudah letih dengan ejekan dari warga sini yang
tidak tahu terima kasih.”
“Baiklah anak muda, segera
mandilah, pakailah kain kafan yang telah kusediakan agar kutakbirkan kau empat
kali takbir. Aku tidak mau semakin di beratkan oleh tangung jawab yang
diberikan kepadaku dihadapan Nya karena tidak bisa membina murid sepertimu.”
“Baiklah kalau begitu Kyai,
aku akan berangkat untuk membuat terowongan di bukit tersebut.”
Rupanya membuat terowongan di
bukit tersebut tidak semudah yang dibayangkannya. Bahkan lebih berat daripada
saat membuat sumur. Tak jarang batu-batu yang diatas runtuh dan menimpa
kepalanya hingga berdarah. Belum lagi ditambah dengan ejekan dari orang-orang
yang melintas.
“Santri itu semakin bertambah
gila nya. Ia akan membuat terowongan di bukit tersebut. Apakah dia sudah
mengukur betapa luas bukit itu untuk ia lubangi hingga tembus.
Ha..ha..ha..dasar santri sinting!”
Yang semakin membuat sakit
hati ialah ketika saat pagi hari ia akan memulai menggali terowongan kembali,
ia dapati kotoran hewan bahkan kotoran manusia yang menumpuk di terowongan yang
belum jadi tersebut. Sehingga pengap lah udara yang ada di dalamnya.
Hampir setahun ia menggali
terowongan tersebut. Terbentuklah sebuah lobang yang mengangga berada tepat
ditengah-tengah bukit tersebut. Sebuah pemandangan yang menakjubkan ia dapati
ketika ia berhasil membuka tanah terakhir yang menutupi. Hamparan sawah dan
ladang yang membentang luas. Tapi ada yang aneh dari sawah ladang tersebut,
tidak ada satu tanaman yang hijau segar, yang ada hanya rumput ilalang. Jika
ada tanaman umbi-umbian itupun hanya yang mampu bertahan hidup tanpa memerlukan
air yang banyak. Apakah gerangan yang terjadi sehingga sawah ladang yang begitu
luas ini terbengkalai.
“Kyai, terowongan yang
menembus bukit itu telah selesai kukerjakan. Sekarang bisakah saya langsung
belajar ilmu agama kepada Kyai?”
“Tidak, kamu belum bisa
belajar ilmu kepadaku wahai anak muda. Kembalilah ke kediaman Kyai Shaleh
terlebih dahulu. Kembalilah kesini saat awal tahun tiba.”
“Kyai, apa yang Kyai katakan.
Aku sudah mengerjakan segala perintahmu dengan sebaik-baiknya bahkan aku harus
menahan segala lelah dan caci maki. Kenapa perilaku kyai tak ubahnya seperti
warga sini yang tidak tahu terima kasih!” Kata sang santri sambil menahan rasa
marahnya.
“Apakah kamu ingin segera
mengetahuinya wahai anak muda, kau ingin menuntut ilmu dariku sekarang juga.”
“Iya.”
“Baiklah, tapi ingat, setelah
ini kau tidak akan berguru lagi kepadaku karena kau telah gagal dalam ujian
untuk menjadi murid ku.”
“Iya kyai. Aku sudah lelah
dengan permainan ini semua.”
Kyai Samudro tersenyum.
“Akan aku jelaskan kepadamu
satu persatu. Pertama aku perintahkan kau untuk membersihkan selokan warga.
Masyarakat disini banyak yang terserang penyakit kaki gajah. Penyebab utama
sebenarnya adalah kebiasaan dari warga yang membuang tinja sembarangan sehingga
menyebabkan cacing penyebab penyakit mudah tersebar. Setelah kau membersihkan
selokan itu, lihatlah, orang-orang mulai menyadari akan hal tersebut.
Sebelumnya tidak ada yang mengubris meski sudah banyak tenaga medis yang
memberikan sosialisasi namun tidak ada tindakan nyata. Yang kedua adalah
kuperintahkan kau untuk membuat sumur hingga mengeluarkan air. Bisa kau lihat
sendiri berapa manfaat yang kau berikan dari hasil keringatmu menggali sumur
tersebut. Sekarang tidak ada lagi hewan ternak yang mati karena kehausan. Tiada
lagi bayi yang menangis hingga kejang karena di tinggal oleh sang ibu untuk
menggambil air yang jaraknya 30 kilo. Dan tidak
ada lagi pertengkaran karena berebut air. Yang ketiga kuperintahkan kau
untuk membuat terowongan yang menembus bukit itu. pasti sudah kau lihat sendiri
hamparan sawah ladang mengering yang ada di balik bukit itu. Itu adalah milik
masyarakat sini. Di biarkan mengering karena tak ada saluran air yang mampu
mengairi sawah tersebut. Saat musim hujan tiba air hanya lewat begitu saja
tanpa menyisakan genangan sedikitpun. Namun sekarang, sumur yang kau buat,
kemudian selokan yang kini telah mampu dialiri air dapat di salurkan melalui
terowongan yang ada di bukit tersebut. Puluhan jiwa dapat menggengam harapan
untuk hidup layak tanpa harus menunggu musim hujan tiba.
Anak muda, dahulu nabi Musa tidak pernah tahu kenapa Allah memerintahkan untuk memukulkan tongkatnya ke tanah hingga akhirnya terbelahlah lautan merah. Nabi Nuh tidak tahu kenapa Allah memerintahkan membuat kapal diatas bukit yang tandus dan saat musim kemarau hingga kaumnya yang durhaka ditenggelamkannya ditengah banjir bandang. Nabi Luth tidak tahu kenapa di suruh keluar dari daerahnya sendiri hingga Allah menurunkan hujan batu di tengah kaumnya yang melakukan perbuatan durhaka. Pun baginda Rasulullah tidak tahu kenapa Allah memerintahkan Nabi beserta pengikutnya untuk keluar dari kota Mekah yang merupakan tanah kelahiranya sendiri untuk hijjrah ke kota Madinah. Allah memiliki rahasia di balik itu semua, dan baru disadari oleh manusia setelah kita benar-benar mampu melaksanakan segala firman Allah tanpa sedikitpun membantahnya atau mengingkarinya. Cobaan berupa caci maki bahkan penghinaan fisik adalah bumbu setiap hamba Allah didalam menjalani seorang hamba demi mendapat kenikmatan dari Nya. Sekarang pulanglah. Kembalillah menuntut ilmu agama kepada kyai Shaleh. Kau belum lulus ujian kesabarab untuk menjadi muridku. Belajarlah kembali kepada kyai Shaleh. Salam dari ku untuk kyai Shaleh.”
Anak muda, dahulu nabi Musa tidak pernah tahu kenapa Allah memerintahkan untuk memukulkan tongkatnya ke tanah hingga akhirnya terbelahlah lautan merah. Nabi Nuh tidak tahu kenapa Allah memerintahkan membuat kapal diatas bukit yang tandus dan saat musim kemarau hingga kaumnya yang durhaka ditenggelamkannya ditengah banjir bandang. Nabi Luth tidak tahu kenapa di suruh keluar dari daerahnya sendiri hingga Allah menurunkan hujan batu di tengah kaumnya yang melakukan perbuatan durhaka. Pun baginda Rasulullah tidak tahu kenapa Allah memerintahkan Nabi beserta pengikutnya untuk keluar dari kota Mekah yang merupakan tanah kelahiranya sendiri untuk hijjrah ke kota Madinah. Allah memiliki rahasia di balik itu semua, dan baru disadari oleh manusia setelah kita benar-benar mampu melaksanakan segala firman Allah tanpa sedikitpun membantahnya atau mengingkarinya. Cobaan berupa caci maki bahkan penghinaan fisik adalah bumbu setiap hamba Allah didalam menjalani seorang hamba demi mendapat kenikmatan dari Nya. Sekarang pulanglah. Kembalillah menuntut ilmu agama kepada kyai Shaleh. Kau belum lulus ujian kesabarab untuk menjadi muridku. Belajarlah kembali kepada kyai Shaleh. Salam dari ku untuk kyai Shaleh.”
Santri itu menunduk. Tak
sepatah katapun terucap. Hanya dua titik air yang siap menggenang keluar dari
kelopak mata yang berkaca-kaca.
***
Catatan: Sendiko dawuh :
laksanakn perintah
