Kamis, 11 September 2014

Bismillah, Aku Mendampingimu....






Jam di ruang tengah menunjukkan pukul 20.32 WIB. Kenapa detik-detiknya semakin jelas terdengar ya. Oh..ternyata bukan. Ternyata itu denyut jantungku yang mulai tidak beraturan. Bagaimana tidak, malam ini Bapak akan kedatangan seorang tamu yang baru pertama kali bertandang ke rumah.
Siapa sih dia? Kenal juga tidak. Seorang rijal berperawakan tidak terlalu tinggi, berkulit agak gelap dan berkacamata minus. Nadhor. Ya aku menjalani proses nadhor dengan seorang pemuda yang CV nya sudah kubaca beberapa minggu yang lalu. Dalam hati, kok tidak sepadan dengan namanya yang cukup berat ya. Karena di CV tidak dilampirkan foto si pemilik CV.  Irfan Bahiuddin. Namanya seperti pemain sepak bola yang cukup digandrungi cewe-cewe karena kegantengannya itu (Itu sih Irfan Bachdim kali neng..hehe).
Bapak banyak bertanya tentangnya sebelum waktu diserahkan kepadaku. Saat sekilas melihat, kok tidak ada istimewanya sama sekali sih ikhwan yang satu ini. Namun, kok tiba-tiba ada desir aneh yang menyergap. Falling in love???..... Ah, jelas tidak lah. Saya baru mengenalnya. Itupun hanya berdasar CV yang disodorkan. Bagaimana mungkin. Aku menghela nafas panjang untuk menata ruang pikirku yang mulai di masuki oleh lorong labirin yang penuh teka-teki.
“Ya Allah, jika ini adalah rasa cinta seperti virus merah jambu, singkirkan virus itu ya Allah. Karena aku tak mau terjangkit virus yang melumpuhkan ibadah dan imanku.”
Aku tertunduk lesu seketika saat ikhwan tersebut menjawab beberapa pertanyaanku tentang komitmen niat baiknya. Benarkah secepat ini aku akan meraih suatu peristiwa besar ‘mitsaqon gholidho,’  separuh dien.
Tetapi baik dia atau kamu belum saling mengenal? Ah...Biarlah. Biar Allah saja yang  mengenalkan kami melalui kemantapan hati. Ujian demi ujian kami lalui setelah nadhor yang sangat mendebarkan tersebut. Alhamdulillah saat itu juga bulan romadhon, maka kegalauan hati senantiasa tersingkap oleh amalan bulan romadhon yang sangat menggoda hadiahnya dari Allah.
Kamu menikah? Serius? Lihat, baru juga kamu liburan semester 6. Boro-boro judul skripsi, magang untuk syarat pengajuan judul saja belum dibuat. Bagaimana nanti jika kuliahmu tidak kelar-kelar karena menikah, bagaimana nanti kamu mengurus suami, bagaimana jika ada permasalahan sedang calon suamimu itu juga akan ke luar negeri untuk melanjutkan study S2 di negeri Jiran. Bagaimana..bagaimana dan..bagaimana.
Beruntun pertanyaan mendramatisir menghampiri ruang pikirku lagi. Hingga saat sepertiga malam tiba, dengan masih memakai mukena aku tulis di catatan harianku, menikah adalah suatu ibadah, ibadah adalah suatu kebaikan, dan kebaikan akan bermuara pada keberkahan. Bismillah, aku menikah.
Hanya bermodalkan mengenal melalui CV dan keyakinan akan komitmennya ketika nadhor, aku menyakinkan diri untuk menerima pinangan ikhwan lulusan Teknik Fisika ITB angkatan 2008 tersebut. Itu lebih dari cukup bagiku tanpa harus mempertimbangkan bagaimana sosok dan perawakannya. Biar menjadi urusan Allah yang memberikan kesyukuran akan segala kelebihan dan kekurangan pada hati kami saat kami telah benar-benar membangun mahligai rumah tangga. Ketsiqohan dalam hati, ia adalah jodoh baik untuk agamaku dan untuk kebaikan dunia dan akhiratku.
Hari H telah ditentukan, semua serba cepat. Sekitar 3 minggu setelah lamaran aku harus mempersiapkan segalanya. Selain disibukkan dengan padatnya jadwal siaran radio, mengajar murid les privat, terlebih hari iedul fitri yang banyak acara yang mendadak baik dari organisasi maupun kegiatan luar kampus. Ini benar-benar menantang adrenalin. Keuangan yang mepet sehingga aku harus berusaha keras mengembalikan ingatan pengalaman selama 2 periode menjadi manager keuangan di suatu lembaga keilmiahan fakultas untuk mampu mengelola keuangan limit. Hingga H-1 pernikahan, aku masih berkeliaran di kota solo untuk berburu keperluan dan mengambil gaun pengantin  yang sudah dimasukkan ke penjahit dua minggu sebelumnya (dengan agak sedikit memaksa sang penjahit...*hehe_Punten mbak Rovi).
Malam hari aku sempat drop karena kecapekan. Dengan kantung mata yang agak membesar dan kehitaman aku mencoba mengembalikan kesegaran wajah memakai air hangat. Yap...esok hari akan datang seorang pangeran menjemput. Karena kondisi badan yang masih menyisakan kecapekan, ketika mendengar kumandang adzan subuh aku baru bangun. Gamis ungu muda, jilbab ungu muda berhias kain renda bunga yang sangat sederhana aku kenakan dengan rasa berdebar.
Hari Senin, 4 Agustus 2014 Pukul 09.00 WIB sighot nikah dibacakan. 
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan..?
Menakjubkan....
Hanya dengan beberapa kata saja, statusku kini telah berubah. Kini aku menjadi seorang ‘isteri’.
Seketika keharuan menyergap relung hati. Menangis? Sudah tak perlu ditanya lagi karena dari awal mau pengucapan ijab qobulpun aku sudah berleleran airmata hingga tisu yang kupegang mungkin bisa diperas. Ketika si pangeran mengucapkan ‘qobiltu’ tangisku semakin pecah  (tapi tidak sampai mengeluarkan suara lho ya...hehe...)
Selesai akad nikah sebelum ia berada di tamu putra aku sempat disandingkan dulu dengan si pangeran di ruangan yang di situ hanya disaksikan oleh tamu puteri sedang tamu putra diluar. Remasan tangan pertama oleh seorang pemuda yang baru beberapa menit lalu sah menjadi imamku. Aku balas remasan tangannya dengan cubitan sekuat tenaga..(waduh...istrinya anarkis). Siapa sih kamu? Pemuda yang datang ke rumah malam-malam bakda isya’ sambil membawa brownis pandan sarikaya, yang nadhor dipenuhi dengan pertanyaan dan jawaban yang tidak ada bau romantisnya ‘blas’ sama sekali. Dan kini kau menjadi suamiku. Hmmmm....Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan wahai diri?
Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
Kini hari demi hari kulalui bersamamu. Semakin membuatku takjub akan kekuasaan Allah. Begitu mudah dan indah jika manusia selalu berada di aturan Allah. Semakin hari semakin cinta itu tumbuh bak taman Keukenhof. Kelebihan dan kekurangan dari masing-masing muncul menambah keimanan dalam hati kami. Meski sementara si pangeran setelah 1 bulan pernikahan pergi ke negeri menara Petronas untuk study S2 di Universitas Teknologi Malaysia, sedang aku sendiri harus sebulan tinggal di kota hujan Bogor untuk melaksanakan magang mahasiswa. Jarak yang terpisah semakin mempererat hubungan kami. Pesan yang selalu diingatkan oleh si pangeran, “Adik, terkadang ikatan cinta itu perlu dididik dengan jarak, agar ia mampu terus tumbuh dan segar.” (Emt...Pangeran, so sweet banget sih..hihi).
Menikah karena ibadah, setiap ibadah pasti indah dan akan berbuah syurga bagi setiap hamba yang beriman, bersabar dan berpikir.
Kini
Kita mulakan membangun cinta
Bersiap dengan pondasi takwa
Mensyukuri setiap derap cerita indah penuh cinta
Meski sulit datang membayang, tetapi aku percaya Allah hadir diantara kita
Mententramkan setiap rajutan langkah
Aku percayakan ikatan ini untuk kau jaga
Maka, percayakan pula padaku untuk kujaga kehormatan keluarga kita
Percayakan putra-putri kita untuk kujaga dan kudidik
Percayakan setiap nafkah harta yang kau berikan untuk kukelola dengan baik
Inilah untukmu wahai imamku,
Bismillah aku mendampingimu...


Sentul, Kota Hujan Bogor
9 September 2014
Catatan Pengantin Baru