Jam
di ruang tengah menunjukkan pukul 20.32 WIB. Kenapa detik-detiknya semakin
jelas terdengar ya. Oh..ternyata bukan. Ternyata itu denyut jantungku yang
mulai tidak beraturan. Bagaimana tidak, malam ini Bapak akan kedatangan seorang
tamu yang baru pertama kali bertandang ke rumah.
Siapa
sih dia? Kenal juga tidak. Seorang rijal berperawakan tidak terlalu tinggi,
berkulit agak gelap dan berkacamata minus. Nadhor. Ya aku menjalani proses
nadhor dengan seorang pemuda yang CV nya sudah kubaca beberapa minggu yang
lalu. Dalam hati, kok tidak sepadan dengan namanya yang cukup berat ya. Karena
di CV tidak dilampirkan foto si pemilik CV.
Irfan Bahiuddin. Namanya seperti pemain sepak bola yang cukup
digandrungi cewe-cewe karena kegantengannya itu (Itu sih Irfan Bachdim kali
neng..hehe).
Bapak
banyak bertanya tentangnya sebelum waktu diserahkan kepadaku. Saat sekilas
melihat, kok tidak ada istimewanya sama sekali sih ikhwan yang satu ini. Namun,
kok tiba-tiba ada desir aneh yang menyergap. Falling in love???..... Ah, jelas
tidak lah. Saya baru mengenalnya. Itupun hanya berdasar CV yang disodorkan.
Bagaimana mungkin. Aku menghela nafas panjang untuk menata ruang pikirku yang
mulai di masuki oleh lorong labirin yang penuh teka-teki.
“Ya
Allah, jika ini adalah rasa cinta seperti virus merah jambu, singkirkan virus
itu ya Allah. Karena aku tak mau terjangkit virus yang melumpuhkan ibadah dan
imanku.”
Aku
tertunduk lesu seketika saat ikhwan tersebut menjawab beberapa pertanyaanku
tentang komitmen niat baiknya. Benarkah secepat ini aku akan meraih suatu
peristiwa besar ‘mitsaqon gholidho,’
separuh dien.
Tetapi
baik dia atau kamu belum saling mengenal? Ah...Biarlah. Biar Allah saja
yang mengenalkan kami melalui kemantapan
hati. Ujian demi ujian kami lalui setelah nadhor yang sangat mendebarkan
tersebut. Alhamdulillah saat itu juga bulan romadhon, maka kegalauan hati
senantiasa tersingkap oleh amalan bulan romadhon yang sangat menggoda hadiahnya
dari Allah.
Kamu
menikah? Serius? Lihat, baru juga kamu liburan semester 6. Boro-boro judul
skripsi, magang untuk syarat pengajuan judul saja belum dibuat. Bagaimana nanti
jika kuliahmu tidak kelar-kelar karena menikah, bagaimana nanti kamu mengurus
suami, bagaimana jika ada permasalahan sedang calon suamimu itu juga akan ke
luar negeri untuk melanjutkan study S2 di negeri Jiran. Bagaimana..bagaimana
dan..bagaimana.
Beruntun
pertanyaan mendramatisir menghampiri ruang pikirku lagi. Hingga saat sepertiga
malam tiba, dengan masih memakai mukena aku tulis di catatan harianku, menikah
adalah suatu ibadah, ibadah adalah suatu kebaikan, dan kebaikan akan bermuara
pada keberkahan. Bismillah, aku menikah.
Hanya
bermodalkan mengenal melalui CV dan keyakinan akan komitmennya ketika nadhor,
aku menyakinkan diri untuk menerima pinangan ikhwan lulusan Teknik Fisika ITB
angkatan 2008 tersebut. Itu lebih dari cukup bagiku tanpa harus
mempertimbangkan bagaimana sosok dan perawakannya. Biar menjadi urusan Allah
yang memberikan kesyukuran akan segala kelebihan dan kekurangan pada hati kami
saat kami telah benar-benar membangun mahligai rumah tangga. Ketsiqohan dalam
hati, ia adalah jodoh baik untuk agamaku dan untuk kebaikan dunia dan
akhiratku.
Hari H telah ditentukan, semua serba cepat. Sekitar 3 minggu
setelah lamaran aku harus mempersiapkan segalanya. Selain disibukkan dengan
padatnya jadwal siaran radio, mengajar murid les privat, terlebih hari iedul
fitri yang banyak acara yang mendadak baik dari organisasi maupun kegiatan luar
kampus. Ini benar-benar menantang adrenalin. Keuangan yang mepet sehingga aku
harus berusaha keras mengembalikan ingatan pengalaman selama 2 periode menjadi
manager keuangan di suatu lembaga keilmiahan fakultas untuk mampu mengelola
keuangan limit. Hingga H-1 pernikahan, aku masih berkeliaran di kota solo untuk
berburu keperluan dan mengambil gaun pengantin yang sudah dimasukkan ke penjahit dua minggu
sebelumnya (dengan agak sedikit memaksa sang penjahit...*hehe_Punten mbak
Rovi).
Malam
hari aku sempat drop karena kecapekan. Dengan kantung mata yang agak membesar
dan kehitaman aku mencoba mengembalikan kesegaran wajah memakai air hangat.
Yap...esok hari akan datang seorang pangeran menjemput. Karena kondisi badan
yang masih menyisakan kecapekan, ketika mendengar kumandang adzan subuh aku
baru bangun. Gamis ungu muda, jilbab ungu muda berhias kain renda bunga yang
sangat sederhana aku kenakan dengan rasa berdebar.
Hari
Senin, 4 Agustus 2014 Pukul 09.00 WIB sighot nikah dibacakan.
Maka
nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan..?
Menakjubkan....
Hanya
dengan beberapa kata saja, statusku kini telah berubah. Kini aku menjadi
seorang ‘isteri’.
Seketika
keharuan menyergap relung hati. Menangis? Sudah tak perlu ditanya lagi karena
dari awal mau pengucapan ijab qobulpun aku sudah berleleran airmata hingga tisu
yang kupegang mungkin bisa diperas. Ketika si pangeran mengucapkan ‘qobiltu’
tangisku semakin pecah (tapi tidak
sampai mengeluarkan suara lho ya...hehe...)
Selesai
akad nikah sebelum ia berada di tamu putra aku sempat disandingkan dulu dengan
si pangeran di ruangan yang di situ hanya disaksikan oleh tamu puteri sedang
tamu putra diluar. Remasan tangan pertama oleh seorang pemuda yang baru beberapa
menit lalu sah menjadi imamku. Aku balas remasan tangannya dengan cubitan
sekuat tenaga..(waduh...istrinya anarkis). Siapa sih kamu? Pemuda yang datang
ke rumah malam-malam bakda isya’ sambil membawa brownis pandan sarikaya, yang
nadhor dipenuhi dengan pertanyaan dan jawaban yang tidak ada bau romantisnya
‘blas’ sama sekali. Dan kini kau menjadi suamiku. Hmmmm....Maka nikmat Tuhanmu
yang manakah yang kau dustakan wahai diri?
Dan
diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
Kini
hari demi hari kulalui bersamamu. Semakin membuatku takjub akan kekuasaan
Allah. Begitu mudah dan indah jika manusia selalu berada di aturan Allah.
Semakin hari semakin cinta itu tumbuh bak taman Keukenhof. Kelebihan dan
kekurangan dari masing-masing muncul menambah keimanan dalam hati kami. Meski
sementara si pangeran setelah 1 bulan pernikahan pergi ke negeri menara
Petronas untuk study S2 di Universitas Teknologi Malaysia, sedang aku sendiri
harus sebulan tinggal di kota hujan Bogor untuk melaksanakan magang mahasiswa.
Jarak yang terpisah semakin mempererat hubungan kami. Pesan yang selalu
diingatkan oleh si pangeran, “Adik, terkadang ikatan cinta itu perlu dididik
dengan jarak, agar ia mampu terus tumbuh dan segar.” (Emt...Pangeran, so sweet
banget sih..hihi).
Menikah
karena ibadah, setiap ibadah pasti indah dan akan berbuah syurga bagi setiap
hamba yang beriman, bersabar dan berpikir.
Kini
Kita
mulakan membangun cinta
Bersiap
dengan pondasi takwa
Mensyukuri
setiap derap cerita indah penuh cinta
Meski
sulit datang membayang, tetapi aku percaya Allah hadir diantara kita
Mententramkan
setiap rajutan langkah
Aku
percayakan ikatan ini untuk kau jaga
Maka,
percayakan pula padaku untuk kujaga kehormatan keluarga kita
Percayakan
putra-putri kita untuk kujaga dan kudidik
Percayakan
setiap nafkah harta yang kau berikan untuk kukelola dengan baik
Inilah
untukmu wahai imamku,
Bismillah
aku mendampingimu...
Sentul,
Kota Hujan Bogor
9
September 2014
Catatan
Pengantin Baru

