Selasa, 26 Januari 2016

Cahaya Mata Itu Kini Hadir

Rasanya cepat sekali 38 Week itu. Kehamilan pertama bagiku tidak seseram yang biasanya dibicarakan. Aku tetap bisa berativitas seperti biasa. Bahkan bulan pertama kehamilan harus saya jalani di lokasi KKN, sedang suami masih study di University Teknologi Malaysia untuk menyelesaikan S2 nya. Bahkan hampir selama hamil ini saya belum pernah merasakan bagaiman morning sicknees atau yang biasanya dialami oleh wanita hamil terutama di trimester pertama. Aktivitas biasa seperti siaran, bolak-balik kampus jalan kaki bahkan sudah menjadi rutinitas tiap pagi. Rasanya sangat bersyukur mendapatkan nikmat kehamilan dengan sehat.
Pada usia 36 w, saya periksa ke dr.Murtiningsih Sp.OG, dari hasil USG, cairan ketuban atau amnion dalam batas yang kurang.
Bakda Subuh tanggal 29 September.
“Mas, perutku sakit.”
“Kontraksinya sudah kuat. Jangan-Jangan masih kontraksi palsu?”
“Ngak tau, tapi kayaknya sudah mulai teratur deh, semoga masih kontaksi palsu.” Perkiraan dari dokter untuk lahiran memang masih sekitar sepuluh hari lagi. Jadi untuk persiapan secara psikologi aku belum begitu yakin untuk lahiran sekarang. Saat kontraksi kuat kupegang erat tangan suamiku, sembari dia bertanya. “Sakitnya makin kuat?” Aku mengangguk tanda mengiyakan. Suamiku segera bergegas untuk mengajak ke bidan yang selama ini mengontrol setelah memberitahu Bapak dan Ibu tentang kondisiku.
Tiba ditempat bidan aku merasa sudah tidak merasakan kontraksi dan mengajak suami untuk balik pulang, tapi suami bersiteguh “Periksa dulu, takutnya ada apa-apa.”
Bidan memintaku untuk periksa ke kamar mandi dulu apakah sudah ada darah mercampur lendir yang keluar. Dan betapa terkejutnya, ternyata sudah ada bercak darah.
“Cek pembukaan dulu ya mbak?” kata asisten bidan. Sudah buka lima. Tinggal menunggu beberapa saat lagi untuk menuju ke lengkap. Karena aku belum sarapan, suami pulang untuk mengambil sarapan dan tas yang komplit dengan segala perlengkapannya seperti kain jarit, stagen, bendong bayi dan beberapa stel baju bayi serta baju gantiku yang telah kupersiapan sejak usia kandungan delapan bulan.
Aku diajak ke ruang bersalin.
“Mbak jalan-jalan dulu saja, biar mempercepat pembukaan.” Kata asisten bidan
Padahal dalam hati aku sudah tidak tahan untuk jalan. Rasanya si janin sudah merangsek ingin segera keluar.

Fase Aktif
Aku sudah tidak tahan lagi untuk menahan agar tidak mengejan. Beberapa kali asisten bidan meminta untuk tidak mengejan dulu karena pembukaan belum lengkap. Tapi aku sudah berusaha keras untuk tidak mengejan, yang ada bayi rasanya yang mendorong sendiri. Suami yang setia disampingku beberapa kali memberikan minum teh manis, agar ada sedikit energi penyuplai karena memang belum ada sesuap makanan pun masuk. Sebenarnya suami juga mencoba menawari untuk makan dulu karena sudah dibawakan oleh Ibu dari rumah. Tapi rasanya sudah tak ingin menelan makanan, karena rasa sakit yang semakin bertambah dan bertambah.
Saya sempat berkata konyol pada asisten bidan yang saat itu sedang mempersiapkan alat-alat.
“Mbak, jangan diinduksi ya?”
“Tidak mbak, kan pembukaannya sudah cepat banget tuh, gak perlu induksi.”
Dalam hati (iya juga ya, ini sudah hampir lengkap dan sakitnya bertambah terus gini kok, ngapain masih diinduksi.. J )
“Mas, sakiiiiit.” Kataku pada Suami yang masih memegangi tanganku.
“Iya sayang, doa terus ya, berdoa semoga dilancarkan, adek lahir sehat.”
Ah, seperti ada kekuatan yang mendadak hadir saat aku mulai payah kehabisan tenaga. Setelah suami berkata begitu tiba-tiba ada sesuatu yang pecah dari dalam. Byuuuur......Yap ketuban pecah. Saat air ketuban keluar rasanya legaaa beberapa saat bisa menghirup udara tanpa rasa sakit. Namun itu hanya hitungan detik, sampai kemudian aku ingin mengejan hebat tak tertahan. Sudah tak peduli lagi untuk sekeras-kerasnya teriak (tapi teriakan takbir kok..hehe). Suami memegang tanganku supaya ada tumpuan untuk mengejan. Saat itu suami satu-satunya yang memberi motivasi.
“Doa sayang, doa terus...hirup udara dari hidung keluarkan dari mulut.” Sambil mempraktekan supaya saya mengikuti.
Dan akhirnya...
Allahu Akbar walhamdulillah...rasanya telah keluar sesuatu yang sangat besar dari rahimku. Rasanya tubuh begitu ringan dan ingin sekali mata terpejam karena lelah. Sayup-sayup yang kudengar suara suamiku memanggil-manggil “Dik Nisa, Dik Nisa...Sayang.” dan lambat laut mataku kembali terbuka. Kulihat suamiku tampak begitu khawatir yang melihatku setengah sadar.
“Doa terus sayang, doa teruuus.” Ujar suamiku. Ternyata bayiku lahir dengan tidak langsung menangis. Harus di oksigen terlebih dulu. Namun belum ada satu menit terdengar tangisnya begitu membuncah. Masyaa Allah, Itu tangisan yang paling indah yang sudah sangat dirindukan oleh Ayah Ibu nak.
“Adek mas?” kataku pada suami yang masih memegang erat tanganku .
“Iya sayang, Alhamdulillah.” Jawabnya sambil tersenyum dan membelai rambutku. Ah, suamiku kau pahlawanku hari ini.
Ananda lahir dengan berat 3,1 kg dan panjang 49 cm. Putra pertama kami, Masyaa Allah tampan sekali kau Nak. Semoga kelak engkau adalah cahaya mata di dunia dan tabungan terbaik di akhirat.

Epilog

Ananda kami beri nama Umar Amirul Umara’. Umar kami ambil dari nama Khulafaur Rasyidin yang kedua yakni Umar bin Al-Khatab. Dan Amirul Umara’ adalah gelar yang disematkan oleh Rasulullah kepada sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah yang memiliki arti  Pemimpin Para Pemimpin. Doa dari kami semoga Ananda Umar Amirul Umara’ kelak akan meneladani kemuliaan dan keindahan akhlaq kedua sahabat Rasul itu. Seorang hamba yang hatinya tunduk pada Rabbnya namun tak silau pada dunia, ketaatan dan keistiqomahan terhadap Sunnah Rasulnya yang selalu menjadi teladan hidupnya.