
Penyakit mabuk cinta (al
isyq) akan menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahabbah
(cinta) kepada Allah, selalu berpaling dari-Nya dan dipenuhi kecintaan kepada
selain-Nya. Hati yang penuh cinta kepada Allah dan rindu bertemu dengan-Nya
pasti akan kebal terhadap serangan virus ini, sebagaimana yang terjadi dengan
Yusuf 'alaihissalam,
''Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud
(melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan
pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah,
agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf
pun termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih...(QS Yusuf : 24).
Nyatalah bahwa ikhlas merupakkan imunisasi manjur
yang dapat menolak virus ini dengan berbagai dampak negatifnya, berupa
perbuatan jelek dan keji. Artinya, memalingkan seseorang dari kemaksiatan
harus dengan menjauhkan berbagai sarana yang menjurus ke arah itu.
Berkata ulama salaf, ''Penyakit cinta adalah getaran hati yang kosong dari
segala sesuatu selain apa yang yang dicinta dan dipujanya. Allah berfirman
mengenai ibu Nabi Musa alaihissalam,
''Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan
rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia
termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). (QS Al Qashash : 10).
Yakni kosong dari segala sesuatu, kecuali Musa; karena sangat cintanya
kepada Musa dan bergantungnya hatinya kepada Musa.
Bagaimana Virus Ini Bisa Berjangkit?
Penyakit al isyq terjadi karena dua sebab. Pertama, karena menganggap
indah apa-apa yang dicintainya. Kedua, perasaan ingin memiliki apa yang
dicintainya. Jika salah satu dari dua faktor ini tak ada, niscaya virus tidak
akan berjangkit. Walaupun penyakit kronis ini telah membingungkan banyak orang
dan sebagian pakar berupaya memberikan terapinya, namun solusi yang diberikan
belum mengena.
Makhluk Diciptakan Saling Mencari yang Sesuai Dengannya
Berkata Ibnu Al Qayyim, ketetapan Allah dengan hikmahNya menciptakan makhlukNya
dalam kondisi saling mencari yang sesuai dengannya. Secara fitrah saling
tertarik dengan jenisnya, dan sebaliknya akan menjauh dari yang berbeda
dengannya.
Rahasia adanya pencampuran dan kesesuaian di alam ruh, menyebabkan adanya
keserasian serta kesamaan, sebagaimana adanya perbedaan di alam ruh akan
berakibat tidak adanya keserasian dan kesesuaian. Dengan cara inilah tegaknya
urusan manusia. Allah berfirman,
''Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia
menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. (QS Al A'raf : 189).
Dalam ayat ini Allah menjadikan sebab perasaan
tenteram dan senang seorang lelaki dan bentuknya. Jelaslah faktor pendorong
cinta tidak bergantung dengan kecantikan rupa. Tidak pula kerana adanya
kesamaan dalam tujuan dan keinginan, ataupun kesamaan bentuk dan dalam mendapat
petunjuk. Pun demikian tidak dipungkiri, bahwa hal-hal ini merupakan salah satu
penyebab ketenangan dan timbulnya cinta.
Nabi pernah mengatakan dalam sebuah hadits,
''Ruh-ruh itu ibarat tentara yang saling berpasangan, yang saling mengenal
sebelumnya akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih.'' (HR.
Bukhori dan Muslim)
Dalam Musnad Imam Ahmad diceritakan, bahwa asbabul
wurud hadits ini yaitu ketika seorang wanita penduduk Makkah yang selalu
membuat orang tertawa hijrah ke Madinah, ternyata dia tinggal dan bergaul
dengan wanita yang sifatnya sama sepertinya. Yaitu senang membuat orang
tertawa. Karena itulah Nabi mengucapkan hadits ini.
Karena itulah syariat Allah menghukumi sesuatu sesuai jenisnya. Mustahil
syariat menghukumi dua hal yang sama dengan perlakuan yang berbeda atau
mengumpulkan dua hal yang kontradiktif. Barang siapa yang berpendapat lain,
maka jelaslah minimnya ilmu pengetahuannya terhadap syariat ini atau kurang memahami
kaidah persamaan dan sebaliknya.
Penerapan kaedah ini tidak saja berlaku di dunia. Lebih dari itu akan
diterapkan pula di akhirat. Allah berfirman,
''(kepada malaikat diperintahkan), 'Kumpulkanlah orang-orang yang dhalim
bersama teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka
sembah'.'' (QS Ash Shaffat : 22).
Umar Ibnu Khattab dan setelahnya Imam Ahmad pernah berkata mengenai
tafsiran 'azwajahum' yakni yang sesuai dan mirip dengannya.
Allah juga berfirman,
''dan apabila jiwa (ruh-ruh) dipertemukan. (QS At Takwir : 7).
Yakni setiap orang akan digiring beserta dengan orang-orang yang sama
perilakunya. Allah akan menggiring sesama orang-orang yang saling mencintai
karenaNya ke dalam surga, dan orang-orang yang saling berkasih-kasihan di atas
jalan syetan digiring ke neraka jahim. Mau tidak mau, maka setiap orang akan
digiring dengan siapa yang dicintainya. Di dalam Mustadrak Al Isyq Hakim
disebutkan, bahwa Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda,''Tidaklah
seseorang mencintai suatu kaum, kecuali akan digiring bersama mereka kelak''.
(HR Ahmad)
Cinta Dan Jenis-Jenisnya
Cinta memiliki berbagai macam jenis dan tingkatan. Yang tertinggi dan paling
mulia ialah mahabbatu fillah wa lillah (cinta karena Allah dan didalam agama
Allah). Yaitu cinta yang mengharuskan mencintai apa-apa yang dicintai Allah,
dilakukan berlandaskan cinta kepada Allah dan RosulNya. Cinta berikutnya adalah
cinta yang karena adanya kesamaan dalam cara hidup, agama, madzhab, ideologi,
hubungan kekeluargaan, profesi dan kesamaan dalam hal-hal lainnya.
Diantara jenis cinta lainnya, yakni cinta yang motifnya karena ingin
mendapatkan sesuatu dari yang dicintainya, baik karena kedudukan, harta,
pengajaran dan bimbingan, ataupun kebutuhan biologis. Cinta yang didasari
hal-hal seperti tadi - yaitu al mahabbah al 'ardiyah - akan hilang
bersama hilangnya apa yang ingin didapatkan dari orang yang dicintainya.
Yakinlah, bahwa orang yang mencintaimu karena sesuatu, akan meninggalkanmu
ketika telah mendapatkan apa yang diinginkan darimu.
Adapun cinta lainnya, yaitu cinta karena adanya kesamaan dan kesesuaian antara
yang menyinta dan yang dicinta. Mahabbah al isyq termasuk cinta jenis
ini. Tidak akan sirna kecuali jika ada sesuatu yang menghilangkannya. Cinta
jenis ini, yaitu berpadunya ruh dan jiwa. Oleh karena itu tidak terdapat
pengaruh yang begitu besar baik berupa rasa was-was, hati yang gundah gulana
maupun kehancuran kecuali pada cinta jenis ini.
Timbul pertanyaan, bahwa cinta ini merupakan bertemunya ikatan batin dan ruh,
tetapi mengapa ada cinta yang bertepuk sebelah tangan? Bahkan kebanyakan cinta
seperti ini hanya sepihak dari orang yang sedang kasmaran saja? Jika cinta ini
perpaduan antara jiwa dan ruh, maka tentulah cinta itu akan terjadi antara
kedua belah pihak dan bukan sepihak saja?
Jawabnya ialah, bahwa tidak terpenuhinya hasrat disebabkan kurangnya syarat
tertentu. Atau adanya penghalang sehingga tidak terealisasikan cinta antara
keduanya. Hal ini disebabkan tiga faktor. Pertama, bahwa cinta ini sebatas
cinta karena adanya kepentingan. Oleh karena itu tidak mesti keduanya saling
mencintai. Terkadang yang dicintai justru lari darinya. Kedua, adanya
penghalang sehingga seseorang tidak dapat mencintai orang yang dicintainya,
baik karena adanya cela dalam akhlak, bentuk rupa, sikap dan faktor lainnya.
Ketiga, adanya penghalang dari pihak orang yang dicintai.
Jika penghalang ini dapat disingkirkan, maka akan terjalin benang-benang cinta
antara keduanya. Kalau bukan karena kesombongan, hasad, cinta kekuasaan dan
permusuhan dari orang-orang kafir, niscaya para rasul-rasul akan menjadi orang
yang paling mereka cintai lebih dari cinta mereka kepada diri, keluarga dan
harta.
Terapi Penyakit Al-Isyq
Sebagai salah satu jenis penyakit, tentulah al-isyq dapat disembuhkan
dengan terapi-terapi tertentu. Diantara terapi tersebut ialah sebagai berikut.
Jika terdapat peluang bagi orang yang sedang kasmaran tersebut untuk meraih
cinta orang yang dikasihinya dengan ketentuan syariat dan suratan taqdirnya,
maka inilah terapi yang paling utama. Sebagaimana terdapat dalam shahihain dari
riwayat Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa
salam bersabda,
''Hai sekalian pemuda, barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka
hendaklah dia menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa.
Karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan
zina).
Hadits ini memberikan dua solusi, utama dan
pengganti. Solusi utama dalah menikah. Jika solusi ini dapat dilakukan, maka
tidak boleh mencari solusi lain. Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,
''Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui
jalur pernikahan.''
Inilah tujuan dan anjuran Allah untuk menikahi wanita, baik yang merdeka
ataupun budak dalam firman-Nya,
''Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat
lemah. (QS. An Nisa: 28).
Allah menyebutkan dalam ayat ini keringanan yang diberikan terhadap
hamba-Nya. Dan Allah mengetahui kelemahan manusia dalam menahan syahwatnya,
sehingga memperbolehkan para wanita yang baik-baik dua, tiga, ataupun empat.
Sebagaimana Allah memperbolehkan mendatangi budak-budak wanita mereka.
Sampai-sampai Allah membuka bagi mereka pintu untuk menikahi budak-budak wanita
jika mereka membutuhkannya sebagai peredam syahwat. Demikianlah keringanan dan
rahmat-Nya terhadap makhluk yang lemah ini.
Jika terapi pertama tidak dapat dilakukan akibat tertutupnya peluang menuju
orang yang dikasihinya karena ketentuan syar'i dan takdir, maka penyakit ini
bisa semakin ganas. Adapun terapinya harus dengan meyakinkan pada dirinya,
bahwa apa-apa yang diimpikannya mustahil terjadi. Lebih baik baginya untuk
segera melupakannya. Jiwa yang telah memutus harapan untuk mendapatkan sesuatu,
niscaya akan tenang dan tidak lagi mengingatnya. Jika ternyata belum
terlupakan, dapat mempengaruhi keadaan jiwanya hingga semakin menyimpang jauh.
Dalam kondisi seperti ini wajib baginya untuk mencari terapi lain. Yaitu dengan
mengajak akalnya berfikir, bahwa menggantungkan hatinya kepada sesuatu yang
mustahil dijangkaunya itu ibarat perbuatan gila. Ibarat pungguk merindukan
bulan. Bukankah orang-orang akan menganggapnya termasuk ke dalam kumpulan
orang-orang yang tidak waras?
Apabila kemungkinan untuk mendapatkan apa yang dicintainya terhalang karena
larangan syariat, maka terapinya yaitu dengan menganggap bahwa yang dicintainya
itu bukan ditakdirkan menjadi miliknya. Jalan keselamatan yaitu dengan
menjauhkan dirinya dari orang yang dicintainya. Dia harus merasa bahwa pintu ke
arah yang diinginkannya tertutup, dan mustahil tercapai.
Jika ternyata jiwanya yang selalu menyuruhnya kepada kemungkaran masih tetap
menuntut, handaklah dia mau meninggalkannya karena dua hal.
Pertama, karena takut (kepada Allah). Yaitu dengan menumbuhkan perasaan
bahwa ada hal yang lebih layak dicintai, lebih bermanfaat, lebih baik dan lebih
kekal. Seseorang yang berakal jika menimbang-nimbang antara mencintai sesuatu
yang cepat sirna dengan sesuatu yang lebih layak untuk dicintai, lebih
bermanfaat, lebih kekal dan lebih nikmat, tentu akan memilih yang lebih tinggi
derajatnya. Jangan sampai engkau menggadaikan kenikmatan abadi yang tidak
terlintas dalam pikiranmu dan menggantikannya dengan kenikmatan sesaat yang
segera berbalik menjadi sumber penyakit. Ibarat orang yang sedang bermimpi
indah, ataupun berkhayal terbang melayang jauh, maka ketika tersadar ternyata
hanyalah mimpi dan khayalan. Akhirnya sirnalah segala keindahan semu. Yang
tertinggal hanyalah keletihan, hilang nafsu dan kebinasaan menunggu.
Kedua, keyakinan bahwa resiko yang sangat menyakitkan akan ditemuinya
jika gagal melupakan yang dikasihinya. Dia akan mengalami dua hal yang
menyakitkan sekaligus. Yaitu gagal mendapatkan kekasih yang diinginkannya,
serta bencana menyakitkan dan siksa yang pasti akan menimpanya. Jika yakin
bakal mendapatkan dua hal menyakitkan ini, niscaya akan mudah baginya
meninggalkan perasaan ingin memiliki yang dicinta. Dia akan berpikir, bahwa
sabar menahan diri itu lebih baik. Akal, agama, harga diri dan kemanusiaannya
akan memerintahkannya untuk bersabar, demi mendapatkan kebahagiaan abadi.
Sementara kebodohan, hawa nafsu, kedhalimannya akan memerintahkannya untuk
mengalah mendapatkan apa yang dikasihinya. Sungguh, orang yang terhindar ialah
orang-orang yang dipelihara oleh Allah.
Jika hawa nafsunya masih tetap ngotot dan tidak menerima terapi tadi, maka
hendaklah berfikir mengenai dampak negatif dan kerusakan yang akan
ditimbulkannya segera, dan kemaslahatan yang akan gagal diraihnya. Sebab
mengikuti hawa nafsu dapat menimbulkan kerusakan dunia dan menepis kebaikan
yang bakal diterimanya. Lebih parah lagi, dengan memperturutkan hawa nafsu ini
akan menghalanginya untuk mendapat petunjuk yang merupakan kunci keberhasilan
dan kemaslahatannya.
Jika terapi ini tidak mempan juga untuknya, hendaklah dia selalu mengingat
sisi-sisi keburukan kekasihnya dan hal-hal yang dapat membuatnya menjauh
darinya. Jika dia mau mencari-cari kejelekan yang ada pada kekasihnya, niscaya
dia akan mendapatkannya lebih dominan daripada keindahannya. Hendaklah dia
banyak bertanya kepada orang-orang yang berada di sekeliling kekasihnya tentang
berbagai kejelekannya yang belum diketahuinya. Sebab, sebagaimana kecantikan
sebagai faktor pendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya, maka demikian
pula kejelekan merupakan pendorong kuat agar dapat membenci dan menjauhinya.
Hendaklah dia mempertimbangkan dua sisi ini dan memilih yang terbaik baginya.
Jangan terpedaya karena kecantikan kulit, dan membandingkannya dengan orang
yang terkena penyakit sopak atau kusta. Tetapi hendaklah dia memalingkan
pandangannya kepada kejelekan sikap dan perilakunya. Hendaklah dia mentutup
matanya dair kencantikan fisik dan melihat kepada kejelekan yang diceritakan
mengenai hatinya.
Jika terapi ini masih saja tidak mempan baginya, maka terapi terakhir yaitu
mengadu dan memohon dengan jujur kepada Allah penolong orang-orang yang ditimpa
musibah jika memohon kepada-Nya. Hendaklah dia menyerahkan jiwa sepenuhnya
dihadapan kebesaran-Nya sambil memohon, merendahkan dan menghinakan diri. Jiak
dia dapat melaksanakan terapi akhir ini, maka sesungguhnya dia telah membuka
pintu taufik (pertolongan Allah). Hendaklah dia berbuat iffah (menjaga diri)
dan menyembunyikan perasaannya. Jangan menjelek-jelekkan kekasihnya dan
mempermalukannya di hadapan manusia ataupun menyakitinya. Sebab hal tersebut
merupakan kedzaliman dan melampaui batas.
Penutup
Demikianlah kiat-kiat khusus untuk menyembuhkan penyakit ini. Namun ibarat kata
pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebelum terkena virus ini,
maka lebih baik menghindar. Bagaimana cara mengindarinya? Tidak lain, yaitu
dengan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Semoga pembahasan ini bermanfaat.
Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun VI/1423 H/2002 M (dari tulisan Ibnul
Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitab beliau Zadul Ma'ad Fi Hadyi Khairi Ibad)