5 tahun yang
silam. Ketika itu aku akan masuk ke sekolah menengah atas. Setelah dinyatakan lulus dari sekolah
menengah pertama aku memang bertekad untuk masuk sekolah negeri yang terletak
di kota. Bagiku selama ini aku hanya terkukung dalam kampungku saja. Jarak
rumah dan sekolah hanya satu kilo itu saja pengetahuanku tentang dunia luar.
Selebihnya paling hanya ketika lebaran dan mengunjungi rumah saudara yang
terletak di kota. Bukan tanpa alasan aku ingin bersekolah sma di kota. Aku
ingin mengenal dunia luar. Ideku ini rupanya di dukung oleh kakakku yang sedang
kuliah di upi bandung. Aku harus bersekolah di kota.
Beberapa hari
setelah aku menyampaikan keinginanku pada abah untuk bersekolah dikota, aku
mendapatkan sebuah brosur sekolah farmasi di kota solo. Sejak kecil cita-citaku
memang menjadi seorang bidan. Sekolah farmasi itu rupanya menjadi daya tarik
buatku untuk menjadi salah satu siswanya. Aku utarakan keinginan ini pada abah.
Sebelumnya abah menolak aku mengikuti seleksi itu, namun setelah aku merajuk
terus menerus akhirnya aku mendapat izin. Aku ikut tes seleksi masuk sekolah
farmasi itu. Dari 500 peserta yang mendaftar hanya 100 orang yang bisa lolos.
Dan ternyata aku gagal masuk ke sekolah tersebut. Namun azzam yang melekat
padaku rupanya lebih kuat untuk dapat bersekolah di kota. Aku mulai mencari
sekolah menengah negeri. Sma negeri 2 surakarta adalah bidikanku selanjutnya.
Berkas sudah aku masukkan. Tinggal menunggu pengumuman. Namun lagi-lagi abah menentang
apa yang menjadi keinginanku. Aku tidak diperbolehkan bersekolah di kota dengan
alasan takut tidak bisa menjaga pergaulan. Berkas aku hanguskan.
Diantara ke-4 anak
aku memang si bungsu yang paling susah diatur dan paling susah untuk di
nasehati. Sekali sudah mempunyai tekad, pantang menyerah untuk berhenti.
Penolakan abah terhadap keinginanku untuk bersekolah di kota rupanya masih
belum mampu meruntuhkan tembok keinginanku. Diam-diam aku mendaftarkan diri
secara online ke salah satu sekolah favorit di kota solo. Alhasil aku diterima
dan dipersilahkan untuk registrasi ulang sambil menyerahkan berkas pendaftaran.
Hari itu juga aku berangkat sendiri menuju ke sekolah tersebut. Aku lihat
anak-anak yang lain diantar oleh ayah ibu mereka. Sedangkan aku sendiri sambil
menoleh kanan kiri mungkin ada seseorang yang aku kenal dan rupanya tidak ada.
Yang paling membuatku berbeda dari anak-anak yang lain adalah hanya aku sendiri
yang memakai jilbab. Aku juga heran dengan keadaan ini. Setiap ada guru yang
melihatku seolah-olah tatapan mereka aneh. Aku serasa makhluk asing di tengah
kumpulan manusia.
Tiba giliranku
untuk maju menyerahkan berkas registrasi. Formulir selesai diisi dan foto-foto
juga telah tertempel. Uang pendaftaran juga telah kuserahkan kepada petugas.
Kemuadian aku mulai diwawancarai.
“papi mami mana dik?”
“abah kerja, ummi kerja.”
“oo...begitu, yaudah tidak apa-apa. Begini, bapak ucapkan selamat
adik telah diterima di sekolah ini. Untuk tindak lanjut berikutnya, nanti kalau
sudah pulang kerumah bilang sama papah mamah nya, bapak ibu nya, ayah bunda
nya, kalau besok untuk datang kembali kesini sambil membawa uang tunai sebesar
3,5 juta. Kalau memang belum ada boleh membayar sebagian dahulu.”
“baik pak, nanti saya bilang ke abah saya.”
“satu lagi dik, persyaratan yang tidak boleh dilanggar di sini ada.
Adik tahu kan kalau sekolah ini merupakan sekolah nasional. Jadi tidak boleh
memiliki ciri khusus yang ditonjolkan.”
“maksut bapak?”
“ciri khusus di sini adalah dalam hal agama. Seperti misal yang
beragama islam tidak boleh memakai kerudung seperti adik ini. Karena hal itu
merupakan bentuk penonjolan agama tertentu. Ya, karena di sini adalah sekolah
yang sudah bertaraf tingkat nasional dik.”
“hloh, kemarin saya mencoba masuk ke sekolah farmasi itu juga
sekolah tingkat nasional namun tidak ada peraturan pelarangan memakai jilbab.”
“itu kan peraturan sana, kalau sekolah sini ya peraturannya seperti
ini. Karena disini dijamin mutu pendidikannnya. Lantas bagaimana dik. Masih mau
diterima berati adik harus melepas kerudung adik itu. Maka sekolah ini akan
menyambut adik untuk bergabung disini.”
Aku termenung. Lalu.
“baiklah pak, jika itu peraturannya akan saya patuhi. Saya tidak
akan masuk atau belajar disekolah ini jika ada pelarangan terhadap jilbab yang
saya kenakan. Jika saya melepas jilbab, berarti itu karena peraturan yang bapak
utarakan, maka jika saya memakai jilbab, itu peraturan dari Allah, Tuhan saya
dan Tuhan yang menciptakan manusia seperti halnya diri Bapak. Maka saya
selamanya tidak akan menerima peraturan melepas jilbab. Lebih baik saya tidak
akan belajar di sekolah nasional ini.”
“Baiklah, silahkan adik sobek formulir yang tadi. Fotonya diambil
kembali saja. Tapi uang pendaftaran sudah tidak bisa kembali. Silahhkan untuk
mendaftarkan ke sekolah berlebel islamyang lain, yang dipertanyakan mutu
pendidikannya. Wong, kemarin aku melihat cewek berjilbab berciuman dengan cowok
di bis kota.”
“Ambil uang saya pak, semoga mampu mengganjal perut bapak siang
ini. Dan perlu Bapak tahu, jilbab saya bukan untuk membuat terhalangnya
penglihatan bapak atas islam karena tindakan
manusia tak berakhlaq. Tapi jilbab saya kenakan untuk menghalangi nafsu
yang bergejolak dan mengontrol atas perilaku saya. Termasuk mengingatkan
segelintir manusia yang memandang sebelah mata dan berpikir tidak ilmiah karena
menyimpulkan dari penglihatan yang tertipu. Terima kasih. Permisi.”
Kalimat itu keluar begitu saja tanpa aku rencanakan sebelumnya.
Spontan dan lugu. Keluar dari mulut seorang gadis yang baru saja lulus dari
sekolah menengah pertama. Seorang anak perempuan yang masih berumur belasan
tahun yang dengan serta merta menjabarkan tentang syariat. Aku keluar dari ruang
PPDB dengan linangan air mata yang terus menetes membasahi pipi. Allah indah
nian ternyata mempertahankan syariat-Mu.

