Minggu, 28 Juli 2013

Jilbab, my life my style



5 tahun yang silam. Ketika itu aku akan masuk ke sekolah menengah atas.  Setelah dinyatakan lulus dari sekolah menengah pertama aku memang bertekad untuk masuk sekolah negeri yang terletak di kota. Bagiku selama ini aku hanya terkukung dalam kampungku saja. Jarak rumah dan sekolah hanya satu kilo itu saja pengetahuanku tentang dunia luar. Selebihnya paling hanya ketika lebaran dan mengunjungi rumah saudara yang terletak di kota. Bukan tanpa alasan aku ingin bersekolah sma di kota. Aku ingin mengenal dunia luar. Ideku ini rupanya di dukung oleh kakakku yang sedang kuliah di upi bandung. Aku harus bersekolah di kota.
            Beberapa hari setelah aku menyampaikan keinginanku pada abah untuk bersekolah dikota, aku mendapatkan sebuah brosur sekolah farmasi di kota solo. Sejak kecil cita-citaku memang menjadi seorang bidan. Sekolah farmasi itu rupanya menjadi daya tarik buatku untuk menjadi salah satu siswanya. Aku utarakan keinginan ini pada abah. Sebelumnya abah menolak aku mengikuti seleksi itu, namun setelah aku merajuk terus menerus akhirnya aku mendapat izin. Aku ikut tes seleksi masuk sekolah farmasi itu. Dari 500 peserta yang mendaftar hanya 100 orang yang bisa lolos. Dan ternyata aku gagal masuk ke sekolah tersebut. Namun azzam yang melekat padaku rupanya lebih kuat untuk dapat bersekolah di kota. Aku mulai mencari sekolah menengah negeri. Sma negeri 2 surakarta adalah bidikanku selanjutnya. Berkas sudah aku masukkan. Tinggal menunggu pengumuman. Namun lagi-lagi abah menentang apa yang menjadi keinginanku. Aku tidak diperbolehkan bersekolah di kota dengan alasan takut tidak bisa menjaga pergaulan. Berkas aku hanguskan.
            Diantara ke-4 anak aku memang si bungsu yang paling susah diatur dan paling susah untuk di nasehati. Sekali sudah mempunyai tekad, pantang menyerah untuk berhenti. Penolakan abah terhadap keinginanku untuk bersekolah di kota rupanya masih belum mampu meruntuhkan tembok keinginanku. Diam-diam aku mendaftarkan diri secara online ke salah satu sekolah favorit di kota solo. Alhasil aku diterima dan dipersilahkan untuk registrasi ulang sambil menyerahkan berkas pendaftaran. Hari itu juga aku berangkat sendiri menuju ke sekolah tersebut. Aku lihat anak-anak yang lain diantar oleh ayah ibu mereka. Sedangkan aku sendiri sambil menoleh kanan kiri mungkin ada seseorang yang aku kenal dan rupanya tidak ada. Yang paling membuatku berbeda dari anak-anak yang lain adalah hanya aku sendiri yang memakai jilbab. Aku juga heran dengan keadaan ini. Setiap ada guru yang melihatku seolah-olah tatapan mereka aneh. Aku serasa makhluk asing di tengah kumpulan manusia.
            Tiba giliranku untuk maju menyerahkan berkas registrasi. Formulir selesai diisi dan foto-foto juga telah tertempel. Uang pendaftaran juga telah kuserahkan kepada petugas. Kemuadian aku mulai diwawancarai.
“papi mami mana dik?”
“abah kerja, ummi kerja.”
“oo...begitu, yaudah tidak apa-apa. Begini, bapak ucapkan selamat adik telah diterima di sekolah ini. Untuk tindak lanjut berikutnya, nanti kalau sudah pulang kerumah bilang sama papah mamah nya, bapak ibu nya, ayah bunda nya, kalau besok untuk datang kembali kesini sambil membawa uang tunai sebesar 3,5 juta. Kalau memang belum ada boleh membayar sebagian dahulu.”
“baik pak, nanti saya bilang ke abah saya.”
“satu lagi dik, persyaratan yang tidak boleh dilanggar di sini ada. Adik tahu kan kalau sekolah ini merupakan sekolah nasional. Jadi tidak boleh memiliki ciri khusus yang ditonjolkan.”
“maksut bapak?”
“ciri khusus di sini adalah dalam hal agama. Seperti misal yang beragama islam tidak boleh memakai kerudung seperti adik ini. Karena hal itu merupakan bentuk penonjolan agama tertentu. Ya, karena di sini adalah sekolah yang sudah bertaraf tingkat nasional dik.”
“hloh, kemarin saya mencoba masuk ke sekolah farmasi itu juga sekolah tingkat nasional namun tidak ada peraturan pelarangan memakai jilbab.”
“itu kan peraturan sana, kalau sekolah sini ya peraturannya seperti ini. Karena disini dijamin mutu pendidikannnya. Lantas bagaimana dik. Masih mau diterima berati adik harus melepas kerudung adik itu. Maka sekolah ini akan menyambut adik untuk bergabung disini.”
Aku termenung. Lalu.
“baiklah pak, jika itu peraturannya akan saya patuhi. Saya tidak akan masuk atau belajar disekolah ini jika ada pelarangan terhadap jilbab yang saya kenakan. Jika saya melepas jilbab, berarti itu karena peraturan yang bapak utarakan, maka jika saya memakai jilbab, itu peraturan dari Allah, Tuhan saya dan Tuhan yang menciptakan manusia seperti halnya diri Bapak. Maka saya selamanya tidak akan menerima peraturan melepas jilbab. Lebih baik saya tidak akan belajar di sekolah nasional ini.”
“Baiklah, silahkan adik sobek formulir yang tadi. Fotonya diambil kembali saja. Tapi uang pendaftaran sudah tidak bisa kembali. Silahhkan untuk mendaftarkan ke sekolah berlebel islamyang lain, yang dipertanyakan mutu pendidikannya. Wong, kemarin aku melihat cewek berjilbab berciuman dengan cowok di bis kota.”
“Ambil uang saya pak, semoga mampu mengganjal perut bapak siang ini. Dan perlu Bapak tahu, jilbab saya bukan untuk membuat terhalangnya penglihatan bapak atas islam karena tindakan  manusia tak berakhlaq. Tapi jilbab saya kenakan untuk menghalangi nafsu yang bergejolak dan mengontrol atas perilaku saya. Termasuk mengingatkan segelintir manusia yang memandang sebelah mata dan berpikir tidak ilmiah karena menyimpulkan dari penglihatan yang tertipu. Terima kasih. Permisi.”
Kalimat itu keluar begitu saja tanpa aku rencanakan sebelumnya. Spontan dan lugu. Keluar dari mulut seorang gadis yang baru saja lulus dari sekolah menengah pertama. Seorang anak perempuan yang masih berumur belasan tahun yang dengan serta merta menjabarkan tentang syariat. Aku keluar dari ruang PPDB dengan linangan air mata yang terus menetes membasahi pipi. Allah indah nian ternyata mempertahankan syariat-Mu.

Rabu, 17 Juli 2013

Surat Untuk Calon Suamiku



Kepada yth
Calon suamiku
Di bumi Allah

Assalamualaykum warakhmatullohi wabarakatuh.
Apakabar imanmu hari ini wahai calon suamiku?
Semoga sinaran taqwa dan keteguhan hati senantiasa menaungi setiap langkahmu
Bagaimana dengan segengam asa jihadmu?
Semoga tiada keraguan yang bersemanyam di dalamnya.
Wahai calon imamku
Aku tahu, kerinduan yang paling tinggi adalah kerinduan syahid di jalan-Nya
Aku paham, cinta yang paling agung adalah cinta berpondasikan atas nama-Nya
Engkaupun tahu
Bagaimana Allah dan Rasulullah memuliakanku
Bagaimana aku harus menjaga kehormatanku, pandanganku dan simpanan ilmu dalam diriku
Wahai calon imamku.
Sering aku meneteskan air mata pertanyaan yang aku tidak tahu jawabannya
Aku tak mengerti kenapa Allah selalu mengujiku ditempat yang paling rapuh pada diriku
Tepat pada segumpal darah dalam diriku hingga aku merasa kepayahan
Namun kini aku mengerti wahai calon suamiku
Kenapa Allah mengujiku berkali-kali
Allah selalu mengujiku dimana titik kelemahanku berada
Tepat pada hati dan perasaanku yang paling halus
Itulah tempaan khusus untukku
Karena, Allah ingin aku menjadi mujahidah Al-Khonsa
Yang dewasa dan tangguh menghadapi gemerlapnya dunia fana
Ya, calon suamiku,
Entahlah, di bagian bumi mana saat ini engkau berada
Aku tidak tahu
Namun, aku sangat yakin
Saat ini engkau juga tengah dalam ujian kasih sayang dari Allah
Seperti pada diriku
Aku juga sangat yakin, Allah kini tengah melatih dirimu
Untuk bersiap diri menjadi mujahid sejati
Wahai calon suamiku
Tiada yang kuharapkan dari dirimu selain keshalihan
Bagaimana dengan engkau atas diriku?
Semogapun demikian
Bukan kecantikan wajah dan kemanjaan tutur kata yang kau harapkan
Karena apabila kecantikan wajah yang kau harapkan,
Maka suatu saat aku pasti akan keriput dan tua
Maka, kau hanya akan mendapatiku dalam kesia-siaan
Namun,  jika yang kau harapkan dariku adalah berbaktiku padamu karena-Nya
Maka, kupersiapkan yang terbaik untuk dirimu
Aku masih sangat rapuh dan haus akan ilmu
Tapi, dengan segengam ilmu yang telah kugenggam saat ini semoga mampu menguatkan hatiku untuk mendampingimu
Wahai calon suamiku
Tatkala aku masih dalam asuhan Ayah Bunda
Tiada yang diharapkan dari keduanya pada diriku
Selain menjadi seorang putri yang sholehah
Agar menjadi simpanan amalan untuk keduanya
Namun, tatkala ijab telah diucapkan
Hingga kau dan aku disatukan dalam satu ikrar atas nama Allah dan Rasulullah
Lalu berguncanglah langit ketujuh tatkala qobul kau ucapkan
Seandainya aku harus menghirup nanah dan darah yang keluar dari hidungmu
Sungguh itu belum seberapa derajat jika dibandingkan dengan amanah yang kau pikul setelah kau ikrarkan janji tersebut
Karena begitu beratnya amanah yang telah kau sanggupi atas diriku
Aku ikhlas menjadi pendamping yang sholehah untukmu
Wahai calon suamiku
Engkau harus tahu
Aku seorang yang sangat pencemburu
Namun, jika engkau mencintai Allah dan Rasulullah lebih besar daripada cintamu untukku
Aku ridho menerimanya
Agar kelak, kita kembali dipersatukan dalam naungan syurga-Nya
Dan hanya aku yang menjadi bidadari terindah untukmu
Aku ikhlas menerimamu, karena engkau yang aku butuhkan
Meski dirimu bukan orang yang kuharapkan
Hingga ...
Kelak akhirnya kita dipertemukan dalam balutan tirai syariat
Aku bangga memiliki mujahid sejati seperti engkau
Begitupun kau, bahagia memiliki teman mengarungi bahtera kehidupan seperti diriku
Atas nama Allah dan Rasul-Nya
Kita bersama menjejakkan kaki
Wahai calon suamiku
Meski kau menempatkanku dalam suatu gubuk beratap rumbai
Bukan istana berkubah emas dengan permata berjuntai
Bagiku itu bukan penjara derita
Namun, itu kuanggap sebagai markas dakwah kita
Dan tempat tumbuhnya mujahid-mujahid kecil kita kelak
Bantu aku mendidik mereka dengan ilmu bermanfaat dan tunduk kepada Tuhannya
Nafkahi keluarga kita dengan harta halal dari keringatmu
Calon suamiku yang dirahmati Allah
Bersabarlah
Kuatkan azzammu, teguhkan imanmu, maksimalkan ilmumu
Bunga hanya akan indah ketika sudah waktunya untuk mekar
Doa cinta terindah kupanjatkan untukmu
Agar kau senantiasa ingat, lebih baik kepala ditusuk dengan besi panas daripada menyentuh wanita bukan mahrammu
Dan semoga, jalan kita dimudahkan dalam lingkup indah syariat-Nya
Sampai, kita mampu saling memberikan yang terbaik
Untuk Allah dan Rasulullah, untukmu, untukku dan untuk generasi kita sebagai penerus perjuangan para nabi
Sekian dulu surat dari calon istrimu
Semoga Allah selalu menjaga imanmu
Salam sayang dan rindu selalu
Wassalamu’alaykum warakhmatulullohi wabarakatuh
Tertanda
Calon Istrimu