“Sudah sholat asar mas?”
Dia mengangguk mantap.
“Ada PR?”
Dia menggeleng
“Yaudah, sebelum belajar..eemmm
kita hafalan dulu ya.”
“Yaaa..mbak, kok hafalan lagi,
kemarin kan
sudah.”
“Tadi Mas Farhan sudah makan?”
“Sudah.”
“Kok makan lagi, kemarin kan sudah.”
“Kyaaa..bu guru.” Sambil berdiri
mengambil juz amma.
Tak lama kemudian Mbak Narti (yang
bantu-bantu) di rumah Farhan keluar sambil membawa minuman.
“Mbak, tadi si Farhan sholat
kayak ayam makan jagung. Lha masak sholat asar tidak ada 2 menit. Tadi kan saya mau nyapu,
lihat si farhan juntat juntit, saya kira lagi ngapain ternyata sholat. Mbak,
farhan itu tidak pernah sholat subuh, kalau mau berangkat sekolah nangis dulu…hmmmmm…..tolong
mbak nasehati dia.”
Farhan yang datang sambil membawa
juz amma tersunggut-sunggut mendengar penuturan mbak narti.
“Yang penting kan sudah sholat tadi juga sudah tak ulangi!”
Teriak farhan dengan nada tinggi.
“Mas, sini, duduk samping mbak.”
Farhan menurut sambil memasang
muka cemberut.
“Mas, Mas Farhan itu agamanya apa
tho?”
“Islam.”
“Alkhamdulillah, Mas Farhan,
kalau seorang yang beragama islam itu dinamakan orang muslim. Nah, seorang yang
muslim memiliki kewajiban untuk menyembah kepada?”
“Allah..”
“Allah, pinter. Kenapa kita harus
menyembah Allah, karena Allah yang telah menciptakan kita, Ayah Ibu, dek sasa,
mas inu, dan semua di alam ini yang menciptakan Allah. Nah kewajiban kita salah
satunya adalah sholat. Tahu gak mas, ketika sholat itu berarti kita sedang
berbicara langsung dengan Allah. Mas farhan ketika berbicara dengan bapak
apalagi pas minat uang apa dengan marah-marah?”
Farhan menggeleng.
“Tapi kan aku gak marah mbak, hanya sholat
cepet-cepet.”
Aku tersenyum mendengar
jawabannya.
“Mas, sini mbak bilangin.” Ujarku
sambil mengelus kepalanya.
“Ketika kita sedang sholat maka
kita sedang berbicara dengan Allah, kita harus santun, dengan bacaan yang
benar, gerakan yang benar, tidak tergesa-gesa. Dan sholat itu kewajiban pertama
yang harus dilakukan seorang muslim. Maka kalau tidak mengerjakan sholat orang
tersebut akan mendapat dosa, sebaliknya bagi orang yang mengerjakan sholat
dengan baik, Allah akan menempatkannya di syurga kelak.”
“Tapi mbak, aku kesiangan terus
kalau subuh,”
“Kan bisa minta tolong mbak narti atau minta
tolong Ibuk buat ngebangunin. Anak yang sholih, perkataannya santun, rajin
sholat, Allah pasti akan menyayangi.”
“Iya deh, besok aku sholat subuh
dan gak akan kesiangan. Aku kalau magrib ke masjid hlo mbak.”
“Alkhamdulillah, itu salah satu
ciri anak yang sholih, rajin sholat ke masjid.”
Farhan tersenyum.
Meminjam untaian nasihat Bunda Widianingsih M.Ag
bahwa Orang tua pada umumnya berbicara “kepada” anak-anak. Komunikasi seperti
ini berlangsung satu arah. Dalam hal ini, orangtua mencoba berkomunikasi
“kepada” anak. Namun sayangnya,Kkmunikasi yang terjadi dalam situasi
ininegatif. Orangtua tidak membangun suasana yang nyaman ketika berbicara
“kepada” anak-anak mereka. Berbeda jika orangtua maupun guru berbicara “dengan”
anak.
Seperti yang terjadi diatas, ibu guru berbicara
“dengan” anak bukan “kepada” anak. Komunikasi seperti ini berlangsung dua arah.
Ibu guru tidak mengambil posisi berdiri ketika berbicara “dengan” anak, tapi
memposisikan tubuhnya sejajar dengan tinggi tubuh sang anak. Menatap, mengusap
kemudian memeluk dan berbicara dengan suasana hangat. Maka komunikasinya yang
terjadi dalam situasi positif.
Komunikasi yang positif baru bisa dilakukan oleh
orangtua atau guru jika orang tua atau guru menyediakan waktu cukup untuk
berkomunikasi “dengan” anaknya. Bukan sekedar berkata “iya!” seraya berlalu.
Komunikasi yang terjadi bersifat timbal balik atau dua arah, saling mendengarkan.Bukanhanya
anak yang harus mendengar tapi orangtua juga mendengar dengan sungguh-sungguh
ketika anak berbicara. orangtua memberikan tanggapan atas apa yang dikatakan
anak bukan mengabaikan atau malah memberikan ancaman. Sehingga diantara
keduanya betul-betul terjalin hubungan yang baik, hubungan saling menyayangi
antara orangtua dan anaknya.
Berbicaralah“dengan” anak, bukan berbicara
“kepada” anak yang harus dilakukan para orangtua maupun guru. Sehingga lahir
anak-anak yang bahagia dalam berbagai kesempatan dan bangga memiliki orangtua
maupun guru seperti kita. Mereka lahir menjadi anak-anak yang penuh rasa
percaya diri, penuh kasih sayang, penuh kebahagian yang melebihi materi.
Berdasarkan hasil penelitian para neuroscientist, anak-anak akan belajar banyak
pengetahuan yang diberikan padanya dalam keadaan bahagia. Jika kemampuan
komunikasi positif ini dibangun sejak dini, anak akan lahir menjadi pribadi
yang menyenangkan dihadapan semua orang.

