Rabu, 25 Juni 2014

Smart Parenting: Bangun Komunikasi Positif


Pukul 15.50 WIB. Aku meluncur ke rumah anak didikku. Seperti biasa Farhan sudah siap dengan buku yang berserakan di sekelilingnya. Kuucapkan salam, lalu duduk di sampingnya.
“Sudah sholat asar mas?”
Dia mengangguk mantap.
“Ada PR?”
Dia menggeleng
“Yaudah, sebelum belajar..eemmm kita hafalan dulu ya.”
“Yaaa..mbak, kok hafalan lagi, kemarin kan sudah.”
“Tadi Mas Farhan sudah makan?”
“Sudah.”
“Kok makan lagi, kemarin kan sudah.”
“Kyaaa..bu guru.” Sambil berdiri mengambil juz amma.
Tak lama kemudian Mbak Narti (yang bantu-bantu) di rumah Farhan keluar sambil membawa minuman.
“Mbak, tadi si Farhan sholat kayak ayam makan jagung. Lha masak sholat asar tidak ada 2 menit. Tadi kan saya mau nyapu, lihat si farhan juntat juntit, saya kira lagi ngapain ternyata sholat. Mbak, farhan itu tidak pernah sholat subuh, kalau mau berangkat sekolah nangis dulu…hmmmmm…..tolong mbak nasehati dia.”
Farhan yang datang sambil membawa juz amma tersunggut-sunggut mendengar penuturan mbak narti.
“Yang penting kan sudah sholat tadi juga sudah tak ulangi!” Teriak farhan dengan nada tinggi.
“Mas, sini, duduk samping mbak.”
Farhan menurut sambil memasang muka cemberut.
“Mas, Mas Farhan itu agamanya apa tho?”
“Islam.”
“Alkhamdulillah, Mas Farhan, kalau seorang yang beragama islam itu dinamakan orang muslim. Nah, seorang yang muslim memiliki kewajiban untuk menyembah kepada?”
“Allah..”
“Allah, pinter. Kenapa kita harus menyembah Allah, karena Allah yang telah menciptakan kita, Ayah Ibu, dek sasa, mas inu, dan semua di alam ini yang menciptakan Allah. Nah kewajiban kita salah satunya adalah sholat. Tahu gak mas, ketika sholat itu berarti kita sedang berbicara langsung dengan Allah. Mas farhan ketika berbicara dengan bapak apalagi pas minat uang apa dengan marah-marah?”
Farhan menggeleng.
“Tapi kan aku gak marah mbak, hanya sholat cepet-cepet.”
Aku tersenyum mendengar jawabannya.
“Mas, sini mbak bilangin.” Ujarku sambil mengelus kepalanya.
“Ketika kita sedang sholat maka kita sedang berbicara dengan Allah, kita harus santun, dengan bacaan yang benar, gerakan yang benar, tidak tergesa-gesa. Dan sholat itu kewajiban pertama yang harus dilakukan seorang muslim. Maka kalau tidak mengerjakan sholat orang tersebut akan mendapat dosa, sebaliknya bagi orang yang mengerjakan sholat dengan baik, Allah akan menempatkannya di syurga kelak.”
“Tapi mbak, aku kesiangan terus kalau subuh,”
“Kan bisa minta tolong mbak narti atau minta tolong Ibuk buat ngebangunin. Anak yang sholih, perkataannya santun, rajin sholat, Allah pasti akan menyayangi.”
“Iya deh, besok aku sholat subuh dan gak akan kesiangan. Aku kalau magrib ke masjid hlo mbak.”
“Alkhamdulillah, itu salah satu ciri anak yang sholih, rajin sholat ke masjid.”
Farhan tersenyum.
Meminjam untaian nasihat Bunda Widianingsih M.Ag bahwa Orang tua pada umumnya berbicara “kepada” anak-anak. Komunikasi seperti ini berlangsung satu arah. Dalam hal ini, orangtua mencoba berkomunikasi “kepada” anak. Namun sayangnya,Kkmunikasi yang terjadi dalam situasi ininegatif. Orangtua tidak membangun suasana yang nyaman ketika berbicara “kepada” anak-anak mereka. Berbeda jika orangtua maupun guru berbicara “dengan” anak.
Seperti yang terjadi diatas, ibu guru berbicara “dengan” anak bukan “kepada” anak. Komunikasi seperti ini berlangsung dua arah. Ibu guru tidak mengambil posisi berdiri ketika berbicara “dengan” anak, tapi memposisikan tubuhnya sejajar dengan tinggi tubuh sang anak. Menatap, mengusap kemudian memeluk dan berbicara dengan suasana hangat. Maka komunikasinya yang terjadi dalam situasi positif.
Komunikasi yang positif baru bisa dilakukan oleh orangtua atau guru jika orang tua atau guru menyediakan waktu cukup untuk berkomunikasi “dengan” anaknya. Bukan sekedar berkata “iya!” seraya berlalu. Komunikasi yang terjadi bersifat timbal balik atau dua arah, saling mendengarkan.Bukanhanya anak yang harus mendengar tapi orangtua juga mendengar dengan sungguh-sungguh ketika anak berbicara. orangtua memberikan tanggapan atas apa yang dikatakan anak bukan mengabaikan atau malah memberikan ancaman. Sehingga diantara keduanya betul-betul terjalin hubungan yang baik, hubungan saling menyayangi antara orangtua dan anaknya.
Berbicaralah“dengan” anak, bukan berbicara “kepada” anak yang harus dilakukan para orangtua maupun guru. Sehingga lahir anak-anak yang bahagia dalam berbagai kesempatan dan bangga memiliki orangtua maupun guru seperti kita. Mereka lahir menjadi anak-anak yang penuh rasa percaya diri, penuh kasih sayang, penuh kebahagian yang melebihi materi. Berdasarkan hasil penelitian para neuroscientist, anak-anak akan belajar banyak pengetahuan yang diberikan padanya dalam keadaan bahagia. Jika kemampuan komunikasi positif ini dibangun sejak dini, anak akan lahir menjadi pribadi yang menyenangkan dihadapan semua orang.


Kamis, 05 Juni 2014

Cukuplah Karena Sholihmu Aku Menerimamu

Pertemuan dan perpisahan adalah titik balik kehidupan manusia, sebab tiap detik adalah milik Allah. Hidup, Mati, Bahagia, Celaka semua telah diatur dng sempurna. Begitupun takdir pertemuan ini. Telah diatur dengan cukup rijid oleh Maha Penggengam takdir terbaik setiap makhluk Nya.

=> kok dia tak tampan?!... saya mengkhususkan cita-cita untuk meniti dan merajut sakinah bersamanya bukan sebatas dalam pandangan mata.
=> Apa Karena ia memiliki gelar insinyur?!... Apalah arti sebuah gelar. Toh gelar yang pasti setiap manusia adalah Almarhum. Saya hanya berharap sinergi dalam visi misi.
=> Bagaimana jika nanti kamu tidak bahagia?!... Hakikat pemilik kebahagiaan adalah dari Allah. Sebab Kita tak bisa saling membahagiakan, namun senantiasa mencoba membangun kesyukuran.
=> Tapi strata kalian berbeda?!... perbedaan kami itu yang ingin kami rajut dan kami tuai dalam taat, agar mampu berbuah rahmat.
=> Taukah engkau ia pun memiliki masa lalu yang mampu membuatmu cemburu?!... saya mencintai untuk masa depannya bukan masa lalunya.

# Saya tak berharap banyak atas ia selain ketegasan dan perasaan tunduk pada Robb nya. Ia yang mampu menjaga amanah dng sebaik baiknya. Cukuplah bagi saya seorang pemuda yang datang dengan penuh rasa malu yang terbalut dalam ketegasan menjaga kehormatan. Seorang pemuda yang tertunduk di hadapan seorang gadis untuk menjaga hati dan kecintaan terhadap Robb nya. Seorang pemuda cerdas seperti sahabat Rasulullah, Salman Al-Farisy. Tak perlu seorang pemuda yang pandai bermanis kata, Karena saya yakin kau pemuda penuh komitmen. Cukup karena sholihmu aku menerimamu.