Kamis, 24 Juli 2014

#DuniaBaru



Ya Allah, ia
Bukanlah Abu Bakar yang penuh kedermawanan.
Bukan pula Umar yang penuh dengan keberanian.
Bukan Utsman yang penuh dengan kesetiaan,
dan bukan pula Ali yang penuh kelembutan

Ya Allah, ia
Hanyalah laki-laki yang lemah, penuh dengan kekurangan.
Ia hanyalah laki-laki yang ingin menjadi laki-laki yang sholih,
yang bertanggung jawab kepada istri dan anak-anaknya.
Laki-laki yang membimbing keluarganya untuk taat kepada-Mu.

Ya Allah, ia
Bukanlah ‘Aisyah yang penuh dengan kesetiaan dan pengorbanan
Bukan pula Zulaikha yang penuh dengan kelebihan dan keutamaan
Bukan pula Khadijah yang penuh dengan keimanan,
dan bukalah Fatimah yang berbalut dengan kemuliaan

Ya Allah,
Ia hanyalah perempuan biasa yang ingin menjadi sholihah.
Ia yang ingin taat kepada suami, menjadi pendidik untuk anak-anaknya.
Ia hanyalah bagian dari tulang rusuk yang bengkok,
yang akan ditegakkan oleh suaminya.
Ia hanyalah seorang yang lemah,
yang ingin merajut rumah tangga dalam kebahagiaan dan keimanan.
Ia ingin mendidik anak-anak dan keluarganya penuh dengan keimanan dan ketundukan kepada-Mu.

Ya Allah,
Tiada ikatan yang lebih kuat dari ikatan atas nama-Mu
Tiada kasih sayang yang tertinggi dari curahan kasih sayang-Mu
Dan tiada kerinduan paling agung selain bertemu dan berpisah untuk tetap di jalan-Mu

Ya Allah,
Jadikan keluarga kami sebagai peneduh hati berbingkai sakinah
Sumber ketenangan, mencipta kasih sayang, dan penguat iman yang teruntai dalam mawaddah
Hingga bermuara dalam limpahan arrakhmah.

IRFANISA
Karanganyar, 
07 Syawal 1435 H / 04 Agustus 2014

Senin, 14 Juli 2014

Meneladani Kesahajaan Fatimah binti Muhammad

Meneladani kesahajaan Fatimah binti Muhammad SAW ketika menikah dengan khalifah Ali bin Abi Thalib.
1. Mencintai karena Allah. Bukan karena kegagahan dan ketampanan wajah, harta, atau keturunan. Siapa yang tak mengakui kegagahan khalifah Umar bin khatab, kemuliaan akhlak Abu Bakar Ash-Shidiq, kecerdasan Utsman bin Affan atau seorang kaya raya seperti Abdurahman bin Auf. Sedangkan, lihatlah Ali. Seorang pemuda dengan standard wajah dan postur tubuh yang jauh dari Umar, apalagi kekayaan harta. Namun, lihatlah komitmen pemuda ini. Keberanian besar yang ia ambil dengan upaya maksimal. Seorang pemuda dengan penuh kelemah lembutan namun tegas mengambil keputusan.
2. Kesahajaan Fatimah binti Muhammad SAW menerima mahar dari Ali. Imam Abu Dawud dan An-Nasa`i meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata, ketika Ali menikah dengan Fatimah, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Berikanlah sesuatu kepadanya.” –Maksud beliau sebagai mahar pernikahan- Ali menjawab, “Aku tidak punya apa-apa.” Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bertanya, “Lalu di mana baju perang huthamiyah milikmu.” Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim. Yang dimaksud baju perang huthamiyah adalah penisbatan kepada Huthamah bin Muharib, salah satu marga dalam Bani Abdul Qais pembuat baju perang. Ada yang berkata, baju perang disebut dengan huthamiyah karena ia tuhatthimu (mematahkan atau menghancurkan) pedang karena kekuatannya.
3. Bagaimana walimahan Fatimah dan Ali? Walimahan Fatimah binti Muhammad, putri termuda Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam yang menjadi dambaan pemuda muslim kala itu bahkan para sahabat terbaik Rasulullah. Ali menjual kwiras (pelindung dada dari kulit) miliknya yang bagus. Kwiras ini dimenangkannya pada waktu Perang Badar. Ia menerima 400 dirham sebagai hasil penjualan, dan dengan uang itu ia mempersiapkan upacara pernikahannya. Walimahan yang sangat sederhana. Fatimah tampak cantik dengan gamis yang ia kenakan dan dengan tambalan yang ia sulam menjadi bentuk bunga. Maka maksud utama yang mendasari perayaan itu dengan kesederhanaan, ialah untuk mencontohkan kepada para Musllim dan Musllimah perlunya merayakan pernikahan tanpa jor- joran dan serba mewah. Bagaimanakah seorang putri kesayangan Rasulullah ketika menikah dirayakan dengan sangat sederhana.

Bukan kemewahan sebuah pesta pernikahan atau besarnya mahar yang kau berikan padaku maka serta merta bukan itu. Sekali lagi bukan itu. Namun komitmen atas nama Allah dalam perjanjian agung itu yang aku harapkan atasmu. Aku memang bukan Fatimah yang berbalut kemuliaan dengan sempurna, namun jadilah engkau Ali yang penuh komitmen dan kuat dalam tauhid.