Senin, 14 Juli 2014

Meneladani Kesahajaan Fatimah binti Muhammad

Meneladani kesahajaan Fatimah binti Muhammad SAW ketika menikah dengan khalifah Ali bin Abi Thalib.
1. Mencintai karena Allah. Bukan karena kegagahan dan ketampanan wajah, harta, atau keturunan. Siapa yang tak mengakui kegagahan khalifah Umar bin khatab, kemuliaan akhlak Abu Bakar Ash-Shidiq, kecerdasan Utsman bin Affan atau seorang kaya raya seperti Abdurahman bin Auf. Sedangkan, lihatlah Ali. Seorang pemuda dengan standard wajah dan postur tubuh yang jauh dari Umar, apalagi kekayaan harta. Namun, lihatlah komitmen pemuda ini. Keberanian besar yang ia ambil dengan upaya maksimal. Seorang pemuda dengan penuh kelemah lembutan namun tegas mengambil keputusan.
2. Kesahajaan Fatimah binti Muhammad SAW menerima mahar dari Ali. Imam Abu Dawud dan An-Nasa`i meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata, ketika Ali menikah dengan Fatimah, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Berikanlah sesuatu kepadanya.” –Maksud beliau sebagai mahar pernikahan- Ali menjawab, “Aku tidak punya apa-apa.” Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bertanya, “Lalu di mana baju perang huthamiyah milikmu.” Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim. Yang dimaksud baju perang huthamiyah adalah penisbatan kepada Huthamah bin Muharib, salah satu marga dalam Bani Abdul Qais pembuat baju perang. Ada yang berkata, baju perang disebut dengan huthamiyah karena ia tuhatthimu (mematahkan atau menghancurkan) pedang karena kekuatannya.
3. Bagaimana walimahan Fatimah dan Ali? Walimahan Fatimah binti Muhammad, putri termuda Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam yang menjadi dambaan pemuda muslim kala itu bahkan para sahabat terbaik Rasulullah. Ali menjual kwiras (pelindung dada dari kulit) miliknya yang bagus. Kwiras ini dimenangkannya pada waktu Perang Badar. Ia menerima 400 dirham sebagai hasil penjualan, dan dengan uang itu ia mempersiapkan upacara pernikahannya. Walimahan yang sangat sederhana. Fatimah tampak cantik dengan gamis yang ia kenakan dan dengan tambalan yang ia sulam menjadi bentuk bunga. Maka maksud utama yang mendasari perayaan itu dengan kesederhanaan, ialah untuk mencontohkan kepada para Musllim dan Musllimah perlunya merayakan pernikahan tanpa jor- joran dan serba mewah. Bagaimanakah seorang putri kesayangan Rasulullah ketika menikah dirayakan dengan sangat sederhana.

Bukan kemewahan sebuah pesta pernikahan atau besarnya mahar yang kau berikan padaku maka serta merta bukan itu. Sekali lagi bukan itu. Namun komitmen atas nama Allah dalam perjanjian agung itu yang aku harapkan atasmu. Aku memang bukan Fatimah yang berbalut kemuliaan dengan sempurna, namun jadilah engkau Ali yang penuh komitmen dan kuat dalam tauhid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar