Selasa, 28 Agustus 2012

Cerpen


           
Keluarga Kelaras Pisang
Oleh : Zukhrufannisa Asyifa
Sore hari nan syahdu. Tetesan air hujan dari langit semakin memdinginkan suhu bumi. Butiran-butiran yang berjatuhan dari langit melompat-lompat dengan begitu riang seirama dengan bunyinya yang menerpa di sela-sela dedaunan dan seng bekas yang menaungi rumah tua di pojok desa itu. Suara bayi yang ikut berbaur dengan alunan dentingan bunyi hujan semakin menambah harmoni kemiskinan.
            “Persediaan beras di ember sudah habis pak, tinggal satu gelas ini. Sama sisa kawur1yang ngasih lek2paimin kemarin.” Ujar  sang isteri sambil menggendong anaknya yang keempat. Anak bungsu yang sehari ini terus menangis karena puting ibunya tidak menghasilkan air susu. Seharian ini pula belum satu butir nasipun yang masuk kedalam perut sang ibu.
            “Kita berhutang dulu sama dek yadi ya bu. Siapa tau ada dagangannya yang mungkin bisa kita hutang dulu”. Ujar sang suami sembari mengelap air hujan di  kursi bambu tua dengan secarik kain kumal. Atap rumah banyak yang bocor.
            “Ya udah sana, bapak sebaiknya buruan berangkat, kasihan ngatini pak,menangis terus. Mungkin dia lapar, puting ibu tidak bisa mengeluarkan susu karena ibu juga belum makan”.
            Sang suami bergegas mengambil caping yang pinggirnya sudah mulai semrawut karena lingkaran kawatnya  telah berkarat. Tibalah ia di sebuah toko yang cukup lumayan besar. Para pegawainya tampak hilir mudik mengangkut barang dagangan dari mobil boks. Mungkin dagangan dari luar kota. Tampaknya seperti biskuit dan sejenis makanan yang bagi dirinya hanya dijumpai saat hari Raya Idul Fitri
            “Assalamualaykum, dik yadi?”
            “Wa’alaykumsalam..ekh, kang  paimo, mau beli apa mas? Pasti mau beli kan bukan ngutang. Soalnya hutang yang kemarin saja masih mbegegek3, kalo mas mau utang lagi, kapan mas mau bayarnya?”
            “Tolonglah saya dik yadi, mbakyumu dari tadi pagi belum makan karena tidak ada beras. Kasihan Ngatini, kalau mbakyumu tidak makan maka air susunya juga tidak keluar. Ayolah dik, kamu satu-satunya sedulur4yang bisa mas mintai tolong. Tidak mungkin kan mas minta tolong ke Paimin, karena kehidupannya juga sudah susah.”
            “Oalah mas-mas, kalo mbak ayu pengen bisa keluar susunya buat nyusuin Ngatini ya mas itu kerja, bukan males-malesan. Udah ya mas. Maaf saya sibuk harus ngawasin karyawan saya. Maaf juga untuk stok beras habis”.
Padahal sang suami tersebut melihat beras yang baru saja di turunkan dari bak truk. Mungkin beras impor dari Thailand.
            Dengan langkah gontai sang suami pergi dari toko adiknya yang terkenal paling kaya di desa tersebut. Kakinya ingin terus berjalan, namun otaknya tidak mampu mengarahkan akan kemana langkah kakinya tersebut. Langit baru saja memutahkan kebesaran Tuhannya. Titik-titik air hujan seakan masih setia membasahkan daratan yang konon terkenal dengan kekayaan negerinya, keramah tamahan penduduknya ini. Ternyata semua itu hanyalah ujaran dari mulut-mulut yang tidak bertanggung jawab. Kata-kata tersebut hanya untuk menarik minat para wisatawan asing untuk singgah.
            Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dilihatnya ada sebatang pohon pisang yang tumbang diseberang jalan. kalau nanti ada orang yang menggunakan kendaraan bisa terganggu oleh pohon pisang itu, begitu pikirnya. Disingkirkan pohon pisang itu. Namun tiba-tiba ia memiliki sebuah pikiran.
            “Mungkin bonggol pisang ini bisa untuk dimakan. Sebaiknya aku bersihkan dulu biar nanti isteriku tinggal merebusnya untuk dimakan.”
            Dengan segera ia mengambil sebuah batu yang lancip sebagai pengganti sabit untuk memisahkan bonggol pisang dengan batangnya. Setelah terpisah, bonggol pisang itupun dibungkus dengan daun pisang yang sudah kering atau yang sering disebut dengan klaras. Karena pohon pisang itu juga sudah mati. Daunnya sudah tidak hijau lagi. Oleh sebabnya tumbang. Mungkin karena terkena angin saat sebelum hujan tadi.
            Dengan agak sedikit berlari dan senyum di bibir Suami tersebut membawa kelaras daun yang berisi bonggol batang pisang.  Dalam batinnya mungkin ia ingin mengatakan.
“Bu, aku pulang dengan membawa makanan. Kita bisa merebus bonggol batang pisang ini untuk makan kita dan anak-anak. Setidaknya untuk bisa menganjal perut kita sampai esok hari. Dan semoga ini masih ada gizi yang terkandung sehingga kamu masih bisa sedikit mengeluarkan ASI untuk Ngatini,anak kita. Tidak apa-apa meski susu yang akan dihisap oleh bayi kita sedikit. Biar dia terlatih sejak bayi untuk tegar dalam kondisi orang tuanya”
Namun sayang, harapan itu ternyata tinggal dianggan sang suami yang sudah berumur hampir separuh baya ini. Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttt…BRAAAAAK !!!!! Suara rem yang ditekan dengan paksa disertai suara benda yang dihantamnya. Dari arah yanng berbeda tiba-tiba sebuah mobil sedan yang berwarna silver telah menghempaskan tubuhnya yang masih mendekap bonggol pisang tersebut. Mobil sedan itu ternyata juga menabrak pohon waru yang dipinggir jalan setelah meghempaskan tubuh sang suami. Namun, tidak berapa lama mobil sedan itupun segera berlalu. Meninggalkan sebuah tubuh yang mengerang kesakitan dengan darah yang terus mengucur dari pelipis kanannya. Dalam erangannya tubuh itu tersenyum. Tersenyum sambil mendekap sebuah bonggol pisang. Bonggol pisang harapan yang ia harapkan bisa menghidupi anak isterinya sampai esok hari, sampai mendapat hutangan beras. Atau sampai mendapatkan beras yang tercecer dipasar pinggir kota. Karena uang hasil menarik becak belum cukup untuk membayar hutangan minggu lalu. Belum lagi untuk sewa becak.
            Tubuh yang mendekap erat bonggol pisang itu kembali tersenyum. Tersenyum permintaan maaf untuk isteri dan dan empat orang anaknya. Insan yang sangat berharga baginya yang belum bisa ia beri sebatang bonggol pisang untuk makan malam ini. Senyum permintaaan maaf karena malam ini orang-orang yang ia cintai tersebut harus kelaparan kembali. Karena ia harus tetap tersenyum. Tersenyum untuk menghadap sang pencipta yang maha kaya. Tidak seperti sang penguasa yang maha penyengsara tubuh-tubuh renta seperti dirinya. Yang konon hidup dinegara yang maha kaya.
                                                                                                            UNS Solo, 2 April 2012
                                                                                                                        Jam 17.36 WIB

Minggu, 26 Agustus 2012

Dunia Sastra


Cerpen Kisah Pilot Bejo Karya Budi Darma Ditinjau dari Pendekatan Sosiologi Sastra-Kritik Marxis.
Oleh:
Dyah Hutami Wulandari         NIM. C0211015
Novitasari Mustaqimatul Haliyah       NIM. C0211027

Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian mengenai masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Kisah Pilot Bejo karya Budi Darma yang ditinjau dengan pendekatan sosiologi sastra dengan menggunakan kritik sastra marxis model refleksi menurut Georg Lukacs.
Karya sastra dipandang sebagai produk individual yang tidak dapat lepas dari pengaruh pondasi materialis. Aspek yang paling murni yang mempengaruhi karya sastra adalah faktor ekonomi dan peran penting yang dimainkan oleh kelas sosial tertentu. Dalam cerpen Kisah Pilot Bejo, masalah ekonomi dan masalah peran/jabatan dalam masyarakat sangat ditonjolkan serta konflik-konflik antara kalangan atas atau penguasa dan kalangan bawah.
Masalah pokok dalam kritik sastra marxis adalah permasalahan ekonomi dan kelas sosial, begitu pula dalam cerpen Kisah Pilot Bejo dapat dianalisis dari segi hal tersebut. Manusia ingin tetap hidup dan mendapat pengakuan dari masyarakat, maka ia terpaksa memperalat dirinya untuk mendapatkan nafkah dan kedudukan. Dengan demikian, manusia tidak mendapat kebebasan sehingga timbul konflik sosial antara majikan dan bawahan. Kerja upahan menyebabkan manusia teralianse sebab adnya bentuk instuisi milik pribadi, hal pribadi ataupun hak milik alat produksi. Mekanisme hak-hak milik dalam masyarakat memunculkan dua kelas, yakni kelas pemilik alat produksi dan kelas pekerja. Dalam analisis ini, penulis akan menganalisis berdasarkan kelas pekerja atau yang sering disebut kelas bawah atau unterbau.
            Cerpen Kisah Pilot Bejo dipakai sebagai sumber data primer, sebagai data sekunder diperoleh dari buku-buku serta sumber lain yang berkaitan dengan permasalahan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca, mengarisbawahi, dan mencatat. Sedangkan teknik pengolahan data dengan melalui tahap-tahap, klasifikasi, analisis, dan interpretasi data.
            Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah problem dasar kehidupan manusia yang terkandung didalamnya meliputi masalah-masalah kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan rasa memiliki dan rasa cinta, kebutuhan akan perwujudan diri, yang terjadi disebabkan karena tuntutan ekonomi, dan keinginan mendapatkan status/kelas di mata masyarakat.

Awal
            Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat. Ia terikat oleh status sosial tertentu. Sastra sebagai instuisi sosial menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri merupakan suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antar masyarakat dengan orang-orang, antarmanusia, dan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang, yang sering menjadi bahan sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat.
            Kencenderungan untuk menafsirkan karya sastra sebagai sumber informasi tata kemasyarakatan, sejarah sosial, latar belakang biografik pengarang, ajaran dan estetika sosial menunjukkan dengan jelas bahwa karya sastra lahir dari jaringan kemasyarakatan dan bukan dari kekosongan atau vakum sosial. Dengan demikian tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa lewat karya sastra, masyarakat dapat belajar tentang hakikat hidup dan kehidupan.
            Pendekatan terhadap karya sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan disebut sosiologi sastra. Kajian terhadap karya sastra dengan pendekatan sosiologi sastra sangatlah penting. Melalui pendekatan sosiologi sastra diharapkan dapat menjembatani hubungan antara pengarang sebagai pencipta karya sastra dengan masyarakat pembaca, sehingga pesan-pesan yang disampaikan oleh pengarang dapat diterima oleh masyarakat.
            Cerpen sebagai salah satu bentuk karya sastra akan penulis gunakan sebagai objek kajiannya. Adapun cerpen yang penulis analisis berjudul Kisah Pilot Bejo karya Budi Darma dalam kumpulan cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik yang diterbitkan Kompas Media Nusantara pada tahun 2007. Adapun alasan yang mendorong penulis mengambil objek cerpen Kisah Pilot Bejo karena dalam cerpen ini sarat dengan problem dasar kehidupan manusia yang menarik dan aktual untuk diteliti lebih mendalam. Cerpen ini merespon fenomena-fenomena yang tengah terjadi di dalam masyarakat.
            Problem dasar kehidupan manusia merupakan masalah-masalah mendasar yang terjadi dalam kehidupan manusia yang penting, aktual dan bermanfaat untuk diteliti. Penting untuk diteliti, karena problem dasar kehidupan manusia itu melibatkan seluruh aspek kehidupan, walaupun seringkali kehadirannya tidak disadari sebagai masalah sosial oleh masyarakat yang bersangkutan. Problem dasar kehidupan manusia itu relevan untuk mengetahui seluk-beluk dan latar belakang yang berkaitan dengan masalah-masalah yang diteliti dalam masyarakat. Problem dasar kehidupan manusia tersebut aktual, karena problem-problem itu sendiri terjadi di sekitar lingkungan kehidupan masyarakat sehari-hari, dan sesuatu yang nyata itu ada dalam kehidupan manusia karena dapat meningkatkan kebijakan-kebijakan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya dan dapat meningkatkan rasa sosial dan kemanusiaan.
            Model teori yang penulis gunakan dalam menganalisis cerpen Kisah Pilot Bejo karya Budi Darma adalah pendekatan sosiologi sastra dengan kritik sastra marxis Unterbau (basis atau bangunan bawah) yang mengungkapkan tentang kekuatan-kekuatan produktif dan hubungan produksi. Dalam hal ini penulis mengerucutkan lagi pembahasan atau penganalisisan yaitu menggunakan model refleksi dalam kritik sastra marxis.
            Salah satu pelopor kritik sastra marxis adalah Georg Lukacs. Georg Lukacs mengatakan bahwa sastra adalah sebuah pengetahuan realitas. Menurutnya lagi, realitas yang tertampilkan di dalam karya sastra hadir melalui kreativitas, yakni satu bentuk dalam karya itu sendiri yang merefleksikan bentuk realitas dalam dunia nyata (Dwi Susanto, 2011: 169).
            Seperti telah dijelaskan di atas bahwa karya sastra merupakan cermin atau refleksi dari masyarakat maka karya sastra dapat menggambarkan suatu masyarakat tertentu atau kenyataan tertentu yang telah terjadi dalam suatu masyarakat.
Georg Lukacs mengatakan dalam karya sastra mampu memberikan ruang atau peluang terbuka untuk membebaskan manusia dari cengkraman reifikasi. Bila karya sastra mampu memberikan salah satu segi realitas, karya sastra akan mampu membuka semua realitas sosial yang berada dalam karya itu. Sastra dengan begitu akan membantu manusia mengarahkan dirinya pada satu satu kesadaran totalitas dan pada akhiranya akan mampu memberikan katarsis, yakni sastra yang berpihak pada sosialisme. (Dwi Susanto, 2011: 168).
            Karya sastra memiliki satu kesatuan. Karya sastra dianggap sebagai cermin sederhana dari suatu realitas. Struktur formal karya sastra mengandung cermin realitas. Hubungan antara bentuk karya sastra dengan struktur realitas masyarakat memunculkan hukum-hukum objektif dari bentuk-bentuk karya memungkinkan membuat dunia kenyataan secara tepat.
             
Analisis
a.       Mencerminkan keadaan suatu masyarakat yang menganggap sakral sebuah nama.
Karena pekerjaan mengangkut orang dapat memancing bahaya, maka, turun menurun mereka selalu diberi nama yang menyiratkan keselamatan. Dia sendiri diberi nama Bejo, yaitu “selalu beruntung” ayahnya bernama Slamet dan karena itu selalu selamat, Untung, terus ke atas, ada nama Sugeng, Waluyo, Wilujeng, dan entah apa lagi. Benar, mereka tidak pernah kena musibah.”
Cerita di atas mencerminkan masyarakat yang sangat percaya akan kekuatan nama. Nama merupakan doa dan harapan dari orangtua terhadap anaknya.
b.      Mencerminkan keadaan masyarakat sekarang yang memandang pendidikan merupakan satu-satunya hal untuk menaikkan status seseorang.
Perjuangan Bejo untuk menjadi pilot sebetulnya tidak mudah. Setelah lulus SMA dia menganggur, karena dalam zaman seperti ini, dalam mencari pekerjaan lulusan SMA hanyalah diperlakukan sebagai sampah.”
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Bejo tetap menjadi seorang pengangguran meskipun sudah lulusan SMA. Saat ini orang-orang yang mencari pekerjaan dengan ijazah lulusan SMA hanya mampu mendapatkan pekerjaan yang sama dengan orang-orang berpendidikan di bawah SMA, karena dianggap orang-orang lulusan SMA tidak kompeten dibidangnya dan belum digolongkan kaum yang intelek.
Hal ini diakibatkan karena mahalnya biaya pendidikan. Jadi masalah pokoknya adalah permasalahan ekonomi. Uang dianggap segala-galanya. Bahkan untuk mendapatkan pekerjaan pun harus membayar terlebih dahulu.

c.       Cerminan akan Kebiasaan KKN yang telah berubah menjadi budaya menjadikan tatanan kehidupan rusak terutama dalam membentuk moral.
“Untunglah ayahnya mau menolong, tentu saja dengan meminta tolong seorang saudara jauh yang sama sekali tidak suka bekerja sebagai kusir, masinis, pilot, atau apa pun yang berhubungan dengan pengangkutan.”
Paman Bablas berkhotbah “Bejo? Jadi Pilot? Jadilah pedagang. Kalau sudah berhasil seperti aku, heh, dapat menjadi politikus, setiap saat bisa menyogok, dan mendirikan maskapai penerbangan sendiri, kalau perlu kelas bohong-bohongan”.
Ulasan di atas mengambarkan suatu bentuk sikap yang tidak lazim. Ketidaklaziman tersebut terdapat pada kalimat Paman Bablas yang menyatakan bahwa seorang politikus dapat melakukan apapun dengan cara menyogok dijadikan sebagai hal yang biasa.
Dalam dunia perpolitikan, memang segala cara dihalalkan untuk mencapai segala sesuatu yang diincar, seperti jabatan, kedudukan atau uang. Ini merupakan sesuatu yang telah mendarah daging di Indonesia tercinta ini.
d.      Kemudahan-kemudahan yang ada ketika akan masuk dalam suatu instansi terkait semakin memperburuk keadaan karena tanpa mempertimbangkan kemampuan yang sesungguhnya.
“Namun, resmi mempunyai hak untuk menjadi pilot, bahkan ada juga yang akhirnya menjadi menjadi pelayan restoran. Mirip-miriplah dengan para lulusan Akademik Pimpinan Perusahaan. Mereka resmi berhak menjadi pimpinan perusahaan, tapi perusahaan siapakah yang mau mereka pimpin.
Setelah mengikuti ujian yang sangat mudah sekali, Bejo langsung diterima tanpa perlu latihan-latihan lagi, hanya diajak sebentar ke ruang simulasi, ke hanggar, melihat-lihat pesawat, semua bukan milik Shontoloyo Airlines, lalu diberi brosur.”
Bentuk KKN telah merajalela di negara tercinta Indonesia. Orang-orang pintar dan kompeten di bidangnya tersingkirkan karena adanya bentuk KKN yang semakin merebak di Indonesia. Maka hal itu menyebabkan bobroknya negara Indonesia saat ini. Dipimpin orang-orang yang tidak tahu-menahu tentang bidang yang diembannya.
Begitu tiba di kantor Shontoloyo di bandara, Pilot Bejo dengan mendadak diberitahu untuk terbang ke Makasar. Sebagai seorang pilot yang ingin bertanggung jawab, dia bertanya data-data terakhir mengenai pesawat. Dengan nada serampangan “gitu saja kok ditanyakan. Kan sudah ada yang ngurus. Terbang ya terbang.”
Penggalan tersebut menyindir tentang penyepelean hal yang penting.
Sebelum masuk pesawat dia sempat melihat sepintas semua ban pesawat sudah gundul, cat di badan pesawat sudah banyak yang mengelupas, dan setelah penumpang masuk, dia sempat pula mendengar penumpang memaki-maki karena setiap kali bersandar, kursinya selalu rebah ke belakang.
Dan “tetapi” ini datang ketika Pilot Bejo dalam keadaan payah karena terlalu sering diperintah bos dengan jadwal terbang yang sangat sering berubah-ubah dengan mendadak, gaji yang dijanjikan naik, tetapi tidak pernah naik-naik, mesin pesawat terasa agak terganggu, dan beberapa kali melewati jalur yang lebih jauh untuk menghindari badai, dan entah karena apa lagi.
Tetapi, dia tahu, bos akan marah karena dia dituduh memboros-boroskan bensin. Dia juga tahu, dalam keadaan apapun seburuk apapun, dia tidak diperkenankan untuk melaporkan kepada tower di manapun mengenai keadaan yang sebenarnya. Kalau ada pertanyaan dari tower mana pun, dia tahu, dia harus menjawab semuanya berjalan dengan amat baik.
Sekali lagi, masalah perekonomian memaksa seseorang berbuat nekat. Untuk pemenuhan kebutuhan akan hidup dan uang lah yang menjadi pokok persoalan, maka segala sesuatu dilakukan untuk mendapatkannya termasuk apabila sesuatu itu membahayakan diri sendiri. Seorang bos sebagai kaum atas akan cenderung diktaktor dan tidak mau tahu akan urusan bawahannya. Ia akan cenderung mengejar budget dan keuntungan dengan hanya duduk berleha-leha, memerintah bawahannya dengan sadis. Suatu kebohongan akan diagung-agungkan untuk mencapai keuntungan dan menjaga nama baik perusahaan.
Dia tahu pesawat umur pesawat sudah hampir dua puluh lima tahun dan sudah lama tidak diperiksa, beberapa suku cadangnya seharusnya sudah diganti, radarnya juga sudah beberapa kali melenceng.
Kutipan diatas menggambarkan betapa buruknya pelayanan di dalam fasilitas umum. Karena hanya bertumpuan pada masih bisa dipakai untuk jalan ataukah tidak, tanpa memperhatikan kelayakan akan fasilitas tersebut.
Akhir
Kesimpulan yang dapat ditarik dari analisis tersebut adalah:
1.      Cerpen Kisah Pilot Bejo merupakan karya Budi Darma yang mengungkapkan tentang kepercayaan masyarakat yang  masih bertumpuan pada kekuatan sebuah nama.
2.      Cerpen Kisah Pilot Bejo cerminan dari masyarakat yang mempermasalahkan pendidikan serta pekerjaan seseorang sebagai tolak ukur dihormati atau tidaknya status dalam masyarakat.
3.      Cerpen Kisah Pilot Bejo merupakan kritikan sosial terhadap pelayanan fasilitas umum di dalam masyarakat yang cenderung asal-asalan tanpa memperhitungkan keselamatan dan hanya mengejar keuntungan semata (materialisme).
4.       Cerpen Kisah Pilot Bejo sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintah ataupun birokrasi yang menjadikan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) sudah membudaya. Keuntungan yang sebesar-besarnya namun tanpa diimbangi dengan fasilitas yang diberikan, selain itu pengangkatan jabatan seseorang karena masih adanya pengaruh kekeluargaan ataupun orang yang dianggap selalu patuh tanpa memperhatikan kualitas yang dimiliki.
5.      Cerpen Kisah Pilot Bejo kritikan terhadap orang-orang borjuis atau pemilik produksi yang menindas para pekerjanya tanpa memikirkan nasib para pekerja.

Daftar Pustaka

Ahyar Anwar. 2010. Teori Sastra Sosial. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Dwi Susanto. 2011. Pengantar Teori Sastra. Yogyakarta: Caps.

Sena Gumira Ajidarma, et al. 2008. Cinta di Atas Perahu Cadik: Cerpen Pilihan Kompas 2007. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Cerpenku


Bisikan Malaikat

           

Kehidupanku berubah 180 derajat tatkala papa tersandung kasus korupsi di kantornya. Papa dikeluarkan dari kantor dan di bawa ke meja hijau. Papa terbukti bersalah melakukan tindak korupsi dana pembangunan sebuah proyek. Atas tudingan tersebut papa harus mendekam di hotel prodeo selama 10 tahun. Mama menangis tersedu-sedu ketika hukuman tersebut dijatuhkan pada Papa. Kulihat Papa hanya tertunduk. Aku hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi kenyataan ini. Aku hanya berfikir setelah ini bagaimana nasibku, Mama, dan Adik-adik. Karena selama ini  hanya Papa yang mencukupi kebutuhan keluarga. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang bungsu baru berumur 4 tahun, dan yang kedua baru duduk di sekolah dasar kelas 2. Lalu aku sendiri saat ini tengah kuliah di sebuah Universitas terkemuka di kotaku.
            Pagi ini aku terbangun dari tidur tatkala terdengar suara ribut-ribut didepan rumah. Suara Mama yang seperti marah-marah terdengar nyaring. Segera aku beranjak dari tempat tidur. Kulihat didepan rumah mama sedang beradu argumentasi dengan dua orang laki-laki yang semuanya berseragam. Lengkap dengan tas bersabuk yang tergantung dipundaknya. Aku tahu siapa mereka. Pegawai Bank. Kenapa pagi-pagi begini ada pegawai Bank datang ke rumah.
            “ Pokoknya saya tidak sudi, rumah ini adalah pemberian orang tua saya. Jika tetap disita saya akan mengadukan kasus ini ke pengadilan !”
            “Maaf Bu, kami hanya menjalankan tugas. Ini surat perintah kami dan ini berkas-berkas tanda bukti bahwa rumah ini yang menjadi jaminan atas hutang-hutang Bapak Laksono.” Ujar salah seorang pegawai Bank yang berkumis tipis.
            Dari balik pintu yang menghubungkan dengan ruang tamu aku mendengarkan percakapan tersebut. Tubuhku tiba-tiba terasa lemas. Kaki seakan tak mampu lagi menopang tubuh. Aku terduduk dengan sendirinya. Perasaan yang mencekam kian menyelimuti ketika terdengar isak tangis Mama. Aku mengerti betul apa yang dirasakan Mama saat ini.
            Ketika suara motor para pegawai Bank itu sudah mulai terdengar samar-samar, kuberanikan diri menghampiri mama yang bersimpuh didepan rumah sembari terus terisak.
            “Ma…Mama harus tabah.” Ujarku sambil memegang memeluk mama.
            “Mama sudah tidak kuat dengan ini semua nak. Hari ini juga kita harus keluar dari rumah ini. Mana adik-adikmu. Suruh untuk membantu membereskan keperluan kita.”
            “Iya ma, biar Rista yang memberitahu mereka”.
            Siang itu juga semua barang-barang dikemasi. Kedua adikku yang belum begitu paham masih terbengong ketika aku membereskan barang-barang mereka.
            “Sebenarnya kita mau kemana tho kak?” tanya si bungsu Mawar.
            “Mungkin kita mau piknik dek. Ini kan akhir hari sabtu, besok minggu?” Jawab Fahmi adikku yang kedua.
            “Yang benar Kak. Piknik kemana. Ke puncak ya?”
            “Semoga tidak,karena  Kakak pengen piknik ke pantai saja. Kak Fahmi ingin bermain ombak dan membuat istana dari pasir.” Jawab Fahmi dengan semangat.
            “Istana dari pasir. Wah Mawar pengen kak. Yaudah Mawar mau mendandani barbie agar dia senang saat menempati istana pasir yang kak fahi buatkan itu. Hore..hore..aku mau dibuatkan istana pasir.” Teriak Mawar dengan gembira sembari berjingkrak-jingkrak.
            Sementara itu aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar celotehan kedua adikku tersebut. Fahmi, Mawar, kita tidak akan ke pantai. Tidak akan ada lagi piknik akhir pekan seperti dulu. Membawa tempat makanan yang berisi penuh dengan roti isi daging, camila beserta minuman segar. Kita berkemas untuk meninggalkan semua kemewahan yang selama ini kita temui. Aku tidak bisa membayangkan betapa sedih mereka saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi nanti. Mereka masih belum mampu untuk mengetahui betul pahit getir kehidupan.

***
            “Setidaknya kamu sudah merasakan nikmatnya menjadi anak orang kaya Rista. Sedangkan aku dan anak-anak yang seumuran dengan kita disini, boro-boro dah mengharap makan enak, pakai pakaian mahal, bisa makan nasi saja setiap hari pun sudah bersyukur. Jadi kalo kamu sekarang merasa paling menderita, kamu lihat mereka tuh. Anak-anak di pinggir sungai itu. Mereka setiap hari mengais-ngais dipenampungan sampah untuk mencari sesuap nasi.” Kata imah. Temanku di perumahan kumuh ini. rumah imah terletak tepat dibalik triplek dinding rumahku.
            Sekarang Aku, Mama dan Adik-adik tinggal disebuah perumahan kumuh pinggir kota. Hanya terdapat dua ruang. Satu untuk dapur dan satu lagi untuk kamar tamu yang sekaligus merangkap fungsi sebagai tempat tidur kami. Itupun selama dua bulan ini belum bisa membayar kontrakan. Entah apa yang akan terjadi nantinya. Mungkin kita akan di usir lagi seperti saat sedang menempati rumah mewah itu.
            Mama bekerja sebagai pemungut sampah sayur di pasar yang jaraknya satu kilo dari rumah. Terkadang jika ada orang yang membutuhkan tenaga untuk mencuci baju, Mama siap untuk melakukan. Pertama kali aku masih ragu dengan apa yang Mama lakukan ini. karena dahulu saat kita masih kaya tidak pernah sekalipun Mama memegang kain pel. Lebih sibuk untuk melayani undangan jamuan dari orang-orang penting.  Namun kali ini mama sungguh berbeda.
            Aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja demi membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Beruntung aku bertemu dengan seorang tema seperti imah. Ia yang mengajakku untuk berjualan koran. Dia juga yang mengajariku cara menjajakan, menyelip-nyelip di sela-sela kendaraan saat lampu merah dan berlari sekencang-kencangnya saat ada razia.
            Siang ini terik matahari memanggang aspal seakan berubah menjadi bara. Sejak tadi pagi belum satu pun koran yang berhasil terjual. Perut yang dari pagi belum terisi apapun seakan juga turut protes. Aku duduk di sebuah halte bis sembari kipas-kipas dengan koran. Lapar, haus, tidak ada uang. Di kota metropolis seperti ini apapun harus bayar. Jangankan hanya untuk sekedar minta minum seteguk. Untuk buang kentut saja mesti membayar.
            Pikiranku kini melayang kembali ke masa lampau. Ketika aku masih dikelilingi dengan berlimpahnya harta. Dulu apalah artinya uang seribu dua ribu. Untuk membeli minum saja tidak cukup. Tetapi sekarang, aku harus berjuang mati-matian demi mengumpulkan recehan demi sebungkus nasi. Itupun hanya nasi putih berlauk sambal.
            “Allahu akbar…Allahu akbar…!”
            Lamunanku buyar. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara. Kulihat di sebrang jalan ada sebuah bangunan surau kecil. Mungkin adzan itu bersumber dari sana. Air kran. Ya…aku ingat sekarang. Di tempat sholat biasanya kan ada air kran yang digunakan untuk wudhu. Mungkin aku bisa melepaskan dahaga dengan meminum air kran itu. Setidaknya untuk mengumpulkan lagi kekuatan untuk tetap bisa menjajakan koran samapai sore hari. Kutata kembali koran yang tadi untuk kipasan. Bergegas menuju surau. Namun tiba-tiba.
            “Razia…Raziaaaa….!!!!!!”
            Beberapa temanku yang seprofesi sebagai pedagang asongan tampak lari tunggang langgang. Tanpa banyak ba bi bu lagi aku turut lari dengan mereka. Tetapi rupanya tenagaku tidak lagi untuk berlari. Malang tak dapat ditolak. Seorang polisi bertubuh tegap berhasil menangkapku dengan mudah. Meskipun aku meronta namun usahaku sia-sia. Aku digiring menuju mobil yang bertuliskan Satpol PP bersama beberapa temanku yang tertangkap.
            Kami dibawa ke kantor polisi dan dimasukkan ke dalam sel. Sedangakan para polisi yang tadi menagkap tampak sedang minum sambil makan snack yang disediakan oleh jongos-jongos yang disana. Aku hanya mampu menelan ludah melihat mereka tampak asyik menikmati makan dan minum. Aku terduduk di pojok sel. Kembali merenung atas apa yang terjadi tadi. Semua serba cepat dalam hidupku.
            Teringat apa yang terjadi baru saja. Ketika aku ingin mengambil air kran untuk minum di surau itu tiba-tiba aku malah sudah sampai kantor polisi. Surau itu?. Apakah aku salah jika berniat untuk minum air di surau itu sehingga Tuhan tidak mengijinkan. Tuhan? Dimana Tuhan? Kemana Tuhan selama ini? Apakah tidak tahu bahwa ada hambanya yang sedang menderita?
            “Bodoh kamu Rista…….!”
            Tiba-tiba terdengar bisikan lembut yang menyisip ke dalam gendang telinga. Lalu terdengar lagi.
            “Bukan kamu yang bertanya pada Tuhan selama ini kemana. Namun, pada dirimu sendiri. Pada hatimu yang sudah buta tertutup nafsu dunia. Selama ini kamu kemana? Jawab Rista? Jawab? Selama ini kamu kemana? Kamu kembali ingat Tuhan saat tergugu menangis. Apa kamu lupa saat umur kamu masih lima tahun. Betapa riangnya dirimu saat berangkat untuk belajar Iqra’, hafalan surat. Namun, saat umur kamu mulai dewasa dan di sekolahkan di sebuah sekolah yang tidak semua anak manusia bisa masuk, kamu lupa pada Tuhan. Harusnya kamu malu bertanya seperti itu.”
            Suara itu semakain bergemuruh menyusup diantara rusuk dada. Aku semakain mengigil kedinginan.
            “Rista…apa yang kamu perbuat selama ini? Menghambur-hamburkan harta. Berfoya-foya. Tidakkan kau ingat bahwa kau ini diciptaka oleh siapa. Keman kitab suci yang dahulu kau banggakan, yang selalu kau cium saat selesai membaca. Kau letakkan di rak yang tertata rapi. Namun, saat kulimpahkan sedikit nikmat kepadamu. Kitab itu telah berdebu tak tersentuh. Keberadaannyapun mungkin telah bersama laba-laba yang menjadikan tancapan rumahnya. Lalu sekarang kamu baru bertanya dimanakah Tuhan? Sungguh memalukan!”
            Suara itu tiba-tiba menjadi sayu. Sembisua berubah menjadi gelap. Aku tidak tahu entah apa yang terjadi lagi. Saat tubuhku merubah menjadi hangat dan nyaman, mataku terbuka dengan sendirinya. Disekitarku semua serba putih. Ada juga beberapa wajah. Tampak kabur, namun masih nampak jelas bentuk wajah siapa.
            “Mama…Fahmi..Mawar”
            “Kak Sista sudah sadar?” teriak si kecil Mawar
            “Akhirnya kamu sadar nak…maafkan Mama, tidak seharusnya Mama ijinkan kamu untuk berjualan koran. Maafin Mama ya sayang?”
            “Ma…Aku gak apa-apa. Kenapa Sista sampai Rumah sakit ma?”
            “Mama tadi diberitahu oleh Imah kalo kamu tertangkap polisi. Saat mama susul ke kantor polisi katanya kamu di bawa ke rumah saki karena pingsan.” Ujar Mama sambil terus memelukku.
            Jadi aku tadi pingsan. Lalu suara itu? Dari manakah datangnya?
            Aku tidak peduli darimana suara tadi, yang pasti kini aku tersadar. Aku punya Allah yang masih menyayangiku meski aku telah melalaikannya. Aku punya Mama, Adik-adik yanng selalu memberikan kehangatan pelukannya. Terimakasih Allah…

- - - END - - -