Selasa, 28 Agustus 2012

Cerpen


           
Keluarga Kelaras Pisang
Oleh : Zukhrufannisa Asyifa
Sore hari nan syahdu. Tetesan air hujan dari langit semakin memdinginkan suhu bumi. Butiran-butiran yang berjatuhan dari langit melompat-lompat dengan begitu riang seirama dengan bunyinya yang menerpa di sela-sela dedaunan dan seng bekas yang menaungi rumah tua di pojok desa itu. Suara bayi yang ikut berbaur dengan alunan dentingan bunyi hujan semakin menambah harmoni kemiskinan.
            “Persediaan beras di ember sudah habis pak, tinggal satu gelas ini. Sama sisa kawur1yang ngasih lek2paimin kemarin.” Ujar  sang isteri sambil menggendong anaknya yang keempat. Anak bungsu yang sehari ini terus menangis karena puting ibunya tidak menghasilkan air susu. Seharian ini pula belum satu butir nasipun yang masuk kedalam perut sang ibu.
            “Kita berhutang dulu sama dek yadi ya bu. Siapa tau ada dagangannya yang mungkin bisa kita hutang dulu”. Ujar sang suami sembari mengelap air hujan di  kursi bambu tua dengan secarik kain kumal. Atap rumah banyak yang bocor.
            “Ya udah sana, bapak sebaiknya buruan berangkat, kasihan ngatini pak,menangis terus. Mungkin dia lapar, puting ibu tidak bisa mengeluarkan susu karena ibu juga belum makan”.
            Sang suami bergegas mengambil caping yang pinggirnya sudah mulai semrawut karena lingkaran kawatnya  telah berkarat. Tibalah ia di sebuah toko yang cukup lumayan besar. Para pegawainya tampak hilir mudik mengangkut barang dagangan dari mobil boks. Mungkin dagangan dari luar kota. Tampaknya seperti biskuit dan sejenis makanan yang bagi dirinya hanya dijumpai saat hari Raya Idul Fitri
            “Assalamualaykum, dik yadi?”
            “Wa’alaykumsalam..ekh, kang  paimo, mau beli apa mas? Pasti mau beli kan bukan ngutang. Soalnya hutang yang kemarin saja masih mbegegek3, kalo mas mau utang lagi, kapan mas mau bayarnya?”
            “Tolonglah saya dik yadi, mbakyumu dari tadi pagi belum makan karena tidak ada beras. Kasihan Ngatini, kalau mbakyumu tidak makan maka air susunya juga tidak keluar. Ayolah dik, kamu satu-satunya sedulur4yang bisa mas mintai tolong. Tidak mungkin kan mas minta tolong ke Paimin, karena kehidupannya juga sudah susah.”
            “Oalah mas-mas, kalo mbak ayu pengen bisa keluar susunya buat nyusuin Ngatini ya mas itu kerja, bukan males-malesan. Udah ya mas. Maaf saya sibuk harus ngawasin karyawan saya. Maaf juga untuk stok beras habis”.
Padahal sang suami tersebut melihat beras yang baru saja di turunkan dari bak truk. Mungkin beras impor dari Thailand.
            Dengan langkah gontai sang suami pergi dari toko adiknya yang terkenal paling kaya di desa tersebut. Kakinya ingin terus berjalan, namun otaknya tidak mampu mengarahkan akan kemana langkah kakinya tersebut. Langit baru saja memutahkan kebesaran Tuhannya. Titik-titik air hujan seakan masih setia membasahkan daratan yang konon terkenal dengan kekayaan negerinya, keramah tamahan penduduknya ini. Ternyata semua itu hanyalah ujaran dari mulut-mulut yang tidak bertanggung jawab. Kata-kata tersebut hanya untuk menarik minat para wisatawan asing untuk singgah.
            Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dilihatnya ada sebatang pohon pisang yang tumbang diseberang jalan. kalau nanti ada orang yang menggunakan kendaraan bisa terganggu oleh pohon pisang itu, begitu pikirnya. Disingkirkan pohon pisang itu. Namun tiba-tiba ia memiliki sebuah pikiran.
            “Mungkin bonggol pisang ini bisa untuk dimakan. Sebaiknya aku bersihkan dulu biar nanti isteriku tinggal merebusnya untuk dimakan.”
            Dengan segera ia mengambil sebuah batu yang lancip sebagai pengganti sabit untuk memisahkan bonggol pisang dengan batangnya. Setelah terpisah, bonggol pisang itupun dibungkus dengan daun pisang yang sudah kering atau yang sering disebut dengan klaras. Karena pohon pisang itu juga sudah mati. Daunnya sudah tidak hijau lagi. Oleh sebabnya tumbang. Mungkin karena terkena angin saat sebelum hujan tadi.
            Dengan agak sedikit berlari dan senyum di bibir Suami tersebut membawa kelaras daun yang berisi bonggol batang pisang.  Dalam batinnya mungkin ia ingin mengatakan.
“Bu, aku pulang dengan membawa makanan. Kita bisa merebus bonggol batang pisang ini untuk makan kita dan anak-anak. Setidaknya untuk bisa menganjal perut kita sampai esok hari. Dan semoga ini masih ada gizi yang terkandung sehingga kamu masih bisa sedikit mengeluarkan ASI untuk Ngatini,anak kita. Tidak apa-apa meski susu yang akan dihisap oleh bayi kita sedikit. Biar dia terlatih sejak bayi untuk tegar dalam kondisi orang tuanya”
Namun sayang, harapan itu ternyata tinggal dianggan sang suami yang sudah berumur hampir separuh baya ini. Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttt…BRAAAAAK !!!!! Suara rem yang ditekan dengan paksa disertai suara benda yang dihantamnya. Dari arah yanng berbeda tiba-tiba sebuah mobil sedan yang berwarna silver telah menghempaskan tubuhnya yang masih mendekap bonggol pisang tersebut. Mobil sedan itu ternyata juga menabrak pohon waru yang dipinggir jalan setelah meghempaskan tubuh sang suami. Namun, tidak berapa lama mobil sedan itupun segera berlalu. Meninggalkan sebuah tubuh yang mengerang kesakitan dengan darah yang terus mengucur dari pelipis kanannya. Dalam erangannya tubuh itu tersenyum. Tersenyum sambil mendekap sebuah bonggol pisang. Bonggol pisang harapan yang ia harapkan bisa menghidupi anak isterinya sampai esok hari, sampai mendapat hutangan beras. Atau sampai mendapatkan beras yang tercecer dipasar pinggir kota. Karena uang hasil menarik becak belum cukup untuk membayar hutangan minggu lalu. Belum lagi untuk sewa becak.
            Tubuh yang mendekap erat bonggol pisang itu kembali tersenyum. Tersenyum permintaan maaf untuk isteri dan dan empat orang anaknya. Insan yang sangat berharga baginya yang belum bisa ia beri sebatang bonggol pisang untuk makan malam ini. Senyum permintaaan maaf karena malam ini orang-orang yang ia cintai tersebut harus kelaparan kembali. Karena ia harus tetap tersenyum. Tersenyum untuk menghadap sang pencipta yang maha kaya. Tidak seperti sang penguasa yang maha penyengsara tubuh-tubuh renta seperti dirinya. Yang konon hidup dinegara yang maha kaya.
                                                                                                            UNS Solo, 2 April 2012
                                                                                                                        Jam 17.36 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar