Keluarga Kelaras Pisang
Oleh : Zukhrufannisa Asyifa
Sore
hari nan syahdu. Tetesan air hujan dari langit semakin memdinginkan suhu bumi.
Butiran-butiran yang berjatuhan dari langit melompat-lompat dengan begitu riang
seirama dengan bunyinya yang menerpa di sela-sela dedaunan dan seng bekas yang
menaungi rumah tua di pojok desa itu. Suara bayi yang ikut berbaur dengan
alunan dentingan bunyi hujan semakin menambah harmoni kemiskinan.
“Persediaan beras di ember sudah
habis pak, tinggal satu gelas ini. Sama sisa kawur1yang ngasih lek2paimin
kemarin.” Ujar sang isteri sambil
menggendong anaknya yang keempat. Anak bungsu yang sehari ini terus menangis
karena puting ibunya tidak menghasilkan air susu. Seharian ini pula belum satu
butir nasipun yang masuk kedalam perut sang ibu.
“Kita berhutang dulu sama dek yadi
ya bu. Siapa tau ada dagangannya yang mungkin bisa kita hutang dulu”. Ujar sang
suami sembari mengelap air hujan di
kursi bambu tua dengan secarik kain kumal. Atap rumah banyak yang bocor.
“Ya udah sana, bapak sebaiknya buruan berangkat,
kasihan ngatini pak,menangis terus. Mungkin dia lapar, puting ibu tidak bisa
mengeluarkan susu karena ibu juga belum makan”.
Sang suami bergegas mengambil caping
yang pinggirnya sudah mulai semrawut karena lingkaran kawatnya telah berkarat. Tibalah ia di sebuah toko
yang cukup lumayan besar. Para pegawainya
tampak hilir mudik mengangkut barang dagangan dari mobil boks. Mungkin dagangan
dari luar kota. Tampaknya seperti biskuit dan sejenis makanan yang bagi dirinya
hanya dijumpai saat hari Raya Idul Fitri
“Assalamualaykum, dik yadi?”
“Wa’alaykumsalam..ekh, kang paimo, mau beli apa mas? Pasti mau beli kan
bukan ngutang. Soalnya hutang yang kemarin saja masih mbegegek3, kalo mas mau utang lagi, kapan mas mau
bayarnya?”
“Tolonglah saya dik yadi, mbakyumu
dari tadi pagi belum makan karena tidak ada beras. Kasihan Ngatini, kalau
mbakyumu tidak makan maka air susunya juga tidak keluar. Ayolah dik, kamu
satu-satunya sedulur4yang bisa mas mintai tolong. Tidak mungkin kan mas minta tolong ke
Paimin, karena kehidupannya juga sudah susah.”
“Oalah mas-mas, kalo mbak ayu pengen
bisa keluar susunya buat nyusuin Ngatini ya mas itu kerja, bukan males-malesan.
Udah ya mas. Maaf saya sibuk harus ngawasin karyawan saya. Maaf juga untuk stok
beras habis”.
Padahal
sang suami tersebut melihat beras yang baru saja di turunkan dari bak truk.
Mungkin beras impor dari Thailand.
Dengan langkah gontai sang suami
pergi dari toko adiknya yang terkenal paling kaya di desa tersebut. Kakinya
ingin terus berjalan, namun otaknya tidak mampu mengarahkan akan kemana langkah
kakinya tersebut. Langit baru saja memutahkan kebesaran Tuhannya. Titik-titik
air hujan seakan masih setia membasahkan daratan yang konon terkenal dengan
kekayaan negerinya, keramah tamahan penduduknya ini. Ternyata semua itu
hanyalah ujaran dari mulut-mulut yang tidak bertanggung jawab. Kata-kata
tersebut hanya untuk menarik minat para wisatawan asing untuk singgah.
Tiba-tiba langkahnya terhenti.
Dilihatnya ada sebatang pohon pisang yang tumbang diseberang jalan. kalau nanti
ada orang yang menggunakan kendaraan bisa terganggu oleh pohon pisang itu,
begitu pikirnya. Disingkirkan pohon pisang itu. Namun tiba-tiba ia memiliki
sebuah pikiran.
“Mungkin bonggol pisang ini bisa
untuk dimakan. Sebaiknya aku bersihkan dulu biar nanti isteriku tinggal
merebusnya untuk dimakan.”
Dengan segera ia mengambil sebuah
batu yang lancip sebagai pengganti sabit untuk memisahkan bonggol pisang dengan
batangnya. Setelah terpisah, bonggol pisang itupun dibungkus dengan daun pisang
yang sudah kering atau yang sering disebut dengan klaras. Karena pohon pisang
itu juga sudah mati. Daunnya sudah tidak hijau lagi. Oleh sebabnya tumbang.
Mungkin karena terkena angin saat sebelum hujan tadi.
Dengan agak sedikit berlari dan
senyum di bibir Suami tersebut membawa kelaras daun yang berisi bonggol batang
pisang. Dalam batinnya mungkin ia ingin
mengatakan.
“Bu,
aku pulang dengan membawa makanan. Kita bisa merebus bonggol batang pisang ini
untuk makan kita dan anak-anak. Setidaknya untuk bisa menganjal perut kita
sampai esok hari. Dan semoga ini masih ada gizi yang terkandung sehingga kamu
masih bisa sedikit mengeluarkan ASI untuk Ngatini,anak kita. Tidak apa-apa
meski susu yang akan dihisap oleh bayi kita sedikit. Biar dia terlatih sejak
bayi untuk tegar dalam kondisi orang tuanya”
Namun
sayang, harapan itu ternyata tinggal dianggan sang suami yang sudah berumur
hampir separuh baya ini. Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttt…BRAAAAAK !!!!! Suara rem
yang ditekan dengan paksa disertai suara benda yang dihantamnya. Dari arah
yanng berbeda tiba-tiba sebuah mobil sedan yang berwarna silver telah
menghempaskan tubuhnya yang masih mendekap bonggol pisang tersebut. Mobil sedan
itu ternyata juga menabrak pohon waru yang dipinggir jalan setelah meghempaskan
tubuh sang suami. Namun, tidak berapa lama mobil sedan itupun segera berlalu.
Meninggalkan sebuah tubuh yang mengerang kesakitan dengan darah yang terus
mengucur dari pelipis kanannya. Dalam erangannya tubuh itu tersenyum. Tersenyum
sambil mendekap sebuah bonggol pisang. Bonggol pisang harapan yang ia harapkan
bisa menghidupi anak isterinya sampai esok hari, sampai mendapat hutangan beras. Atau
sampai mendapatkan beras yang tercecer dipasar pinggir kota. Karena uang hasil
menarik becak belum cukup untuk membayar hutangan minggu lalu. Belum lagi untuk
sewa becak.
Tubuh yang mendekap erat bonggol
pisang itu kembali tersenyum. Tersenyum permintaan maaf untuk isteri dan dan
empat orang anaknya. Insan yang sangat berharga baginya yang belum bisa ia beri
sebatang bonggol pisang untuk makan malam ini. Senyum permintaaan maaf karena
malam ini orang-orang yang ia cintai tersebut harus kelaparan kembali. Karena
ia harus tetap tersenyum. Tersenyum untuk menghadap sang pencipta yang maha
kaya. Tidak seperti sang penguasa yang maha penyengsara tubuh-tubuh renta
seperti dirinya. Yang konon hidup dinegara yang maha kaya.
UNS
Solo, 2 April 2012
Jam
17.36 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar