Resensi
Novel The Lost Java
Judul : The Lost Java
Penulis : Kun Geia
Editor : Baharuddin dan Ika Yuliana K
Desain
sampul : Puryani
Layout
isi :Ika Yuliana K
Penerbit : IG Press
Cetakan : I, 2012
Tebal : 363 hlm
Dunia pernovelan di Indonesia
kembali dihadirkan pada sebuah cerita bertemakan cita-cita dan perjuangan.
Novel yang bergaya science fiction, “The
Lost Java” mengajak kita untuk berpetualang ke kutub selatan dalam misi
penyelamatan dunia dari mencairnya es kutub dan perlawanan terhadap konspirasi
intelijen internasional. Selain itu novel ini juga mengisahkan cinta yang
dikemas irama yang sangat kental akan ilmiah sehingga mampu memberikan nuansa
berbeda ditengah maraknya novel percintaan yang mengharu biru seperti saat ini.
Di novel perdananya ini, Kun Geia
mempersembahkan sebuah novel yang begitu lezat. Pembaca seolah-olah diajak
untuk ikut dalam petualangan ilmuwan menyelami peristiwa demi peristiwa yang
ditajukkan. Dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dengan sisipan catatan kaki
dari istilah ilmiah yang disajikan, membuat novel ini tak kalah dengan
novel garapan Habiburahman. Bahasa yang menghenta-hentak dengan pengambaran
peristiwa yang jeli dan runtut membuat pembaca tidak jarang menggeramn gemas.
Kelebihan adalah keterbatasannya. Diceritakan
oleh Kun Geia, tokoh Gia Ihza yang ketika masih bayi mengidap penyakit cardiomyopathy sehingga harus memiliki
dua jantung yakni jantung cangkokan yang digunakan untuk menggantikan jantung
aslinya yang memiliki keterbatasan. Dibawah pengasuhan seorang profesor Deni, Gia Ihza berhasil meraih gelar Doktor dan memiliki
amanah untuk menjalankan misi untuk menyelamatkan dunia dari ancaman global
warming yang sebenarnya misi tersebut telah akan dijalankan sebelumnya oleh
orang tua Gia, Profesor Deni dan beberapa rekan Profesor lainnya.
Namun ternyata misi
penyelamatan dunia itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjuangan
Dr.Gia dan rekan-rekannya yang tergabung dalam tim WAR harus menghadapi
berbagai rintangan untuk menyelesaikan misi mereka. Pendakian puncak Vinson
Massif yang begitu dingin. Disertai kondisi dari ketua tim WAR yakni Dr.Gia
yang menderita asma cukup menjadikan hambatan perjalanan. Selain itu adanya
pengkhianatan dari salah satu tim WAR yang ternyata merupakan mata-mata dari
organisasi The Dark Knight. Akhirnya satu persatu dari tim WAR harus gugur
dalam misi penyelamatan tersebut.
Kisah romantisme cinta pun
juga tak lupa dihadirkan dalam novel bergaya thriller atau petualangan yang
mendebarkan ini. Nilai cinta yang disisipkan sangat kental akan nuansa nilai
keislaman. Sampul yang berwarna biru muda menunjukkan kesejukan. Kesejukan yang
sangat dirindukan oleh bumi saat ini karena pemanasan global. Dengan cover
bergambar bumi yang dikelilingi oleh bangunan bersejarah serta tugu jogjakarta
tepat berada di bagian atas menunjukkan bahwa pulau Jawa sebenarnya salah satu
sentral aktivitas manusia di bumi. Kun Geia ingin mengajak para pembaca untuk
menghadirkan dunia imajinasi seakan benar-benar ada dalam dunia nyata.
Namun, tipe alur yang
berpacu dengan waktu, serta penggambaran aksi dalam novel yang cukup menantang
membuat alur cerita terkadang membuat bingung para pembaca. Terkadang, tidak
jarang membaca harus mengulangi dari bab awal untuk lebih memahami cerita yang
sedang disajikan. Karena science fiction ataupun fiksi ilmiah sehingga banyak
istilah asing yang disisipkan. Hal ini membuat pembaca terkadang harus
menghentikan kelanjutan cerita karena harus melirik arti istilah tersebut yang
terletak di bawah berupa catatan kaki.
Akan tetapi cerita secara
keseluruhan novel ini sangat pas hadir dikalangan kaum muda. Cerita yang
menginspirasi, penuh semangat, serta menunjukkan bahwa segala cita-cita yang
diimpikan pasti akan tercapai dengan kerja keras yang luar biasa. Terlebih hal
tersebut dalam dipersembahkan untuk dunia. Bukanlah hal yang main-main bahkan
nyawa dipertaruhkan untuk mewujudkannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar