Selasa, 11 September 2012

Opini_Hari aksara? Sudahkah kita menulis hari ini?


Hari aksara? Sudahkah kita menulis hari ini?
            Hari aksara yang jatuh pada hari 11 september ini merupakan lecutan kecil bagi para intelek yang bergelut dalam wadah bernama fakultas sastra. Seberapa aksara yang telah dituangkan untuk memberikan sumbangan ide terhadap negara yang sedang dilanda krisis akan orang-orang kritis nan solutif. Sekarang yang kita temui di negara tercinta ini mungkin bisa dibilang hanya orang-orang yang mencaci tanpa solusi. Sejuta naskah yang tersimpan dalam sebuah museum yang tak terurus seakan telah menjadi satu onggokan sampah yang tidak berharga. Negara berkembang tenggah disibukkan oleh perkembangan teknologi yang saat ini sedang menggila dipasaran. Bukan untuk bersaing menciptakan teknologi yang lebih canggih dari yang sudah ada saat ini, namun untuk memburu memiliki dan memuaskan nafsu konsumtifnya. Maka tak heran bila negara-negara maju yang mampu menciptakan teknologi canggih tersebut memasukkan produk mereka ke negara yang penduduknya mudah dirayu dengan harga murah dan selalu silau akan fasilitas yang ditawarkan.
            Kemakah kita harus kembali mencari kiblat untuk menyetir kembali negara ini? Cobalah sedikit berfikir dan mulai memutar balikkan dayung pikir kita menuju ke masa silam. Dimana para negarawan masa lampau mampu menjayakan negara mereka. Kita mulai dari pemerintah para khalifah Islam. Seperti khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq yang mampu menuntaskan segala pemberontakan yang terjadi dengan sikapnya nan lemah lembut. Amirul mukminin Umar bin Khattab yang begitu tegas dan bijaksana dalam memerintah, sehingga pernah ada satu riwayat yang mengatakan bahwasanya setan pun takut ketika umar datang. Ataukah kita tenggok dalam kisah para daulah umat Islam yang telah berjaya mencetak para cendekiawan muslim yang telah berhasil mengolah ilmu pengetahuan yang menjadi acuan dalam mempelajari suatu ilmu, jauh sebelum orang-orang Eropa mengambil dan mengklaim penemuan ilmu pengetahuan tersebut. Daulah bani Umayah, Bani Abbasiyah, yang ketika mencapai puncak kejayaan telah mencetak para ilmuwan cendekia muslim seperti Ibnu Sina . Itulah sedikit gambaran contoh tentang khalifah umat Islam  yang telah berhasil memerintah dan pernah menguasai 21/3 dunia. Di Indonesia pun kita kaya akan contoh pemimpin yang benar-benar sosok seorang pemimpin. Dimulai dari masa jaman Majapahit yang mencapai masa keemasan saat pemerintah Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Dengan sumpahnya yang terkenal dengan sumpah palapa Gajah Mada mampu menyatukan Nusantara dalam persatuan. Serta masih banyak lagi contoh sosok pemimpin yang patut kita jadikan referensi untuk mencari sosok pemimpin masa sekarang. Lalu dimanakah kita mampu mencari referensi tersebut? Kita mulai buka kembali lembar-lembar usah yang kertasnay telah usang tersebut. Ada sebagian yang terdapat dalam ruang kaca dan hanya orang-orang yang berkepentingan untuk meraih gelar yang mau melihatnya. Padahal jika kita tahu, berapa banyak kisah serta contoh bagaimana pemimpin pendahulu kita berhasil memperbaiki sebuah negara hingga mencapai kejayaan.
            Hari aksara. Kita kembali mengaksara. Kita kembali membuka dan mencari solusi untuk negara kita yang tengah krisis kepemimpinan. Kembali ke sastra yang menyimpan sejuta bijak yang masih terbungkus rapi. Kembali ke laboratorium sastra untuk mendalami naskah kuno dalam filologi. Meski laboratorium filologi Fakultas Sastra di beberapa Universitas di Indonesia masih tertinggal jauh dengan laboratorium Fakultas  Kedokteran. Tidak masalah seberapapun kurangnya fasilitas yang dimiliki, namun seberapakah maksimal dalam mempergunakan fasilitas yang ada. Selamat hari aksara para sahabat sastra. Selamat berkarya. Karya kita telah dinantikan tuk kiblat membangun bangsa. Bangsa kita tercinta. Indonesia. ^.^

1 komentar: