Hari
aksara? Sudahkah kita menulis hari ini?
Hari aksara yang jatuh pada hari 11
september ini merupakan lecutan kecil bagi para intelek yang bergelut dalam
wadah bernama fakultas sastra. Seberapa aksara yang telah dituangkan untuk
memberikan sumbangan ide terhadap negara yang sedang dilanda krisis akan
orang-orang kritis nan solutif. Sekarang yang kita temui di negara tercinta ini
mungkin bisa dibilang hanya orang-orang yang mencaci tanpa solusi. Sejuta
naskah yang tersimpan dalam sebuah museum yang tak terurus seakan telah menjadi
satu onggokan sampah yang tidak berharga. Negara berkembang tenggah disibukkan
oleh perkembangan teknologi yang saat ini sedang menggila dipasaran. Bukan
untuk bersaing menciptakan teknologi yang lebih canggih dari yang sudah ada
saat ini, namun untuk memburu memiliki dan memuaskan nafsu konsumtifnya. Maka
tak heran bila negara-negara maju yang mampu menciptakan teknologi canggih
tersebut memasukkan produk mereka ke negara yang penduduknya mudah dirayu
dengan harga murah dan selalu silau akan fasilitas yang ditawarkan.
Kemakah kita harus kembali mencari
kiblat untuk menyetir kembali negara ini? Cobalah sedikit berfikir dan mulai
memutar balikkan dayung pikir kita menuju ke masa silam. Dimana para negarawan
masa lampau mampu menjayakan negara mereka. Kita mulai dari pemerintah para
khalifah Islam. Seperti khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq yang mampu menuntaskan
segala pemberontakan yang terjadi dengan sikapnya nan lemah lembut. Amirul
mukminin Umar bin Khattab yang begitu tegas dan bijaksana dalam memerintah,
sehingga pernah ada satu riwayat yang mengatakan bahwasanya setan pun takut
ketika umar datang. Ataukah kita tenggok dalam kisah para daulah umat Islam
yang telah berjaya mencetak para cendekiawan muslim yang telah berhasil
mengolah ilmu pengetahuan yang menjadi acuan dalam mempelajari suatu ilmu, jauh
sebelum orang-orang Eropa mengambil dan mengklaim penemuan ilmu pengetahuan
tersebut. Daulah bani Umayah, Bani Abbasiyah, yang ketika mencapai puncak
kejayaan telah mencetak para ilmuwan cendekia muslim seperti Ibnu Sina . Itulah
sedikit gambaran contoh tentang khalifah umat Islam yang telah berhasil memerintah dan pernah
menguasai 21/3 dunia. Di
Indonesia pun kita kaya akan contoh pemimpin yang benar-benar sosok seorang
pemimpin. Dimulai dari masa jaman Majapahit yang mencapai masa keemasan saat
pemerintah Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Dengan sumpahnya yang
terkenal dengan sumpah palapa Gajah Mada mampu menyatukan Nusantara dalam
persatuan. Serta masih banyak lagi contoh sosok pemimpin yang patut kita
jadikan referensi untuk mencari sosok pemimpin masa sekarang. Lalu dimanakah
kita mampu mencari referensi tersebut? Kita mulai buka kembali lembar-lembar
usah yang kertasnay telah usang tersebut. Ada sebagian yang terdapat dalam
ruang kaca dan hanya orang-orang yang berkepentingan untuk meraih gelar yang
mau melihatnya. Padahal jika kita tahu, berapa banyak kisah serta contoh
bagaimana pemimpin pendahulu kita berhasil memperbaiki sebuah negara hingga
mencapai kejayaan.
Hari aksara. Kita kembali
mengaksara. Kita kembali membuka dan mencari solusi untuk negara kita yang tengah
krisis kepemimpinan. Kembali ke sastra yang menyimpan sejuta bijak yang masih
terbungkus rapi. Kembali ke laboratorium sastra untuk mendalami naskah kuno
dalam filologi. Meski laboratorium filologi Fakultas Sastra di beberapa
Universitas di Indonesia masih tertinggal jauh dengan laboratorium
Fakultas Kedokteran. Tidak masalah
seberapapun kurangnya fasilitas yang dimiliki, namun seberapakah maksimal dalam
mempergunakan fasilitas yang ada. Selamat hari aksara para sahabat sastra.
Selamat berkarya. Karya kita telah dinantikan tuk kiblat membangun bangsa.
Bangsa kita tercinta. Indonesia. ^.^

Bgus yah, kembangkan!
BalasHapus