Bisikan
Malaikat
Kehidupanku berubah
180 derajat tatkala papa tersandung kasus korupsi di kantornya. Papa
dikeluarkan dari kantor dan di bawa ke meja hijau. Papa terbukti bersalah
melakukan tindak korupsi dana pembangunan sebuah proyek. Atas tudingan tersebut
papa harus mendekam di hotel prodeo selama 10 tahun. Mama menangis tersedu-sedu
ketika hukuman tersebut dijatuhkan pada Papa. Kulihat Papa hanya tertunduk. Aku
hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi kenyataan ini. Aku hanya berfikir
setelah ini bagaimana nasibku, Mama, dan Adik-adik. Karena selama ini hanya Papa yang mencukupi kebutuhan keluarga.
Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang bungsu baru berumur 4 tahun,
dan yang kedua baru duduk di sekolah dasar kelas 2. Lalu aku sendiri saat ini
tengah kuliah di sebuah Universitas terkemuka di kotaku.
Pagi ini aku terbangun dari tidur tatkala terdengar suara
ribut-ribut didepan rumah. Suara Mama yang seperti marah-marah terdengar nyaring.
Segera aku beranjak dari tempat tidur. Kulihat didepan rumah mama sedang beradu
argumentasi dengan dua orang laki-laki yang semuanya berseragam. Lengkap dengan
tas bersabuk yang tergantung dipundaknya. Aku tahu siapa mereka. Pegawai Bank.
Kenapa pagi-pagi begini ada pegawai Bank datang ke rumah.
“ Pokoknya saya tidak sudi, rumah ini adalah pemberian
orang tua saya. Jika tetap disita saya akan mengadukan kasus ini ke pengadilan
!”
“Maaf Bu, kami hanya menjalankan tugas. Ini surat perintah kami dan
ini berkas-berkas tanda bukti bahwa rumah ini yang menjadi jaminan atas
hutang-hutang Bapak Laksono.” Ujar salah seorang pegawai Bank yang berkumis
tipis.
Dari balik pintu yang menghubungkan dengan ruang tamu aku
mendengarkan percakapan tersebut. Tubuhku tiba-tiba terasa lemas. Kaki seakan
tak mampu lagi menopang tubuh. Aku terduduk dengan sendirinya. Perasaan yang
mencekam kian menyelimuti ketika terdengar isak tangis Mama. Aku mengerti betul
apa yang dirasakan Mama saat ini.
Ketika suara motor para pegawai Bank itu sudah mulai
terdengar samar-samar, kuberanikan diri menghampiri mama yang bersimpuh didepan
rumah sembari terus terisak.
“Ma…Mama harus tabah.” Ujarku sambil memegang memeluk
mama.
“Mama sudah tidak kuat dengan ini semua nak. Hari ini
juga kita harus keluar dari rumah ini. Mana adik-adikmu. Suruh untuk membantu
membereskan keperluan kita.”
“Iya ma, biar Rista yang memberitahu mereka”.
Siang itu juga semua barang-barang dikemasi. Kedua adikku
yang belum begitu paham masih terbengong ketika aku membereskan barang-barang
mereka.
“Sebenarnya kita mau kemana tho kak?” tanya si bungsu
Mawar.
“Mungkin kita mau piknik dek. Ini kan akhir hari sabtu, besok minggu?” Jawab
Fahmi adikku yang kedua.
“Yang benar Kak. Piknik kemana. Ke puncak ya?”
“Semoga tidak,karena
Kakak pengen piknik ke pantai saja. Kak Fahmi ingin bermain ombak dan
membuat istana dari pasir.” Jawab Fahmi dengan semangat.
“Istana dari pasir. Wah Mawar pengen kak. Yaudah Mawar
mau mendandani barbie agar dia senang saat menempati istana pasir yang kak fahi
buatkan itu. Hore..hore..aku mau dibuatkan istana pasir.” Teriak Mawar dengan
gembira sembari berjingkrak-jingkrak.
Sementara itu aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar
celotehan kedua adikku tersebut. Fahmi, Mawar, kita tidak akan ke pantai. Tidak
akan ada lagi piknik akhir pekan seperti dulu. Membawa tempat makanan yang
berisi penuh dengan roti isi daging, camila beserta minuman segar. Kita
berkemas untuk meninggalkan semua kemewahan yang selama ini kita temui. Aku
tidak bisa membayangkan betapa sedih mereka saat mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi nanti. Mereka masih belum mampu untuk mengetahui betul pahit getir
kehidupan.
***
“Setidaknya kamu sudah merasakan nikmatnya menjadi anak
orang kaya Rista. Sedangkan aku dan anak-anak yang seumuran dengan kita disini,
boro-boro dah mengharap makan enak, pakai pakaian mahal, bisa makan nasi saja
setiap hari pun sudah bersyukur. Jadi kalo kamu sekarang merasa paling
menderita, kamu lihat mereka tuh. Anak-anak di pinggir sungai itu. Mereka
setiap hari mengais-ngais dipenampungan sampah untuk mencari sesuap nasi.” Kata
imah. Temanku di perumahan kumuh ini. rumah imah terletak tepat dibalik triplek
dinding rumahku.
Sekarang Aku, Mama dan Adik-adik tinggal disebuah
perumahan kumuh pinggir kota.
Hanya terdapat dua ruang. Satu untuk dapur dan satu lagi untuk kamar tamu yang
sekaligus merangkap fungsi sebagai tempat tidur kami. Itupun selama dua bulan
ini belum bisa membayar kontrakan. Entah apa yang akan terjadi nantinya.
Mungkin kita akan di usir lagi seperti saat sedang menempati rumah mewah itu.
Mama bekerja sebagai pemungut sampah sayur di pasar yang
jaraknya satu kilo dari rumah. Terkadang jika ada orang yang membutuhkan tenaga
untuk mencuci baju, Mama siap untuk melakukan. Pertama kali aku masih ragu
dengan apa yang Mama lakukan ini. karena dahulu saat kita masih kaya tidak
pernah sekalipun Mama memegang kain pel. Lebih sibuk untuk melayani undangan
jamuan dari orang-orang penting. Namun
kali ini mama sungguh berbeda.
Aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja demi
membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Beruntung aku bertemu dengan seorang
tema seperti imah. Ia yang mengajakku untuk berjualan koran. Dia juga yang
mengajariku cara menjajakan, menyelip-nyelip di sela-sela kendaraan saat lampu
merah dan berlari sekencang-kencangnya saat ada razia.
Siang ini terik matahari memanggang aspal seakan berubah
menjadi bara. Sejak tadi pagi belum satu pun koran yang berhasil terjual. Perut
yang dari pagi belum terisi apapun seakan juga turut protes. Aku duduk di
sebuah halte bis sembari kipas-kipas dengan koran. Lapar, haus, tidak ada uang.
Di kota
metropolis seperti ini apapun harus bayar. Jangankan hanya untuk sekedar minta
minum seteguk. Untuk buang kentut saja mesti membayar.
Pikiranku kini melayang kembali ke masa lampau. Ketika
aku masih dikelilingi dengan berlimpahnya harta. Dulu apalah artinya uang
seribu dua ribu. Untuk membeli minum saja tidak cukup. Tetapi sekarang, aku
harus berjuang mati-matian demi mengumpulkan recehan demi sebungkus nasi. Itupun
hanya nasi putih berlauk sambal.
“Allahu akbar…Allahu akbar…!”
Lamunanku buyar. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari
sumber suara. Kulihat di sebrang jalan ada sebuah bangunan surau kecil. Mungkin
adzan itu bersumber dari sana.
Air kran. Ya…aku ingat sekarang. Di tempat sholat biasanya kan ada air kran yang digunakan untuk wudhu.
Mungkin aku bisa melepaskan dahaga dengan meminum air kran itu. Setidaknya
untuk mengumpulkan lagi kekuatan untuk tetap bisa menjajakan koran samapai sore
hari. Kutata kembali koran yang tadi untuk kipasan. Bergegas menuju surau.
Namun tiba-tiba.
“Razia…Raziaaaa….!!!!!!”
Beberapa temanku yang seprofesi sebagai pedagang asongan
tampak lari tunggang langgang. Tanpa banyak ba bi bu lagi aku turut lari dengan
mereka. Tetapi rupanya tenagaku tidak lagi untuk berlari. Malang tak dapat ditolak. Seorang polisi
bertubuh tegap berhasil menangkapku dengan mudah. Meskipun aku meronta namun
usahaku sia-sia. Aku digiring menuju mobil yang bertuliskan Satpol PP bersama
beberapa temanku yang tertangkap.
Kami dibawa ke kantor polisi dan dimasukkan ke dalam sel.
Sedangakan para polisi yang tadi menagkap tampak sedang minum sambil makan
snack yang disediakan oleh jongos-jongos yang disana. Aku hanya mampu menelan
ludah melihat mereka tampak asyik menikmati makan dan minum. Aku terduduk di
pojok sel. Kembali merenung atas apa yang terjadi tadi. Semua serba cepat dalam
hidupku.
Teringat apa yang terjadi baru saja. Ketika aku ingin
mengambil air kran untuk minum di surau itu tiba-tiba aku malah sudah sampai
kantor polisi. Surau itu?. Apakah aku salah jika berniat untuk minum air di
surau itu sehingga Tuhan tidak mengijinkan. Tuhan? Dimana Tuhan? Kemana Tuhan
selama ini? Apakah tidak tahu bahwa ada hambanya yang sedang menderita?
“Bodoh kamu Rista…….!”
Tiba-tiba terdengar bisikan lembut yang menyisip ke dalam
gendang telinga. Lalu terdengar lagi.
“Bukan kamu yang bertanya pada Tuhan selama ini kemana.
Namun, pada dirimu sendiri. Pada hatimu yang sudah buta tertutup nafsu dunia.
Selama ini kamu kemana? Jawab Rista? Jawab? Selama ini kamu kemana? Kamu
kembali ingat Tuhan saat tergugu menangis. Apa kamu lupa saat umur kamu masih lima tahun. Betapa
riangnya dirimu saat berangkat untuk belajar Iqra’, hafalan surat. Namun, saat umur kamu mulai dewasa dan
di sekolahkan di sebuah sekolah yang tidak semua anak manusia bisa masuk, kamu
lupa pada Tuhan. Harusnya kamu malu bertanya seperti itu.”
Suara itu semakain bergemuruh menyusup diantara rusuk
dada. Aku semakain mengigil kedinginan.
“Rista…apa yang kamu perbuat selama ini?
Menghambur-hamburkan harta. Berfoya-foya. Tidakkan kau ingat bahwa kau ini
diciptaka oleh siapa. Keman kitab suci yang dahulu kau banggakan, yang selalu
kau cium saat selesai membaca. Kau letakkan di rak yang tertata rapi. Namun,
saat kulimpahkan sedikit nikmat kepadamu. Kitab itu telah berdebu tak
tersentuh. Keberadaannyapun mungkin telah bersama laba-laba yang menjadikan
tancapan rumahnya. Lalu sekarang kamu baru bertanya dimanakah Tuhan? Sungguh
memalukan!”
Suara itu tiba-tiba menjadi sayu. Sembisua berubah
menjadi gelap. Aku tidak tahu entah apa yang terjadi lagi. Saat tubuhku merubah
menjadi hangat dan nyaman, mataku terbuka dengan sendirinya. Disekitarku semua
serba putih. Ada
juga beberapa wajah. Tampak kabur, namun masih nampak jelas bentuk wajah siapa.
“Mama…Fahmi..Mawar”
“Kak Sista sudah sadar?” teriak si kecil Mawar
“Akhirnya kamu sadar nak…maafkan Mama, tidak seharusnya
Mama ijinkan kamu untuk berjualan koran. Maafin Mama ya sayang?”
“Ma…Aku gak apa-apa. Kenapa Sista sampai Rumah sakit ma?”
“Mama tadi diberitahu oleh Imah kalo kamu tertangkap
polisi. Saat mama susul ke kantor polisi katanya kamu di bawa ke rumah saki
karena pingsan.” Ujar Mama sambil terus memelukku.
Jadi aku tadi pingsan. Lalu suara itu? Dari manakah
datangnya?
Aku tidak peduli darimana suara tadi, yang pasti kini aku
tersadar. Aku punya Allah yang masih menyayangiku meski aku telah
melalaikannya. Aku punya Mama, Adik-adik yanng selalu memberikan kehangatan
pelukannya. Terimakasih Allah…
- - - END - - -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar