Sabtu, 25 Agustus 2012

Cerpenku


Bisikan Malaikat

           

Kehidupanku berubah 180 derajat tatkala papa tersandung kasus korupsi di kantornya. Papa dikeluarkan dari kantor dan di bawa ke meja hijau. Papa terbukti bersalah melakukan tindak korupsi dana pembangunan sebuah proyek. Atas tudingan tersebut papa harus mendekam di hotel prodeo selama 10 tahun. Mama menangis tersedu-sedu ketika hukuman tersebut dijatuhkan pada Papa. Kulihat Papa hanya tertunduk. Aku hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi kenyataan ini. Aku hanya berfikir setelah ini bagaimana nasibku, Mama, dan Adik-adik. Karena selama ini  hanya Papa yang mencukupi kebutuhan keluarga. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang bungsu baru berumur 4 tahun, dan yang kedua baru duduk di sekolah dasar kelas 2. Lalu aku sendiri saat ini tengah kuliah di sebuah Universitas terkemuka di kotaku.
            Pagi ini aku terbangun dari tidur tatkala terdengar suara ribut-ribut didepan rumah. Suara Mama yang seperti marah-marah terdengar nyaring. Segera aku beranjak dari tempat tidur. Kulihat didepan rumah mama sedang beradu argumentasi dengan dua orang laki-laki yang semuanya berseragam. Lengkap dengan tas bersabuk yang tergantung dipundaknya. Aku tahu siapa mereka. Pegawai Bank. Kenapa pagi-pagi begini ada pegawai Bank datang ke rumah.
            “ Pokoknya saya tidak sudi, rumah ini adalah pemberian orang tua saya. Jika tetap disita saya akan mengadukan kasus ini ke pengadilan !”
            “Maaf Bu, kami hanya menjalankan tugas. Ini surat perintah kami dan ini berkas-berkas tanda bukti bahwa rumah ini yang menjadi jaminan atas hutang-hutang Bapak Laksono.” Ujar salah seorang pegawai Bank yang berkumis tipis.
            Dari balik pintu yang menghubungkan dengan ruang tamu aku mendengarkan percakapan tersebut. Tubuhku tiba-tiba terasa lemas. Kaki seakan tak mampu lagi menopang tubuh. Aku terduduk dengan sendirinya. Perasaan yang mencekam kian menyelimuti ketika terdengar isak tangis Mama. Aku mengerti betul apa yang dirasakan Mama saat ini.
            Ketika suara motor para pegawai Bank itu sudah mulai terdengar samar-samar, kuberanikan diri menghampiri mama yang bersimpuh didepan rumah sembari terus terisak.
            “Ma…Mama harus tabah.” Ujarku sambil memegang memeluk mama.
            “Mama sudah tidak kuat dengan ini semua nak. Hari ini juga kita harus keluar dari rumah ini. Mana adik-adikmu. Suruh untuk membantu membereskan keperluan kita.”
            “Iya ma, biar Rista yang memberitahu mereka”.
            Siang itu juga semua barang-barang dikemasi. Kedua adikku yang belum begitu paham masih terbengong ketika aku membereskan barang-barang mereka.
            “Sebenarnya kita mau kemana tho kak?” tanya si bungsu Mawar.
            “Mungkin kita mau piknik dek. Ini kan akhir hari sabtu, besok minggu?” Jawab Fahmi adikku yang kedua.
            “Yang benar Kak. Piknik kemana. Ke puncak ya?”
            “Semoga tidak,karena  Kakak pengen piknik ke pantai saja. Kak Fahmi ingin bermain ombak dan membuat istana dari pasir.” Jawab Fahmi dengan semangat.
            “Istana dari pasir. Wah Mawar pengen kak. Yaudah Mawar mau mendandani barbie agar dia senang saat menempati istana pasir yang kak fahi buatkan itu. Hore..hore..aku mau dibuatkan istana pasir.” Teriak Mawar dengan gembira sembari berjingkrak-jingkrak.
            Sementara itu aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar celotehan kedua adikku tersebut. Fahmi, Mawar, kita tidak akan ke pantai. Tidak akan ada lagi piknik akhir pekan seperti dulu. Membawa tempat makanan yang berisi penuh dengan roti isi daging, camila beserta minuman segar. Kita berkemas untuk meninggalkan semua kemewahan yang selama ini kita temui. Aku tidak bisa membayangkan betapa sedih mereka saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi nanti. Mereka masih belum mampu untuk mengetahui betul pahit getir kehidupan.

***
            “Setidaknya kamu sudah merasakan nikmatnya menjadi anak orang kaya Rista. Sedangkan aku dan anak-anak yang seumuran dengan kita disini, boro-boro dah mengharap makan enak, pakai pakaian mahal, bisa makan nasi saja setiap hari pun sudah bersyukur. Jadi kalo kamu sekarang merasa paling menderita, kamu lihat mereka tuh. Anak-anak di pinggir sungai itu. Mereka setiap hari mengais-ngais dipenampungan sampah untuk mencari sesuap nasi.” Kata imah. Temanku di perumahan kumuh ini. rumah imah terletak tepat dibalik triplek dinding rumahku.
            Sekarang Aku, Mama dan Adik-adik tinggal disebuah perumahan kumuh pinggir kota. Hanya terdapat dua ruang. Satu untuk dapur dan satu lagi untuk kamar tamu yang sekaligus merangkap fungsi sebagai tempat tidur kami. Itupun selama dua bulan ini belum bisa membayar kontrakan. Entah apa yang akan terjadi nantinya. Mungkin kita akan di usir lagi seperti saat sedang menempati rumah mewah itu.
            Mama bekerja sebagai pemungut sampah sayur di pasar yang jaraknya satu kilo dari rumah. Terkadang jika ada orang yang membutuhkan tenaga untuk mencuci baju, Mama siap untuk melakukan. Pertama kali aku masih ragu dengan apa yang Mama lakukan ini. karena dahulu saat kita masih kaya tidak pernah sekalipun Mama memegang kain pel. Lebih sibuk untuk melayani undangan jamuan dari orang-orang penting.  Namun kali ini mama sungguh berbeda.
            Aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja demi membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Beruntung aku bertemu dengan seorang tema seperti imah. Ia yang mengajakku untuk berjualan koran. Dia juga yang mengajariku cara menjajakan, menyelip-nyelip di sela-sela kendaraan saat lampu merah dan berlari sekencang-kencangnya saat ada razia.
            Siang ini terik matahari memanggang aspal seakan berubah menjadi bara. Sejak tadi pagi belum satu pun koran yang berhasil terjual. Perut yang dari pagi belum terisi apapun seakan juga turut protes. Aku duduk di sebuah halte bis sembari kipas-kipas dengan koran. Lapar, haus, tidak ada uang. Di kota metropolis seperti ini apapun harus bayar. Jangankan hanya untuk sekedar minta minum seteguk. Untuk buang kentut saja mesti membayar.
            Pikiranku kini melayang kembali ke masa lampau. Ketika aku masih dikelilingi dengan berlimpahnya harta. Dulu apalah artinya uang seribu dua ribu. Untuk membeli minum saja tidak cukup. Tetapi sekarang, aku harus berjuang mati-matian demi mengumpulkan recehan demi sebungkus nasi. Itupun hanya nasi putih berlauk sambal.
            “Allahu akbar…Allahu akbar…!”
            Lamunanku buyar. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara. Kulihat di sebrang jalan ada sebuah bangunan surau kecil. Mungkin adzan itu bersumber dari sana. Air kran. Ya…aku ingat sekarang. Di tempat sholat biasanya kan ada air kran yang digunakan untuk wudhu. Mungkin aku bisa melepaskan dahaga dengan meminum air kran itu. Setidaknya untuk mengumpulkan lagi kekuatan untuk tetap bisa menjajakan koran samapai sore hari. Kutata kembali koran yang tadi untuk kipasan. Bergegas menuju surau. Namun tiba-tiba.
            “Razia…Raziaaaa….!!!!!!”
            Beberapa temanku yang seprofesi sebagai pedagang asongan tampak lari tunggang langgang. Tanpa banyak ba bi bu lagi aku turut lari dengan mereka. Tetapi rupanya tenagaku tidak lagi untuk berlari. Malang tak dapat ditolak. Seorang polisi bertubuh tegap berhasil menangkapku dengan mudah. Meskipun aku meronta namun usahaku sia-sia. Aku digiring menuju mobil yang bertuliskan Satpol PP bersama beberapa temanku yang tertangkap.
            Kami dibawa ke kantor polisi dan dimasukkan ke dalam sel. Sedangakan para polisi yang tadi menagkap tampak sedang minum sambil makan snack yang disediakan oleh jongos-jongos yang disana. Aku hanya mampu menelan ludah melihat mereka tampak asyik menikmati makan dan minum. Aku terduduk di pojok sel. Kembali merenung atas apa yang terjadi tadi. Semua serba cepat dalam hidupku.
            Teringat apa yang terjadi baru saja. Ketika aku ingin mengambil air kran untuk minum di surau itu tiba-tiba aku malah sudah sampai kantor polisi. Surau itu?. Apakah aku salah jika berniat untuk minum air di surau itu sehingga Tuhan tidak mengijinkan. Tuhan? Dimana Tuhan? Kemana Tuhan selama ini? Apakah tidak tahu bahwa ada hambanya yang sedang menderita?
            “Bodoh kamu Rista…….!”
            Tiba-tiba terdengar bisikan lembut yang menyisip ke dalam gendang telinga. Lalu terdengar lagi.
            “Bukan kamu yang bertanya pada Tuhan selama ini kemana. Namun, pada dirimu sendiri. Pada hatimu yang sudah buta tertutup nafsu dunia. Selama ini kamu kemana? Jawab Rista? Jawab? Selama ini kamu kemana? Kamu kembali ingat Tuhan saat tergugu menangis. Apa kamu lupa saat umur kamu masih lima tahun. Betapa riangnya dirimu saat berangkat untuk belajar Iqra’, hafalan surat. Namun, saat umur kamu mulai dewasa dan di sekolahkan di sebuah sekolah yang tidak semua anak manusia bisa masuk, kamu lupa pada Tuhan. Harusnya kamu malu bertanya seperti itu.”
            Suara itu semakain bergemuruh menyusup diantara rusuk dada. Aku semakain mengigil kedinginan.
            “Rista…apa yang kamu perbuat selama ini? Menghambur-hamburkan harta. Berfoya-foya. Tidakkan kau ingat bahwa kau ini diciptaka oleh siapa. Keman kitab suci yang dahulu kau banggakan, yang selalu kau cium saat selesai membaca. Kau letakkan di rak yang tertata rapi. Namun, saat kulimpahkan sedikit nikmat kepadamu. Kitab itu telah berdebu tak tersentuh. Keberadaannyapun mungkin telah bersama laba-laba yang menjadikan tancapan rumahnya. Lalu sekarang kamu baru bertanya dimanakah Tuhan? Sungguh memalukan!”
            Suara itu tiba-tiba menjadi sayu. Sembisua berubah menjadi gelap. Aku tidak tahu entah apa yang terjadi lagi. Saat tubuhku merubah menjadi hangat dan nyaman, mataku terbuka dengan sendirinya. Disekitarku semua serba putih. Ada juga beberapa wajah. Tampak kabur, namun masih nampak jelas bentuk wajah siapa.
            “Mama…Fahmi..Mawar”
            “Kak Sista sudah sadar?” teriak si kecil Mawar
            “Akhirnya kamu sadar nak…maafkan Mama, tidak seharusnya Mama ijinkan kamu untuk berjualan koran. Maafin Mama ya sayang?”
            “Ma…Aku gak apa-apa. Kenapa Sista sampai Rumah sakit ma?”
            “Mama tadi diberitahu oleh Imah kalo kamu tertangkap polisi. Saat mama susul ke kantor polisi katanya kamu di bawa ke rumah saki karena pingsan.” Ujar Mama sambil terus memelukku.
            Jadi aku tadi pingsan. Lalu suara itu? Dari manakah datangnya?
            Aku tidak peduli darimana suara tadi, yang pasti kini aku tersadar. Aku punya Allah yang masih menyayangiku meski aku telah melalaikannya. Aku punya Mama, Adik-adik yanng selalu memberikan kehangatan pelukannya. Terimakasih Allah…

- - - END - - -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar