Oleh:
Nissa Asy-Syifa’
“Lepaskan
kerudungmu itu sekarang juga!”
“Tidak,
aku muslimah, aku bersyahadat atas nama Allah dan Rasul yang diutusnya,
sekali-kali aku tidak akan mengkhianati Nya meski isi senapanmu memburaikan
isi kepalaku.”
“Baiklah,
rasakan ini wanita bodoh!”
DOOOR...!!!
“Allahu
Akbar, Laillaha ilalloh.”
Sunyi.
Kampung
Muarakole menjadi kampung neraka yang keji. Bau anyir darah manusia berbaur
dengan asap dari api yang membakar rumah warga semakin menyesakkan pernafasan.
Gerimis sore mulai menguyur diantara puing-puing tembok yang hancur. Api
memadamkan diri setelah hujan semakin rapat menguyur. Menjelang magrib. Irama
hujan berhenti layaknya iringan biola yang menambah kegelisahan di hati cinta.
Tanpa kilau warna pelangi. Tanpa desiran sepoi angin yang mengeringkan gerahnya
hati.
Cinta.
Masih
saja mendekap hangat tubuh yang kaku itu. Dia tersenyum. Manis sekali. Meski
jilbab yang dikenakan telah compang-camping dan percikan darah disana-sini.
“Kini
kakak, berati adik harus berjuang hidup sendiri.” Cinta, dia tak menangis
sedikitpun. Sekali lagi ia kecup pipi kakaknya yang mulai membiru dan semakin
dingin.
Pagi
tadi. Segelas susu hangat telah tersedia di meja. Kakak. Telah cantik dengan jilbab putih yang
terurai. Hari ini adalah hari perayaan Idul Adha. Aku berjalan beriringan
disampingnya. Semua wajah-wajah kaum muslimin tampak bahagia. Ini adalah hari
dimana semua umat muslim melaksanakan sholat Ied hari raya Kurban. Setelah itu
akan disembelihlah kambing dan sapi yang telah dipersiapakan di dekat
masjid-masjid.
Takbir
pertama dikumandangkan. Semua khusyuk.
Namun,
entah darimana datangnya tiba-tiba terdengar suara yang memekakkan telinga.
“Serang!”
“Bunuh!”
“Bakar!”
Suasana
mencekam. Orang-orang yang memakai penutup muka hitam itu dengan parang, panah,
pistol, tombak menghujani orang muslim yang tidak memegang senjata apapun.
Suara jeritan, tangisan, dan darah yang memuncrat dimana-mana menjadi satu. Aku
melihat tubuh kakakku diseret oleh orang yang memakai senapan dan kulihat juga
tato seperti bintang di lengan kiri orang itu. Aku mencoba mengejarnya.
Sesekali tubuhku terjatuh tersandung
oleh tubuh-tubuh yang bergelimpangan di tanah. Tiba-tiba sebuah tangan yang
keras mencekeram leherku. Tubuhku terayun di udara. Aku sulit bernafas. Rupanya
tangan itu mencekik leherku. Dan semakin keras. Hingga aku merasakan gelap dan
suara-suara di sekelilingku mulai terdengar kabur.
Hujan
ini rupanya telah menyadarkanku. Aku mencarinya. Diantara tumpukan mayat
manusia yang bergelimpangan. Oh, disudut sana rupanya. Wajah cantik itu tak
berubah adanya. Jilbab yang masih melekat di wajah cantik kakak masih terurai begitu
anggunnya.
Rintik
desah angin
Syuuut...
Syuut....
Menusuk
sumsum bagi jiwa yang belum terlepas dari raga
Cinta?
Allahu
akbar, siapakah yang masih bernyawa diantara tubuh manusia kaku ini...!
Aku
terbangun oleh kehangatan matahari yang menyibak dinginnya bau anyir darah
manusia pagi ini. 24 jam sudah. Apakah aku sudah mati. Ah... sepertinya tidak,
aku masih hidup. Karena aku merasakan nyeri yang sangat disekujur tubuh.
Terutama dihatiku, yang telah di cabik oleh srigala bermata liar bersimbol itu.
Dengan segala daya aku mencoba berdiri. Mencari sisa-sisa tenaga segelas susu
yang kakak sediakan kemarin pagi.
Kota
ini lebih mengerikan dari cerita-cerita kastil drakula yang pernah kudengar.
Semua sepi. Mati.
“Kau,
Cinta?”
“Puji
Tuhan, kau masih hidup anakku. Mari nak, sini nak, ikutlah denganku. Kuantarkan
kau ke tempat penampungan pengungsi.”
Aku
mengikuti langkah wanita berambut ikal berjuntai nan kusut itu, ke tempat yang
ternyata banyak kujumpai pengungsi kekejaman perang ini.
“Istirahatlah,
kau bisa kami rawat bersama pengungsi disini. Lihat lukamu, akan kami cuci
dahulu agar segera kering.”
“Tak
perlu, luka di kulit dan tulang ini hanya goresan kecil. Luka yang aku derita
tak kan sembuh oleh balutan kain kasa dan obat merah. Tapi ijinkan aku untuk
ikut serta dalam barisan belakang mujahidin pertahanan untuk sekedar merawat
luka tembakan para mujahidin.”
“Tentu,
anakku, tentu.”
“Siapa
kau?”
“Masyarakat
sipil yang ikut mengungsi.”
“Siapa
yang kau bela?”
“Aku
melindungi keluargaku.”
“Kau
muslim?”
“Ya,
aku muslim.” Jawabnya dengan lirih.
“Tidakkah
kau ingat, siapa yang membela agama Allah maka Allah akan memenangkan.”
“Tapi
kau tak mengerti, apabila aku mengaku muslim maka seluruh adik-adikku akan di
rebus hidup-hidup.
“Ishadu
bi ana muslimun ya Ukhty!”
“Diamlah
kalian, serigala hitam berhasil mengetahui persembunyian kita!” Teriak
perempuan yang tadi mengenakan kerudung hitam kumal kemudian buru-buru di
lepas.
“Kenapa
kau lepas jilbabmu wahai Ummi.”
“Aku
tak ingin anak-anakku akan di tombak menjadi satu apabila aku mengaku seorang
muslimah.”
DOOR...DOOR..DOOOR.....!!!
“Cinta,
segera lepas jilbab dan himarmu. Kau akan di bunuh nanti.”
“Kenapa
aku harus melepas!”
“Karena
mereka hanya akan membunuh muslimah yang memakai kerudung.”
“Wallahi,
Sungguh Allah dan Rasul Nya lebih aku takuti dari sekedar ujung senapan mereka.”
“Tapi
cinta, kau akan mati.”
“Betapa
indahnya Asiyah yang mati berserah diri atas nama Allah Azza Wajalla, Sumayah
yang gagah berani dan syurga adalah lebih ia banggakan dari kehidupan dunia.
Kita muslimah ya Ummi.”
BRAK!!
“Pintu
di dobrak dengan paksa.”
“Siapa
diantara kalian seorang muslimah!”
“Ya
cinta, cepat bukalah jibabmu. Sungguh kau mati dalam usia muda apabila kau
masih mengenakan kerudung.”
“Tidak
akan, demi Allah yang semesta dalam gengaman-Nya aku akan menghadapi mereka.”
“Tidak
cinta.”
Suara
erangan serigala hitam semakin mengeretak.
“Siapa
diantara kalian muslimah!”
“Wahai
musuh Allah. Aku adalah muslimah. Dalam aliran darahku mengalir kalimah syahadat
Laillahaillah Muhammadar rasulullah. Kau tak akan merampas kesucian kami.”
“Hahaha....baik,
kau tak akan ku bunuh, tapi buka kerudung yang menutup tubuhmu itu, maka kau
kuanggap sebagai warga sipil dan tidak akan kami bunuh.”
“Seadainya
kalian menyiksaku dengan tusukan seribu belati, sungguh itu lebih muslimah
senangi dari sekedar mengakui pemberian hidup darimu wahai musuh Allah.”
“Sombong
sekali rupanya kau bocah kecil!”
“Aku
adalah pembela agama Allah wahai syetan!”
Dooor....!
Door......!
Dor........!
Tiga
pelor menembus tepat di kepala dan dada cinta. Dara memuncrat, mengubah putih
jilbabnya menjadi merah darah.
Subhanallah,
adakah kekuatan yang Allah berikan kepada cinta.
Allahu
akbar...
Allahu
akbar...
Allahu
akbar...
Laa
Illaha illallah....
Tubuh
muda berusia 16 tahun itu rebah diantara kaki-kaki jahanam bersepatu baja
hitam.
Dan
langit berwarna merah saga bermuram, gemerutuk gigi-gigi alam mengutuk
cengkraman syetan yang masih bercokol di bumi suci. Cinta, muda usiamu, namun
kau adalah sebutir permata diantara buih lautan. ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar