Suatu hari sambil menikmati istirahat, setelah penat
seharian beraktivitas seperti biasa kami mengobrol apapun yang bisa diobrolin.
Suami juga hanya beberapa hari di rumah, maka waktu kami pun sangat singkat
untuk berbicara dari hati ke hati. Meskipun suami tampak lelah namun sebisa
mungkin ia mencoba membuka mata untuk menemaniku yang sebenarnya juga sudah sangat lelah.
“Mas?”
“Ya, Dik.”
“Kalau menikah ternyata seindah ini, kenapa masih banyak
yang mereka mampu untuk menikah tapi lebih memilih pacaran ya?”
“Karena di dalamnya ada tanggung jawab yang besar dik,
sedang pacaran adalah mereka yang tidak berani bertanggung jawab.” Jawab
suamiku sambil memejamkan mata.
Selang beberapa menit setelah ia berkata begitu,kulihat ia
telah tertidur pulas. Kupandangi wajah suamiku.
Ia seorang pemuda yang 6 bulan lalu datang di hadapan Ayah
untuk meminang puterinya.
Ia seorang pemuda yang pada tanggal 8 Syawal telah mengambil
suatu perjanjian agung atas suatu tanggung jawab yang besar.
Ia seorang pemuda yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh
kasih sayang, namun belum mampu ia membalas jasa Ayah Bundanya namun ia telah berani mengambil
seorang puteri menjadi amanahnya.
Ia seorang suami yang dengan penuh kasih sayang menerima
segala kekurangan isterinya, kemanjaan isterinya , dan segala keluh kesah
isterinya.
Ia seorang suami yang rela lelah raganya agar sejahtera
amanah yang ia tanggung.
Ia seorang suami yang tersenyum penuh keikhlasan meski hanya
segelas teh hangat yang tersaji di meja.
Ia seorang suami yang tiada lelah membimbing .
Ya Allah, Syukur hati ini telah Kau takdirkan ia untukku
Tabahkan hatinya, kuatkan raganya
Pertemukan keluarga kami kembali di Syurga-Mu kelak.
Kamis, 13 Nopember 2014
Untukmu Suamiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar