Sabtu, 15 November 2014

Wahai Suamiku



Suatu hari sambil menikmati istirahat, setelah penat seharian beraktivitas seperti biasa kami mengobrol apapun yang bisa diobrolin. Suami juga hanya beberapa hari di rumah, maka waktu kami pun sangat singkat untuk berbicara dari hati ke hati. Meskipun suami tampak lelah namun sebisa mungkin ia mencoba membuka mata untuk menemaniku yang sebenarnya juga  sudah sangat lelah.
“Mas?”
“Ya, Dik.”
“Kalau menikah ternyata seindah ini, kenapa masih banyak yang mereka mampu untuk menikah tapi lebih memilih pacaran ya?”
“Karena di dalamnya ada tanggung jawab yang besar dik, sedang pacaran adalah mereka yang tidak berani bertanggung jawab.” Jawab suamiku sambil memejamkan mata.
Selang beberapa menit setelah ia berkata begitu,kulihat ia telah tertidur pulas. Kupandangi wajah suamiku.
Ia seorang pemuda yang 6 bulan lalu datang di hadapan Ayah untuk meminang puterinya.
Ia seorang pemuda yang pada tanggal 8 Syawal telah mengambil suatu perjanjian agung atas suatu tanggung jawab  yang besar.
Ia seorang pemuda yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang, namun belum mampu ia membalas jasa  Ayah Bundanya namun ia telah berani mengambil seorang puteri menjadi amanahnya.
Ia seorang suami yang dengan penuh kasih sayang menerima segala kekurangan isterinya, kemanjaan isterinya , dan segala keluh kesah isterinya.
Ia seorang suami yang rela lelah raganya agar sejahtera amanah yang ia tanggung.
Ia seorang suami yang tersenyum penuh keikhlasan meski hanya segelas teh hangat yang tersaji di meja.
Ia seorang suami yang tiada lelah membimbing .
Ya Allah, Syukur hati ini telah Kau takdirkan ia untukku
Tabahkan hatinya, kuatkan raganya
Pertemukan keluarga kami kembali di Syurga-Mu kelak.
Kamis, 13 Nopember 2014
Untukmu Suamiku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar