Aku memang tidak bisa membohongi rasa. Konyol
memang. Aku menyukai laki-laki yang sudah memiliki istri dan anak. Nasehat dari
kakak-kakakku seolah tidak mempan untuk
mengurungkan niat ini. Niat untuk melamar laki-laki tersebut.
“Kamu
satu-satunya adik perempuan kami. Kamu itu cantik, cerdas dan lulusan S1 yang sudah memiliki pekerjaan mapan. Jangan kamu
permalukan keluarga ini hanya karena tindakan bodohmu itu, dengan menikahi
laki-laki yang berprofesi sebagai tukang becak. Terlebih dia sudah memiliki
isteri dan anak. Apa kamu ingin di cap sebagai perusak rumah tangga orang lain
Nis ?”
“Dia
memang hanya laki-laki yang berprofesi sebagai tukang becak mas, tapi Anisa
yakin dia mampu menjadi seorang pemimpin keluarga yang mampu menyelamatkan
keluarganya baik didunia maupun akhirat.”
Namanya
Sutarno. Tukang becak langgananku setiap aku belanja ke pasar yang jaraknya 2
kilometer dari rumah. Sudah hampir setengah tahun aku menjadi pelanggan
tetapnya setiap hari minggu. Karena aku belanja ke pasar hanya di hari
minggu. Pernah suatu hari aku menguji kejujurannya. Sengaja aku tinggalkan
dompetku yang berisi uang tujuh ratus ribu di jok becaknya. Sampai sore hari
dia tidak kembali ke rumahku untuk mengembalikan dompet yang sengaja aku
tinggal tersebut. Mungkin Tarno memang seperti kebanyakan orang yang telah
krisis memiliki sikap jujur. Begitu fikirku. Namun ternyata dugaan ku salah
besar. Tepat sehabis bakda magrib pintu rumahku diketuk oleh seseorang. Setelah
kubuka ada sosok yang basah kuyup karena air hujan. Tampak di tanggannya sebuah dompet berwarna
merah marum. Ya, itu Tarno, tukang becak yang tadi aku menaruh curiga
kepadanya.
“Maaf
bu, tadi dompet ibu tertinggal di jok becak saya, seharusnya saya harus
mengembalikan tadi. Tetapi karena tadi isteri saya mengabari bahwa anak saya
yang bungsu demam tinggi, langsung saya
gunakan dulu becak saya untuk mengantar si bungsu ke puskesmas. Ini bu
dompetnya, mohon diperiksa kembali mungkin ada barang yang hilang atau
tercecer.”
Kuterima
dompet tersebut dan kubuka isinya. Uang tujuh ratus ribu, kartu kredit,
surat-surat, semua masih utuh.
“Anak
bapak yang bungsu sakit?”
“Iya,
Alhamdulillah tadi sudah saya bawa ke Puskesmas .”
“Ya
udah, terima kasih banyak telah menemukan dompet saya, dan ini mungkin ada
sedikit rejeki untuk tambah beli obat anak bapakk sedikit bubur.” Sambil
kuserahkan dua lembar uang seratusan ribu.
“Terima
kasih banyak Bu. Maaf sebelumnya, bukan maksut saya untuk sombong, tapi tidak usah.
Perbuatan saya sudah seharusnya dilakukan. Untuk berobat bungsu ada Askeskin yang sangat membantu keluarga
seperti saya.”
Aku
tersenyum puas atas jawabannya. Namun aku masih ingin meyakinkan bahwa dia
adalah benar-benar lelaki yang sholeh.
Minggu
siang. Aku dari toko elektronik. Kubeli sebuah TV untuk ditempatkan dikamarku.
Seperti biasa aku panggil Sutarno becak langgananku.
“Nanti
tolong dimasukkan sekalian ke kamar ya. Soalnya dirumah sedang tidak ada
orang”.
“Baik
Bu”.
Ketika
dia sedang berada dikamarku untuk meletakkan TV serta merta dia langsung
membalikkan badan ke belakang. Spontanitas aku yang sedang berdiri dibelakang
tanpa sepengetahuannya terhuyut dan jatuh bersama dengan tubuhnya.
“Astaqfirullah…maaf
ya Bu. Saya tidak sengaja”.
“Aduuuuh...”
“Masya Allah bu, maafkan saya, saya benar-benar tidak
sengaja.”
Aku memandangnya dengan
pandangan penuh hasrat. Dengan seketika ia menundukkan pandangan dan berbisik
“Astaqfirullah.”
“Maaf bu, saya harus segera menarik becak lagi. Pelanggan
saya sudah menunggu.”
“Tarno, tunggu.”
“Iya bu?”
“Dirumah sedang tidak ada orang. Apa kamu tidak ingin
sekedar minum dulu untuk melepaskan dahaga?”
“Maaf bu, hari ini hari kamis. Saya sedang berpuasa. Saya
permisi. Assalamualaykum.”
“Wa’alaikumussalam .”
Aku semakin yakin untuk menjadikan ia sebagai imamku. Aku
sanggup menjadi istri kedua untuknya. Aku juga sanggup membiayai seluruh
anak-anak baik dari istri pertamanya atau anak-anakku kelak. Karena aku
menginginkan imam seperti dirinya untuk membimbing dunia dan akhiratku. ***
''Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan
perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan
wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar
Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf pun
termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih...
(QS Yusuf : 24).




