Jumat, 16 Agustus 2013

Yusuf Tidak Harus Setampan Yusuf



           
Aku memang tidak bisa membohongi rasa. Konyol memang. Aku menyukai laki-laki yang sudah memiliki istri dan anak. Nasehat dari kakak-kakakku  seolah tidak mempan untuk mengurungkan niat ini. Niat untuk melamar laki-laki tersebut.
            “Kamu satu-satunya adik perempuan kami. Kamu itu cantik, cerdas dan lulusan S1 yang sudah  memiliki pekerjaan mapan. Jangan kamu permalukan keluarga ini hanya karena tindakan bodohmu itu, dengan menikahi laki-laki yang berprofesi sebagai tukang becak. Terlebih dia sudah memiliki isteri dan anak. Apa kamu ingin di cap sebagai perusak rumah tangga orang lain Nis ?”
            “Dia memang hanya laki-laki yang berprofesi sebagai tukang becak mas, tapi Anisa yakin dia mampu menjadi seorang pemimpin keluarga yang mampu menyelamatkan keluarganya baik didunia maupun akhirat.”
            Namanya Sutarno. Tukang becak langgananku setiap aku belanja ke pasar yang jaraknya 2 kilometer dari rumah. Sudah hampir setengah tahun aku menjadi pelanggan  tetapnya setiap hari minggu. Karena aku belanja ke pasar hanya di hari minggu. Pernah suatu hari aku menguji kejujurannya. Sengaja aku tinggalkan dompetku yang berisi uang tujuh ratus ribu di jok becaknya. Sampai sore hari dia tidak kembali ke rumahku untuk mengembalikan dompet yang sengaja aku tinggal tersebut. Mungkin Tarno memang seperti kebanyakan orang yang telah krisis memiliki sikap jujur. Begitu fikirku. Namun ternyata dugaan ku salah besar. Tepat sehabis bakda magrib pintu rumahku diketuk oleh seseorang. Setelah kubuka ada sosok yang basah kuyup karena air hujan.  Tampak di tanggannya sebuah dompet berwarna merah marum. Ya, itu Tarno, tukang becak yang tadi aku menaruh curiga kepadanya.
            “Maaf bu, tadi dompet ibu tertinggal di jok becak saya, seharusnya saya harus mengembalikan tadi. Tetapi karena tadi isteri saya mengabari bahwa anak saya yang bungsu  demam tinggi, langsung saya gunakan dulu becak saya untuk mengantar si bungsu ke puskesmas. Ini bu dompetnya, mohon diperiksa kembali mungkin ada barang yang hilang atau tercecer.”
            Kuterima dompet tersebut dan kubuka isinya. Uang tujuh ratus ribu, kartu kredit, surat-surat, semua masih utuh.
            “Anak bapak yang bungsu sakit?”
            “Iya, Alhamdulillah tadi sudah saya bawa ke Puskesmas .”
            “Ya udah, terima kasih banyak telah menemukan dompet saya, dan ini mungkin ada sedikit rejeki untuk tambah beli obat anak bapakk sedikit bubur.” Sambil kuserahkan dua lembar uang seratusan ribu.
            “Terima kasih banyak Bu. Maaf sebelumnya, bukan maksut saya untuk sombong, tapi tidak usah. Perbuatan saya sudah seharusnya dilakukan. Untuk berobat bungsu ada Askeskin yang sangat membantu keluarga seperti saya.”
            Aku tersenyum puas atas jawabannya. Namun aku masih ingin meyakinkan bahwa dia adalah benar-benar lelaki yang sholeh.
            Minggu siang. Aku dari toko elektronik. Kubeli sebuah TV untuk ditempatkan dikamarku. Seperti biasa aku panggil Sutarno becak langgananku.
            “Nanti tolong dimasukkan sekalian ke kamar ya. Soalnya dirumah sedang tidak ada orang”.
            “Baik Bu”.
            Ketika dia sedang berada dikamarku untuk meletakkan TV serta merta dia langsung membalikkan badan ke belakang. Spontanitas aku yang sedang berdiri dibelakang tanpa sepengetahuannya terhuyut dan jatuh bersama dengan tubuhnya.
            “Astaqfirullah…maaf ya Bu. Saya tidak sengaja”.
            “Aduuuuh...”
            “Masya Allah bu, maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja.”
Aku memandangnya dengan pandangan penuh hasrat. Dengan seketika ia menundukkan pandangan dan berbisik “Astaqfirullah.”
            “Maaf bu, saya harus segera menarik becak lagi. Pelanggan saya sudah menunggu.”
            “Tarno, tunggu.”
            “Iya bu?”
            “Dirumah sedang tidak ada orang. Apa kamu tidak ingin sekedar minum dulu untuk melepaskan dahaga?”
            “Maaf bu, hari ini hari kamis. Saya sedang berpuasa. Saya permisi. Assalamualaykum.”
            “Wa’alaikumussalam .”
            Aku semakin yakin untuk menjadikan ia sebagai imamku. Aku sanggup menjadi istri kedua untuknya. Aku juga sanggup membiayai seluruh anak-anak baik dari istri pertamanya atau anak-anakku kelak. Karena aku menginginkan imam seperti dirinya untuk membimbing dunia dan akhiratku. ***
''Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf pun termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih...
(QS Yusuf : 24).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar