Jumat, 16 Agustus 2013

Khitbah



Khitbah


“Ada yang mengkhitbah kamu lagi dik?” Tanya mbak Afifah teman satu kamar kos denganku.
Aku hanya tersenyum kecut sambil mengangguk.
“Siapa lagi?”
“Anak Mahad Ibnu Sina mbak. Murid Ustadz Mustafa Hasan.”
“Kamu terima lamaran beliau dik?” Tanyanya lagi sambil memasukkan baju yang baru saja selesai diseterika.
“Belum mbak, kemarin beliaunya baru bertandang ke rumah, ketemu dengan Abah. Seperti biasa Abah menyerahkan segala keputusan ke tanganku. Meski sebenarnya aku tahu apa yang Abah rasakan. Abah tak ingin putri satu-satunya terganggu kuliahnya karena memikirkan lamaran dari pemuda, namun Abah juga ingin melihat putrinya meraih cita-cintanya terlebih dahulu dan agar bisa fokus. Disisi lain Abah juga belum rela melepas putrinya untuk seorang pemuda. Dan aku juga tahu mbak kenapa Abah menyerahkan keputusannya kepadaku karena agar aku mampu menentukan pilihanku sendiri. Dari dulu Abah tidak pernah mengekang putra putrinya dalam meraih cita. Itulah kenapa juga aku tidak pernah membantah segala perintah Abah mbak.” Sambil menghela nafas panjang aku pegang HP erat-erat. Baru saja pemuda itu mengirimkan pesan singkat kepadaku.
“Dik, memilih pasangan hidup tidak seperti memilih baju baru. Kita sebagai muslimah harus benar-benar mampu untuk memilih dan memilah siapa yang akan menjadi imam kita. Kita pun tentu mengharapkan pernikahan yang terjadi sekali seumur hidup kita. Jangan sampai ketertarikan kita bertumpu karena panjangnya jenggot yang dia punya atau celana cingkrang yang ia kenakan. Selain agamanya kita juga harus mengetahui bagaimana dirinya bukan. Sholatnya bagus, hafalannya lima juz, tapi dia memiliki aroma tubuh yang kurang sedap, itu juga yang akan mempengaruhi keharmonian keluarga. Kita memang tidak mengharapkan suatu kesempurnaan, karena kita juga muslimah yang sangat membutuhkan bimbingan seorang imam, tapi keikhlasan menerima dari dua orang yang berjanji untuk mengarungi rumah tangga bersama itulah yang harus kita pertimbangkan, tentunya semua atas dasar agama kita.  Dan satu lagi, terlalu memilih pun hanya akan menyengsarakan diri kita. Dik, apa diantara ikhwan-ikhwan itu sudah ada yang kamu rasa cocok?”
Sekali lagi aku menghela napas panjang kemudian menggeleng. Di tanganku tergengan HP dan baru saja pemuda tersebut   mengirimkan sebuah sms.
Dik Salsa, appun kputusan anti
            Insya Allah, ana terima dng sng hati
            Allah yg lbih brkhendak atas kita
Sudah beberapa pemuda yang datang menghadap Abah dan mengutarakan maksud untuk meminangku. Aku tidak kenal dengan pemuda-pemuda tersebut. aku serahkan segala keputusan pada Abah dan aku pasrahkan takdir pendampingku pada Allah yang maha tahu yang terbaik tuk hambanya.
Hari ahad. Saatnya untuk refresh rohani. Duduk bersama dengan orang-orang yang rindu akan surga illahi. Namun ahad ini aku mendapat jadwal untuk menjadi presenter silaturahim dengan peserta pengajian putri. Jiwa terasa seperti tergugah kembali semangatnya tatkala mendengar cerita dari  orang-orang yang luar biasa. Mereka bukan hanya dosen, pegawai, atau yang memiliki pangkat serta gelar, namun justru beliau adalah orang-orang yang setiap hari bekerja di sawah, dengan bertemankan matahari dan sudah berusia paruh baya tetapi memiliki ghiroh menuntut ilmu agama lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemuda-pemuda yang mudah terkena virus galau.
Selesai menjalankan tugas sebagai presenter, segera aku menuju kelantai tiga untuk bisa bersua dengan teman-teman sebaya. Karena di prioritaskan lantai atas sebagai tempatnya yang masih kuat naik turun tangga. Disampingku duduk seorang Ibu yang begitu khusyuk mendengarkan tausyiah. Ibu tersebut berusia sekitar 45 tahun. Namun wajahnya masih nampak begitu cantik. Ditawarilah aku cemilan-cemilan kecil yang beliau bawa dari rumah. Disela-sela mendengarkan Ibu tersebut mulai bertanya-tanya tentang diriku. Nama, asal, sekolah dimana, usia. Wah, serasa intrerogasi.
“Mbak ini yang penyiar itu kan?”
“Iya Ibu, saya Salsa.” Jawabku sambil tersenyum.
Berawal dari situ percakapan kita dimulai. Si Ibu mulai menceritakan tentang dirinya, tentang keluarganya, anak-anaknya dan tentang saat dulu beliau pertama kali bertemu dengan suaminya. Yang membuat aku menarik adalah ketika beliau menyatakan bahwa ia menikah saat menempuh gelar S1 di semester 6.
“Dahulu ibu itu juga tidak tahu kenapa  bisa tertarik dengan pemuda yang sekarang jadi suami ibu itu. pertemuan pertama kalipun tidak berkesan sama sekali. Jadi yang namanya anak kos kan memang agak bebas mbak, apalagi kos yang ibu tempati itu bersebelahan dengan kos cowok. Suami saya itu orangnya pendiem banget mbak. Dulu itu diantara teman-temannya suami saya itu yang paling kalem, sampai dia dijuluki si kopyah, gara-gara kemana-mana pake peci putih. Anak zaman dulu ya juga mengenal pacaran mbak, tapi pacarannya tidak seperti anak sekarang yang rentengan kemana-mana. Pacaran ibu ma suami ibu itu dulu melalui pesan yang disampaikan pada temannya. Kemudian temannya menyampaikan pada teman saya, barulah teman saya menyampaikan kepada saya.”
“Lalu ibu menikah dengan beliau saat masih kuliah begitu juga langsung direstui orang tua?” tanyaku semakin penasaran dan tertarik dengan cerita dari ibu tersebut,
“Saat itu suami ibu langsung datang ke rumah ibu untuk melamar. Kan suami saya itu seorang yatim piatu mbak. Tinggalnya bersama simbahnya yang sudah tua. Untuk biaya kuliah dia itu jualan, apapun dia jual. Dari makanan siomai, di kos menjual sampo dan sabun buat teman-temannya, jadi tukang pengantar donat juga. Pokoknya apapun katanya, yang penting menghasilkan uang halal dan dengan cara yang baik.”
“Subhanallah, suami ibu keren sekali.”
“Nah, karena itu juga mbak. Ibu itu kagum dengannya. Dan karena melihat kegigihannya tersebut akhirnya orang tua ibu mengijinkan menikah meski masih kuliah. Saat itu ibu selesai semester 6 mau ke semester 7 ketika ibu menikah. Ya, tinggalnya tetap di kos-kosan. Dan untuk biaya bersama ibu kumpulin jatah uang bulanan dari orang tua untuk keperluan kami bersama.”
“Subhanallah... Sekarang putra ibu sudah berapa?”
“Alhamdulilah sekarang ibu punya anak tiga mbak. Yang paling sulung putri sekarang semester 5 di semarang. Yang nomor dua laki-laki kelas 2 SMK dan yang bungsu laki-laki juga kelas 1 SMP. Tapi ibu mengharapkan anak ibu yang pertama itu tidak nikah muda, seperti ibunya.”
“Loh, kenapa bu, wah ibu ini curang..hehe.”
“Ya, bukan begitu mbak, tapi ibu pengen anak ibu itu sukses mandiri dulu. Setelah umur dirasa cukup dan cita-cita telah diraih barulah siap untuk membangun rumah tangga.”
Aku mangut-mangut di buatnya. Dari percakapan yang singkat dengan ibu tersebut membuatku sedikit tersentak. Beginikah juga yang dirasakan oleh abah dan ummi. Meski mereka diam dan tidak pernah mengatakan secara langsung melarang putrinya untuk dipinang oleh seorang pemuda yang ingin mengambilku dari pelukan keduanya, tapi abah dan ummi pasti ingin melihat putri bungsu yang sangat didambakan meraih angan dan cita terlebih dahulu dalam kemandirian. Hingga aku benar-benar telah siap untuk menjadi navigator pemuda salih dalam bahtera rumah tangga. Segera kuambil HP di dalam tas ku.
Abah, ummi,
Dek Salsa tidak akan menerima pinangan dari pemuda manapun jika abah dan ummi belum tersenyum dalam keridhoan untuk melepaskan adek. Adek bersyukur dilahirkan sebagai putri abah dan ummi.
Beberapa menit kemudian ada sebuah pesan masuk ke HP ku.
Subhanallah nak, abah dan ummi juga bersyukur memiliki amanah gadis shalihah seperti dek salsa.
Air mataku tiba-tiba siap meluncur dan membuat aliran di pipiku. Abah-Ummi, terima kasih. Keridhoamu adalah pelita dalam hidupku.
~oOo~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar