Khitbah
“Ada
yang mengkhitbah kamu lagi dik?” Tanya mbak Afifah teman satu kamar kos
denganku.
Aku
hanya tersenyum kecut sambil mengangguk.
“Siapa
lagi?”
“Anak
Mahad Ibnu Sina mbak. Murid Ustadz Mustafa Hasan.”
“Kamu
terima lamaran beliau dik?” Tanyanya lagi sambil memasukkan baju yang baru saja
selesai diseterika.
“Belum
mbak, kemarin beliaunya baru bertandang ke rumah, ketemu dengan Abah. Seperti
biasa Abah menyerahkan segala keputusan ke tanganku. Meski sebenarnya aku tahu
apa yang Abah rasakan. Abah tak ingin putri satu-satunya terganggu kuliahnya
karena memikirkan lamaran dari pemuda, namun Abah juga ingin melihat putrinya
meraih cita-cintanya terlebih dahulu dan agar bisa fokus. Disisi lain Abah juga
belum rela melepas putrinya untuk seorang pemuda. Dan aku juga tahu mbak kenapa
Abah menyerahkan keputusannya kepadaku karena agar aku mampu menentukan
pilihanku sendiri. Dari dulu Abah tidak pernah mengekang putra putrinya dalam
meraih cita. Itulah kenapa juga aku tidak pernah membantah segala perintah Abah
mbak.” Sambil menghela nafas panjang aku pegang HP erat-erat. Baru saja pemuda
itu mengirimkan pesan singkat kepadaku.
“Dik,
memilih pasangan hidup tidak seperti memilih baju baru. Kita sebagai muslimah
harus benar-benar mampu untuk memilih dan memilah siapa yang akan menjadi imam
kita. Kita pun tentu mengharapkan pernikahan yang terjadi sekali seumur hidup
kita. Jangan sampai ketertarikan kita bertumpu karena panjangnya jenggot yang
dia punya atau celana cingkrang yang ia kenakan. Selain agamanya kita juga
harus mengetahui bagaimana dirinya bukan. Sholatnya bagus, hafalannya lima juz,
tapi dia memiliki aroma tubuh yang kurang sedap, itu juga yang akan
mempengaruhi keharmonian keluarga. Kita memang tidak mengharapkan suatu
kesempurnaan, karena kita juga muslimah yang sangat membutuhkan bimbingan
seorang imam, tapi keikhlasan menerima dari dua orang yang berjanji untuk
mengarungi rumah tangga bersama itulah yang harus kita pertimbangkan, tentunya
semua atas dasar agama kita. Dan satu
lagi, terlalu memilih pun hanya akan menyengsarakan diri kita. Dik, apa
diantara ikhwan-ikhwan itu sudah ada yang kamu rasa cocok?”
Sekali
lagi aku menghela napas panjang kemudian menggeleng. Di tanganku tergengan HP
dan baru saja pemuda tersebut
mengirimkan sebuah sms.
Dik
Salsa, appun kputusan anti
Insya Allah, ana terima dng sng hati
Insya Allah, ana terima dng sng hati
Allah yg lbih brkhendak atas kita
Sudah
beberapa pemuda yang datang menghadap Abah dan mengutarakan maksud untuk
meminangku. Aku tidak kenal dengan pemuda-pemuda tersebut. aku serahkan segala
keputusan pada Abah dan aku pasrahkan takdir pendampingku pada Allah yang maha
tahu yang terbaik tuk hambanya.
Hari
ahad. Saatnya untuk refresh rohani. Duduk bersama dengan orang-orang
yang rindu akan surga illahi. Namun ahad ini aku mendapat jadwal untuk menjadi
presenter silaturahim dengan peserta pengajian putri. Jiwa terasa seperti
tergugah kembali semangatnya tatkala mendengar cerita dari orang-orang yang luar biasa. Mereka bukan
hanya dosen, pegawai, atau yang memiliki pangkat serta gelar, namun justru
beliau adalah orang-orang yang setiap hari bekerja di sawah, dengan bertemankan
matahari dan sudah berusia paruh baya tetapi memiliki ghiroh menuntut ilmu
agama lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemuda-pemuda yang mudah terkena
virus galau.
Selesai
menjalankan tugas sebagai presenter, segera aku menuju kelantai tiga untuk bisa
bersua dengan teman-teman sebaya. Karena di prioritaskan lantai atas sebagai
tempatnya yang masih kuat naik turun tangga. Disampingku duduk seorang Ibu yang
begitu khusyuk mendengarkan tausyiah. Ibu tersebut berusia sekitar 45 tahun.
Namun wajahnya masih nampak begitu cantik. Ditawarilah aku cemilan-cemilan
kecil yang beliau bawa dari rumah. Disela-sela mendengarkan Ibu tersebut mulai
bertanya-tanya tentang diriku. Nama, asal, sekolah dimana, usia. Wah, serasa
intrerogasi.
“Mbak
ini yang penyiar itu kan?”
“Iya
Ibu, saya Salsa.” Jawabku sambil tersenyum.
Berawal
dari situ percakapan kita dimulai. Si Ibu mulai menceritakan tentang dirinya,
tentang keluarganya, anak-anaknya dan tentang saat dulu beliau pertama kali
bertemu dengan suaminya. Yang membuat aku menarik adalah ketika beliau
menyatakan bahwa ia menikah saat menempuh gelar S1 di semester 6.
“Dahulu
ibu itu juga tidak tahu kenapa bisa
tertarik dengan pemuda yang sekarang jadi suami ibu itu. pertemuan pertama
kalipun tidak berkesan sama sekali. Jadi yang namanya anak kos kan memang agak
bebas mbak, apalagi kos yang ibu tempati itu bersebelahan dengan kos cowok. Suami
saya itu orangnya pendiem banget mbak. Dulu itu diantara teman-temannya suami
saya itu yang paling kalem, sampai dia dijuluki si kopyah, gara-gara kemana-mana
pake peci putih. Anak zaman dulu ya juga mengenal pacaran mbak, tapi pacarannya
tidak seperti anak sekarang yang rentengan kemana-mana. Pacaran ibu ma suami
ibu itu dulu melalui pesan yang disampaikan pada temannya. Kemudian temannya
menyampaikan pada teman saya, barulah teman saya menyampaikan kepada saya.”
“Lalu
ibu menikah dengan beliau saat masih kuliah begitu juga langsung direstui orang
tua?” tanyaku semakin penasaran dan tertarik dengan cerita dari ibu tersebut,
“Saat
itu suami ibu langsung datang ke rumah ibu untuk melamar. Kan suami saya itu
seorang yatim piatu mbak. Tinggalnya bersama simbahnya yang sudah tua. Untuk
biaya kuliah dia itu jualan, apapun dia jual. Dari makanan siomai, di kos
menjual sampo dan sabun buat teman-temannya, jadi tukang pengantar donat juga.
Pokoknya apapun katanya, yang penting menghasilkan uang halal dan dengan cara
yang baik.”
“Subhanallah,
suami ibu keren sekali.”
“Nah,
karena itu juga mbak. Ibu itu kagum dengannya. Dan karena melihat kegigihannya
tersebut akhirnya orang tua ibu mengijinkan menikah meski masih kuliah. Saat
itu ibu selesai semester 6 mau ke semester 7 ketika ibu menikah. Ya, tinggalnya
tetap di kos-kosan. Dan untuk biaya bersama ibu kumpulin jatah uang bulanan
dari orang tua untuk keperluan kami bersama.”
“Subhanallah...
Sekarang putra ibu sudah berapa?”
“Alhamdulilah
sekarang ibu punya anak tiga mbak. Yang paling sulung putri sekarang semester 5
di semarang. Yang nomor dua laki-laki kelas 2 SMK dan yang bungsu laki-laki
juga kelas 1 SMP. Tapi ibu mengharapkan anak ibu yang pertama itu tidak nikah
muda, seperti ibunya.”
“Loh,
kenapa bu, wah ibu ini curang..hehe.”
“Ya,
bukan begitu mbak, tapi ibu pengen anak ibu itu sukses mandiri dulu. Setelah
umur dirasa cukup dan cita-cita telah diraih barulah siap untuk membangun rumah
tangga.”
Aku
mangut-mangut di buatnya. Dari percakapan yang singkat dengan ibu tersebut
membuatku sedikit tersentak. Beginikah juga yang dirasakan oleh abah dan ummi.
Meski mereka diam dan tidak pernah mengatakan secara langsung melarang putrinya
untuk dipinang oleh seorang pemuda yang ingin mengambilku dari pelukan
keduanya, tapi abah dan ummi pasti ingin melihat putri bungsu yang sangat
didambakan meraih angan dan cita terlebih dahulu dalam kemandirian. Hingga aku
benar-benar telah siap untuk menjadi navigator pemuda salih dalam bahtera rumah
tangga. Segera kuambil HP di dalam tas ku.
Abah,
ummi,
Dek
Salsa tidak akan menerima pinangan dari pemuda manapun jika abah dan ummi belum
tersenyum dalam keridhoan untuk melepaskan adek. Adek bersyukur dilahirkan
sebagai putri abah dan ummi.
Beberapa
menit kemudian ada sebuah pesan masuk ke HP ku.
Subhanallah
nak, abah dan ummi juga bersyukur memiliki amanah gadis shalihah seperti dek
salsa.
Air
mataku tiba-tiba siap meluncur dan membuat aliran di pipiku. Abah-Ummi, terima
kasih. Keridhoamu adalah pelita dalam hidupku.
~oOo~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar